Hari Sabtu ini adalah weekend pertama bagi Dhisa dan Raden setelah sah menjadi sepasang suami-istri. Mereka mengawali kegiatan paginya dengan sarapan bersama. Namun, tak ada acara memasak atau menyiapkan menu sarapan bersama, melainkan Raden membeli soto di dekat rumah. Mereka masih terlalu lelah untuk menyiapkan sarapan sendiri. Belum lagi nanti pukul 11.00 mereka sudah harus meninggalkan rumah untuk menuju ke bandara. Ya, Dhisa dan Raden akan pergi berbulan madu di Bali selama 7 hari.
"Den, kamu udah packing?" tanya Dhisa.
"Belum."
"Udah jam 08.30 ini." Dhisa berlalu ke dapur dengan membawa alat makan yang kotor bekas sarapannya bersama Raden.
"Iya, gampang," sahut Raden.
"Kamu siapin pakaiannya sama keperluannya aja deh. Nanti biar aku yang masukin ke koper," ujar Dhisa sedikit berteriak agar terdengar oleh Raden yang berada di ruang TV.
"Iya."
Pagi-pagi tadi, mereka terbangun sekitar pukul 05.40. Semalam, mereka benar-benar tertidur dengan pulas lantaran energinya yang sudah terkuras untuk acara pernikahannya yang dilaksanakan dari pagi hingga senja. Akan tetapi, hal lumrah yang terjadi di awal pernikahan juga dirasakan oleh Dhisa. Ia bangun dalam keadaan terkejut akibat pagi harinya sudah disambut dengan posisi wajah Raden yang sangat berdekatan di hadapannya. Bahkan Dhisa refleks mendorong pelan dada Raden agar sedikit menjauh.
Pandangan Dhisa langsung menelusuri setiap sudut ruangan yang terlihat remang-remang karena hanya mengandalkan cahaya dari lampu tidur. Setelah kesadarannya mulai terkumpul, ia langsung menghembuskan nafas lega. Tangan kirinya perlahan ia letakkan di pipi Raden yang masih pulas dalam tidurnya. Diusapnya pipi si empunya dengan lembut. Ia masih setengah berpikir, apakah ini mimpi atau tidak.
"Sa." Teriak Raden dari dalam kamar.
Dhisa yang baru selesai mencuci piring langsung mendekat ke asal suara. "Iya, kenapa?" Dhisa datang dari pintu kamar.
"Aku perlu siapin baju berapa, ya?" tanya Raden.
"Terus aku harus bawa apa aja, nih?"
"Emang itu kopernya muat? Kan, barang-barangmu udah banyak."
Dhisa menarik nafasnya dalam-dalam lalu membuangnya. "Ya udah, aku aja yang siapin."
"Beneran?" tanya Raden.
"Iya, tapi jangan protes kalo aku yang pilih outfit-nya," sahut Dhisa.
Raden tersenyum senang. "Gapapa, aku percaya seleramu."
"Dih." Dhisa melirik dengan tatapan agak sewot.
Raden menghampiri istrinya yang masih berdiri di dekat pintu kamar. "Aku ke minimarket bentar, ya."
"Eh, aku titip sekalian, dong," ujar Dhisa.
"Mau titip apa?" tanya Raden.
"Susu kotak rasa cokelat tiga," jawab Dhisa meringis.
"Iya, itu aja?"
Dhisa menganggukkan kepala. "Iya, itu aja cukup. Emang kamu mau cari apa?"
Raden mengusap hidungnya, sikapnya seakan salah tingkah. "Ada, cari sesuatu."
"Ya iya, cari apa?" tanya Dhisa lagi.
Raden berlalu sambil mengedipkan sebelah matanya pada sang istri. "Buat kebutuhan bulan madu, Sayang." Suaranya terdengar pelan, tetapi masih tertangkap oleh telinga Dhisa.
Dhisa membelalakkan bola matanya. "Jangan yang aneh-aneh, ya, Den."
Raden meraih kunci motor sembari melempar senyum dan tingkah tengilnya ke arah sang istri. "Aku pergi dulu, ya. Kamu buruan packing-nya biar nanti ngga ketinggalan kereta bandara."
KAMU SEDANG MEMBACA
BINAR
FanfictionDhisa adalah seorang wanita single yang menyukai traveling. Ya, bisa dibilang travelingnya masih yang dekat-dekat aja, sih, di sekitar Pulau Jawa. Dhisa memiliki saudara sepupu yang akrab sejak kecil sampai saat ini, yaitu Noura. Noura ini memiliki...
