Fase-fase menunggu kabar baik untuk mendapatkan buah hati memang membuat perasaan menjadi campur aduk. Satu bulan ini, Dhisa selalu memastikan jadwal bulanannya apakah mundur atau tidak. Namun, rezeki untuk memiliki anak belum juga berpihak padanya setelah satu bulan memutuskan untuk memiliki anak.
"Udah, Sa, gapapa kalau belum dua garis. Kamu tenang aja, ya. Kita masih bisa pacaran berdua, kok," ucap Raden usai melihat hasil test pack yang disodorkan oleh Dhisa setelah sarapan bersama beberapa menit yang lalu.
"Maaf, ya," ucap Dhisa terbata, lalu menubruk tubuh Raden.
"Ngga perlu minta maaf, Sayang. Emang belum waktunya aja." Raden mengelus-elus punggung Dhisa dan mencium keningnya.
"Ternyata kalau ditunggu-tunggu gini berasa banget, ya," ucap Dhisa dengan sendu.
"Udah, pokoknya kamu tetap santai dan tenang, ya. Jangan dibuat stres karena nanti bakalan ngaruh juga, kan?"
Dhisa mengangguk lemah. "Ya udah. Aku mau pasrah sambil berserah aja, ngga mau nunggu-nunggu banget," kata Dhisa.
"Iya, Sayang. Kita puas-puasin dulu berduaannya," sahut Raden.
"Minggu depan staycation aja, yuk," ajak Dhisa yang mengalihkan rasa sedihnya.
"Boleh, tapi soal ini jangan dijadikan beban lagi, ya," jawab Raden.
"Iya, engga." Dhisa mulai menampakkan senyumnya.
"Ya udah, aku mau pergi kerja dulu. Kamu hati-hati di rumah."
"Jangan malam-malam pulangnya," sahut Dhisa.
"Engga, Sayang." Raden kembali mendekap Dhisa sebelum benar-benar meninggalkan istrinya.
"Udah, ya. Nanti kabarin aku kalau ada apa-apa. Assalamualaikum," pamit Raden.
"Iya, wa alaikumsalam."
Selesai dengan drama di pagi hari tak membuat Dhisa bermalas-malasan. Ia masih harus memikirkan pekerjaannya hari ini. Maka dari itu, sebisa mungkin ia mengalihkan rasa sedihnya dengan mencari tontonan yang dapat menghibur suasana hatinya.
Sebenarnya, baru satu bulan ini Dhisa dan Raden fokus menjalankan pola hidup sehat demi mendapat momongan. Namun, Dhisa memang begitu mengharapkan dua garis merah itu segera muncul meskipun jika dilihat dari kalender bulanannya itu belum menunjukkan tanda-tanda terlambatnya datang bulan karena mengingat satu minggu yang lalu ia baru saja selesai dengan masa bulanannya.
Setelah menunggu satu bulan ini, Dhisa memutuskan untuk tak mengharap-harap lagi. Ia cukup lelah karena sudah beberapa kali ia membuang test pack yang tak ada hasilnya itu.
***
Keesokan harinya yang bertepatan dengan hari Jumat, Dhisa dan Raden memutuskan untuk mengunjungi rumah Papa Adi yang tengah kedatangan Mas Dhika beserta istri dan anaknya. Niatnya, mereka juga akan bermalam di sana berhubung sedang kumpul keluarganya.
"Den, mampir ke supermarket dulu, ya. Aku mau beli sesuatu buat Ameera. Soalnya udah lama ngga ketemu keponakanku itu," pinta Dhisa saat Raden mulai melajukan mobilnya di tengah keramaian jalanan di sore hari.
"Iya. Mas Dhika balik ke Surabaya kapan, Sa?" tanya Raden.
"Minggu siang. Besok kita pulangnya habis Mas Dhika sama Mbak Eva berangkat ke Surabaya aja, ya. Gapapa?" sahut Dhisa.
"Iya, ngga masalah, Sa. Terus nanti malam pengajian di rumah uti jam berapa? Habis Isya, kan?"
"Iya, tapi habis ini kita ke rumah papa dulu, ya," jawab Dhisa.
KAMU SEDANG MEMBACA
BINAR
FanfictionDhisa adalah seorang wanita single yang menyukai traveling. Ya, bisa dibilang travelingnya masih yang dekat-dekat aja, sih, di sekitar Pulau Jawa. Dhisa memiliki saudara sepupu yang akrab sejak kecil sampai saat ini, yaitu Noura. Noura ini memiliki...
