Seperti kondangan pada umumnya, Dhisa dan Raden menghampiri pelaminan untuk bersalaman kepada mempelai pria dan wanita serta memberi ucapan selamat dan pastinya foto bersama untuk dokumentasi. Setelah itu, mereka ikut mengantre di gubuk catering yang tersedia. Dhisa mengantre untuk mengambil siomay, sedangkan di ujung sana Raden mengantre di bagian bakso. Mereka sama-sama membawa dua porsi untuk saling berbagi.
"Eh, enak banget siomaynya," ucap Dhisa pada Raden yang sedang menikmati baksonya.
"Serius? Baksonya standar aja, sih, tapi lumayanlah," kata Raden yang ikut menilai makanannya.
"Nih, coba, deh, enak tau," ucap Dhisa yang menyodorkan sepotong siomay pada Raden. Tanpa pikir panjang, Raden melahap suapan siomay dari Dhisa.
"Lah, iya. Enak," ujar Raden yang menyetujui pendapat Dhisa.
"Iya, kan? Tapi gue penasaran, deh, sama zuppa soup yang itu," kata Dhisa yang menunjuk gubuk yang dimaksud.
Raden mengarahkan pandangannya pada objek yang ditunjuk oleh Dhisa.
"Lo mau ke mana, Den?" tanya Dhisa yang melihat Raden berdiri dari duduknya.
"Ambil zuppa soup," jawab Raden sambil berlalu.
Dhisa tak pikir panjang dan melanjutkan makannya. Ia beralih untuk melahap bakso yang Raden bawakan untuknya tadi. Benar kata Raden, baksonya standar saja. Tapi Dhisa tetap menikmati baksonya sembari menikmati alunan musik yang dinyanyikan oleh wedding singer di sana. Penyanyi itu sedang melantunkan lagu Dia dari Maliq & D'essentials.
"Ini, Sa," ucap Raden yang mengulurkan seporsi zuppa soup pada Dhisa.
Dhisa mendongakkan kepalanya kemudian menerima pemberian Raden. "Makasih, Raden. Punya lo mana?" Dhisa tampak memperhatikan tangan Raden yang hanya membawa satu porsi.
"Gue ngga suka. Oh iya, siomay gue tadi mana, Sa?" tanya Raden. Dhisa memberikan seporsi siomay yang ia letakkan di kursi sebelahnya pada Raden.
"Lo mau ambil makanan lagi ngga, Den?" tanya Dhisa pada Raden yang masih menikmati suapan terakhir siomaynya.
"Kenapa? Lo pengen apa lagi?" tanya Raden balik.
"Gue mau ambil es krim aja, udah kenyang, nih, cuma butuh dessert doang. Lo mau nitip?" tanya Dhisa.
"Biar gue aja, Sa," singkat Raden yang langsung berdiri dan berjalan menjauh dari Dhisa dan meninggalkan bakso yang tersisa satu suap lagi.
Tak lama, Raden kembali dengan membawa seporsi lontong sate dan es krim. Lalu ia memberikan es krim itu untuk Dhisa. Akhirnya, usai menikmati hidangan yang tersedia, mereka memutuskan pamit kepada pengantin. Kurang lebih hanya 30 menit saja kehadiran mereka di acara resepsi itu.
***
Pukul 10.40, mereka mulai melanjutkan perjalanannya. Perjalanan dari lokasi resepsi sampai ke Omah Latareombo memerlukan waktu kurang lebih 45 menit. Tetapi sejak sepuluh menit perjalanan itu berlangsung, Dhisa sudah tertidur dengan posisi kepala miring yang disandarkan pada kaca jendela mobil. Sedangkan Raden tetap fokus pada jalanan di depan sana.
Dhisa masih terlelap, sementara jalanan yang dilalui mulai menanjak, suhu pun mulai menurun, pada sisi kanan-kirinya terdapat lahan yang ditanami dengan sayuran, juga tampak pemandangan gunung yang terlihat semakin dekat.
"Sa," panggil Raden dengan pelan. Namun, tak mendapat jawaban.
"Sa," panggilnya sekali lagi. Ia mencoba menepuk pelan tangan Dhisa untuk menyadarkannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
BINAR
FanfictionDhisa adalah seorang wanita single yang menyukai traveling. Ya, bisa dibilang travelingnya masih yang dekat-dekat aja, sih, di sekitar Pulau Jawa. Dhisa memiliki saudara sepupu yang akrab sejak kecil sampai saat ini, yaitu Noura. Noura ini memiliki...
