51

1.2K 99 10
                                        

Senin pun tiba, Dhisa dan Raden kembali disibukkan dengan pekerjaannya masing-masing yang sudah ditinggalkan beberapa waktu terakhir. Pagi-pagi mereka sudah sama-sama terlihat rapi dengan pakaian kerjanya. Keduanya menyempatkan sarapan bersama meskipun hanya dengan menu ala kadarnya. Dhisa menyiapkan nasi goreng hasil tangannya sendiri dengan mengandalkan resep sederhana dari internet. 

"Enak ngga?" tanya Dhisa waswas.

Raden baru saja melahap nasi gorengnya. "Enak. Keren banget kamu."

"Masa, sih?" Dhisa masih tak yakin.

"Hmm. Minyaknya kebanyakan dikit, tapi gapapa tetap enak, kok," jawab Raden yang berusaha meyakinkan si istri.

"Ok, besok aku kurangin. Makasih, ya," ucap Dhisa.

Raden mengangguk. "Kamu pulang jam berapa nanti?"

"Jam empat kalo ngga ngaret," sahut Dhisa.

"Ya udah, kunci rumahnya jangan lupa dibawa, ya. Aku udah bawa cadangannya, kok," ujar Raden.

"Kamu pulang agak malam emangnya?" tanya Dhisa.

"Jaga-jaga aja kalo kamu sampai rumah duluan."

Dhisa mengangguk paham. "By the way, aku diajakin arisan sama Nindi bareng ibu-ibu sini. Menurut kamu gimana?" tanya Dhisa.

"Emang harus? Kamu ada waktunya?" tanya Raden.

"Kalo aku aman aja, sih. Lagian sebulan sekali tiap minggu kedua. Anggap aja sekalian bersosialisasi sama orang-orang sini juga," jawab Dhisa.

"Arisannya di mana? Terus iurannya berapa?" tanya Raden lagi.

"Keliling sesuai yang dapat giliran. Bayarnya 30.000, cuma buat kegiatan kumpulan rutin ibu-ibu sini aja katanya. Terus yang ikutan hampir 30 orang," jelas Dhisa.

"Hari Minggu, ya? Jam berapa? Emang ngga ganggu quality time kita?" Lagi-lagi Raden bertanya. Kali ini, ia merasa bimbang.

"Apa, sih? Ya, enggalah. Arisan cuma sebentar, kok. Dari jam 10 pagi sampai jam 11 doang paling."

Raden mendengus pasrah. "Mulai kapan?"

"Masih dua minggu lagi."

"Ya udah, tapi jangan kelamaan kalo mau nimbrung gosip selesai arisan," pesan Raden.

Dhisa meringis. "Iya, iya. Tau aja."

Raden sudah menghabiskan sarapannya, lalu meminum segelas air putih yang sudah disiapkan Dhisa. "Udah hampir jam delapan, aku pergi duluan, ya." Raden berjalan ke arah wastafel untuk mencuci tangan dan bercermin sejenak.

Dhisa membereskan piring kotor Raden karena ia hanya sarapan dengan selembar roti tawar dan selai kacang saja. Ia sedang tak ingin sarapan yang terlalu berat pagi ini. Tadinya ia menginginkan buah potong, tetapi ia lupa kalau belum membeli stok buah.

Raden menyusul Dhisa yang masih sibuk di area kitchen sink, lalu ia mengecup singkat pipi istrinya. "Berangkat dulu, ya." 

Dhisa segera menyelesaikan kegiatannya, lantas membalikkan badannya untuk berhadapan dengan Raden. "Semoga kerjaannya lancar. Jangan lupa kabarin kalo lagi ada waktu luang. Hati-hati di jalan, ya."

"Iya, kamu juga hati-hati. Semangat, ya, Sayang." Raden kembali mengecup hampir seluruh wajah Dhisa yang sudah dirias itu. Sepertinya Dhisa harus membiasakan diri dengan rutinitas paginya ini.

Dhisa mengulurkan tangan kanannya, tapi pergerakannya itu malah mendapat tatapan bingung dari Raden. "Salim dulu."

Raden tersenyum merekah, lantas menerima uluran tangan Dhisa. Ia masih merasa aneh karena terakhir Dhisa mencium punggung tangannya saat di acara pernikahan. Setelah bersalaman, Raden mendekap tubuh Dhisa hampir satu menit kira-kira. 

BINARTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang