61

1.3K 96 26
                                        

Pada trimester pertama kehamilan ini, Dhisa mulai berdaptasi dengan kondisi tubuhnya. Rasa mual yang akhir-akhir ini ia alami sering kali mengganggu harinya. Selain itu, suasana hati yang sulit ditebak malah cenderung sensitif itu juga tak jarang membuat Raden kelimpungan.

Beruntungnya, lambat laun Raden mulai terbiasa menghadapi tingkah Dhisa yang terkadang berubah menjadi sendu, lalu menangis saat melihat sesuatu yang membuat hatinya tersentuh, sikapnya yang lebih manja saat sedang membutuhkan perhatian, dan menjadi kesal dan mudah tersinggung pada hal-hal kecil.

Seperti sore ini, Dhisa yang baru selesai dengan urusan WFH-nya itu mendadak seperti menginginkan sesuatu untuk dinikmatinya saat makan malam nanti. Entah camilan, entah makanan berat. Kemudian, ia mencoba mencari sesuatu pada layar ponselnya.

Ada es teler, sate taichan, nasi goreng, bakso, dan menu lainnya yang ia lihat pada aplikasi layanan pesan antar itu. Namun, ujung-ujungnya tetap tak ada yang menyangkut ke seleranya sehingga Dhisa tak jadi memesan apapun. Suasana hatinya berubah sedikit kacau karena ia juga tak dapat menebak keinginannya.

Raden yang baru lima belas menit menginjakkan kaki di rumah pun menjadi sasaran empuk bagi Dhisa. Sudah beberapa kali ini Dhisa membuat Raden kerepotan atas tingkahnya yang terkadang tak jelas apa maunya. Padahal saat ini usia kandungannya baru berjalan 10 minggu.

"Den, pusing." Dhisa masih duduk dan bersandar di sofa ruang TV sambil menggulir layar ponselnya.

"Masih mual, Sa?" Raden dengan wajah segarnya usai mandi itu berjalan menghampiri Dhisa di ruang TV.

Dhisa menggangguk lemah. Tangan satunya memegang inhaler di dekat lubang hidungnya. "Udah ngga separah minggu lalu, sih. Oh iya, kamu kalau mau makan beli aja, ya. Aku masih belum bisa masak hari ini."

"Kamu mau makan apa? Biar sekalian belinya."

Dhisa menggelengkan kepala. "Aku makan buah yang ada di kulkas aja. Tolong ambilin, ya."

Raden yang baru saja akan duduk di sofa seketika mengurungkan niatnya dan bergegas menuju kulkas untuk mengambil buah apel dan stroberi.

Raden datang dengan tentengannya. "Bentar, apelnya aku kupas sekalian, ya."

"Maaf udah ngerepotin terus," ucap Dhisa menahan tangisnya yang berujung pecah.

Raden menghela nafasnya, lalu meletakkan pisau dan apel pada genggamannya ke atas meja. Ia menggeser posisi duduknya agar lebih dekat dengan Dhisa. "Ngga, Sa." Tangannya bergerak untuk mengelus dan memijat pelan lengan Dhisa.

"Aku udah beberapa minggu ini ngga ngurus kamu, ngga ngurus rumah, belum lagi si Beno. Jangankan kalian, aku ngurus diri sendiri aja rasanya kayak berat, Den," ujar Dhisa sesenggukan.

"Sa, gapapa, aku ngga nuntut kamu harus lakuin itu semua. Lagian selama ini kita juga udah biasa saling bagi tugas, kan? Apalagi semenjak kamu hamil, aku masih sanggup, kok, urus semuanya sendiri walaupun cuma sekadarnya," sahut Raden yang menenangkan istrinya.

"Iya, tapi rasanya aku jadi kayak ngga berguna gini, deh. Emang kamu ngga kesel atau capek apa lihat aku yang cuma rebahan, mondar-mandir kamar mandi, sama malas-malasan doang?" kata Dhisa yang masih sedikit terisak.

Raden membawa Dhisa ke dekapannya. "Sa, jangan mikir gitu, ah. Kan, aku udah sering bilang kalau aku ngga masalah sama semua ini. Kita udah sepakat buat lewati semuanya bareng-bareng, kan?"

"Maaf. Pikiranku lagi kalut."

Raden tak menanggapinya. Namun, ia memberi satu kecupan pada kening Dhisa. Mereka terdiam dan saling menenangkan pikirannya sejenak.

Sementara itu, Dhisa baru menyadari kalau tetesan air matanya tadi sudah membasahi kaos putih yang dikenakan Raden. Namun, sebentar, ada sesuatu yang menarik perhatiannya. "Tadi kamu mandinya pakai sabunku, ya?" Ia malah salah fokus dengan aroma yang tak asing baginya.

BINARTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang