Dua hari sebelum acara lamaran Dhisa dan Raden. Persiapan untuk acaranya tak banyak karena lamaran kali ini sengaja diadakan tanpa menggunakan Event Organizer, dekorasi, Makeup Artist, dan lainnya. Namun, untuk fotografer tetap menggunakan jasanya, tapi nanti teman Noura yang akan turun tangan karena tentunya Noura akan sibuk menemani dan membantu Dhisa di hari H.
Minggu lalu, ternyata cincin couple yang dipesan oleh Dhisa dan Raden sudah jadi. Lalu keesokan harinya langsung diambil oleh mereka sekalian hunting untuk menambah isian perabotan rumah. Dan sekarang, rumah yang akan mereka tempati itu sudah layak dihuni. Meskipun masih banyak bagian yang kosong, tapi nantinya pasti akan terisi dengan perlahan.
Menjelang lamaran, dua orang itu masih aktif menjalani rutinitas seperti hari-hari biasanya. Bahkan pertemuan terakhir mereka itu Minggu lalu, saat mengambil cincin dan membeli beberapa barang untuk mengisi rumah. Setelah itu, mereka sama-sama belum sempat untuk bertemu kembali.
"Mas Bos, kok masih sibuk kerja, to?" tanya Putra, pegawai bengkel Raden.
"Ya, terus mau ngapain?" jawab Raden.
"Lho, besok lusa jadi lamaran, to, Mas?" tanya Sholeh, pegawai bengkel lainnya.
"Kan masih lusa, daripada kerjaan kalian di sini pada keteteran. Udah, santai aja," jawab Raden.
"Tapi semuanya udah aman, kan, Mas?" tanya Sholeh.
"Insya Allah, aman," jawab Raden.
"Oh iya, Mas. Tadi pagi, waktu Mas Bos pamit antar Mbak Dhisa, itu si Dona orang salon sebelah cari-cari mas ganteng katanya. Ada kali sepuluh menitan nongkrong di sini," ucap Putra terkekeh pelan.
"Hooh, Mas. Tadi sih bilangnya mau nawarin pijat gratis di salonnya. Lumayan tuh, Mas," sahut si Sholeh ikut terkekeh.
Raden hanya berdecak, malas menanggapi.
"Padahal saya juga mau, lho, kalo pijat gratis. Tapi kata si Dona khusus mas ganteng aja. Kita, ya, tetap bayar harga normal, iya, to, Leh?" tanya Putra yang melempar ke Sholeh.
"Heh, pijat sih pijat, tapi ingat pacar juga, Put. Baru semingguan kemarin berantem, udah mau nyari gara-gara lagi?" sambar Sholeh.
Putra hanya meringis.
"Terus waktu saya kasih tau Dona kalo Mas Bos udah punya calon istri, dia langsung berubah sinis, ngga lama langsung pergi, Mas," jelas Putra lagi.
"Bagus, deh, Put. Kalo dia cari saya lagi, panas-panasi aja, ya," ucap Raden yang akhirnya ikut menanggapi.
"Aman, Mas. Untung saya udah kebal ngadepin cewek jadi-jadian kayak Dona," jawab Putra terkekeh pelan.
"Hih, jadi merinding kalo sampai ketempelan Dona," lanjut Raden sedikit bergidik geli.
"Apalagi udah mau nikah gini mending block aja sosmednya, Mas. Paling juga isinya editan galau pakai lagu remix," sahut Sholeh.
Raden hanya menganggukkan kepala dan meringis.
***
"Sa, lo besok cuti aja, kek. Masa H-1 lamaran masih ngantor," ujar Noura.
"Ih, ngapain? Lagian acaranya santai aja, kok, di rumah. Kan, cuma antar keluarga, Ra," jawab Dhisa santai.
"Ya, lo istirahat atau nyalon gitu," usul Noura.
"Ogah, jatah cuti gue mending buat besok setelah nikah aja," jawab Dhisa.
"Emang mau ke mana lo?" tanya Noura.
KAMU SEDANG MEMBACA
BINAR
Fiksi PenggemarDhisa adalah seorang wanita single yang menyukai traveling. Ya, bisa dibilang travelingnya masih yang dekat-dekat aja, sih, di sekitar Pulau Jawa. Dhisa memiliki saudara sepupu yang akrab sejak kecil sampai saat ini, yaitu Noura. Noura ini memiliki...
