Dhisa terbangun dari tidurnya dengan suasana hati yang cukup kesal. Bukan hal yang tak biasa, ia tahu sekali siapa dalang yang mengusik tidurnya. Siapa lagi kalau bukan suaminya yang tengah membereskan kamar tidur dan menyebabkan bunyi-bunyian gaduh seisi ruangan itu.
"Bisa santai aja ngga beres-beresnya?" protes Dhisa dengan suara seraknya.
"Eh, kebangun, ya? Pagi, Sayang..." sahut Raden dengan wajah tengilnya tanpa rasa bersalah.
"Pelan-pelan bisa, kan? Kepalaku pusing dengar suara barang-barang yang kamu geser sama pindah-pindahin," ujar Dhisa sembari membenarkan posisi selimut dan gulingnya.
Raden membersihkan kedua tangannya, lalu menghampiri Dhisa di atas ranjang. "Iya, maaf ganggu. Masih ngantuk, ya? Udah jam tujuh, nih."
Dhisa hanya mengangguk pelan dengan mata yang sudah kembali terpejam juga tangannya yang memeluk guling.
Raden mengecup wajah Dhisa. "Aku udah masak. Nanti kita makan bareng, ya, kalau udah puas tidurnya."
"Iya, nanti," gumam Dhisa.
"Adik ada request makanan ngga? Kalau ada, kasih tahu baik-baik ke ibu, ya, Sayang." Tangan Raden mengelus-elus perut Dhisa dari balik selimut.
Raden kembali menghujani kecupan di wajah Dhisa hingga membuat istrinya merasa terusik lagi. "Den, udah. Aku masih ngantuk."
Laki-laki itu tersenyum puas. "Aku lanjut beres-beres dulu, ya. Satu jam lagi kamu harus bangun."
"Hmm," gumam Dhisa.
Raden kembali melanjutkan beberes kamar, ruang TV, serta dapur, sedangkan Dhisa kembali melanjutkan tidurnya. Akhir pekan kali ini membuat Dhisa ingin menikmati waktunya dengan bermalas-malasan saja. Untungnya, Raden tak keberatan dengan permintaan istrinya yang sudah dibicarakan sedari kemarin.
Pukul 08.10, Dhisa keluar dari kamar dan langsung menyapa Beno di kandangnya yang sengaja tak dikeluarkan oleh sang pemilik. Setelah puas bermain sebentar dengan Beno, ia bergegas menengok meja makan yang sudah tertata masakan sederhana buatan suaminya.
Ada sayuran dan udang yang ditumis bersamaan, lalu ada lauk tempe dan tahu goreng yang tak pernah ketinggalan. Tak lama duduk di ruang makan, aroma wangi sabun seketika ikut memenuhi area sekitar dapur. Raden yang baru saja selesai mandi itu langsung bergabung dengan Dhisa di sana.
"Ngga mual, kan, lihat masakanku?" tanya Raden.
"Ngga lah. Makasih, ya," jawab Dhisa sembari mengulurkan piring pada Raden.
Setelah menyiapkan porsi sarapan untuk dirinya, Raden juga menuangkan satu centong nasi, sayuran beserta lauknya untuk Dhisa. Mereka menikmati sarapan bersama sembari berbincang ringan. Momen seperti ini sering mereka lakukan untuk menikmati waktu berdua sebelum beraktivitas.
Usai menandaskan makanannya, Raden meminum segelas air. Setelah itu, gelagatnya mulai terlihat aneh. Ia menggosok kedua telapak tangannya dengan gelisah. "Sa, aku ngomong."
"Kenapa? Tinggal ngomong," sahut Dhisa.
"Jadi gini—eh, aku ngga enak bilangnya," kata Raden ragu-ragu.
Dhisa mengerutkan keningnya. "Ada apa, Den?"
"Anu, a—aku mau ganti motor," ucap Raden.
Dhisa membelalak lebar, lalu menyingkirkan piring yang telah kosong dari hadapannya. "Buat apa? Motornya masih bagus, kan?"
"Iya, tapi pengen ganti aja, udah bosan soalnya." Raden mengusap tengkuk lehernya dengan cengar-cengir.
"Astaga. Banyak bersyukur, Den. Masih ngerasa kurang punya motor kayak gitu? Mau cari apa lagi, sih?" Dhisa meminum seteguk air putih berharap meredakan gejolak emosinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
BINAR
Fiksi PenggemarDhisa adalah seorang wanita single yang menyukai traveling. Ya, bisa dibilang travelingnya masih yang dekat-dekat aja, sih, di sekitar Pulau Jawa. Dhisa memiliki saudara sepupu yang akrab sejak kecil sampai saat ini, yaitu Noura. Noura ini memiliki...
