Setelah mengucap janji suci, Raden sudah memegang tanggung jawab atas jiwa raga Dhisa serta nafkah lahir batinnya. Betapa bersyukurnya Raden yang sudah dipertemukan dengan Dhisa melalui Oman dan Noura. Kalau saja saat itu ia tak menerima ajakan Oman untuk ikut menongkrong di kafe mungkin sampai detik ini dirinya masih fokus dengan pekerjaan dan kesendiriannya saja. Tapi yang namanya jodoh pasti akan bertemu juga bagaimanapun rintangannya.
Di saat waktu jeda menuju acara resepsi, Dhisa dan Raden sibuk berkenalan dengan keluarga besar keduanya yang baru pertama kali berjumpa akibat berada di perantauan. Dhisa dan Raden sama-sama mendapat doa dan pujian dari keluarga besar yang tengah berkumpul. Pasangan suami-istri baru ini merasa senang karena kehadirannya seakan disambut dengan suka cita.
Pukul 13.15, Dhisa kembali persiapan untuk ke rangkaian acara selanjutnya, yaitu resepsi. Dhisa sudah duduk kembali di depan meja rias, sedangkan Raden ikut menemani Dhisa di sisinya. Tangannya saling menggenggam seakan-akan habis ketumpahan lem satu liter. Tak jarang punggung tangan Dhisa dikecup oleh Raden. Orang tua mereka yang melihat tingkah anak-anaknya itu hanya tersenyum maklum dan melempar gurauan.
"Mas, mukamu belum dikasih bedak lagi, kok, udah cerah aja," celetuk Gendhis.
"Masa, sih?" tanya Raden.
"Iya, aku juga sempat pangling waktu habis akad tadi," ujar Dhisa.
"Loh, iya, Mbak? Apa karena akhir-akhir ini tak suruh pakai sheet mask terus, ya?"
"Lho, itu namanya aura pengantin, Nduk," sambar Mama Arum.
"Halah, pakai aura-aura segala," sahut Gendhis.
Raden kembali mengendus punggung tangan Dhisa. "Berarti beneran berhasil bikin pangling, dong." Ia tersenyum bangga.
"Tuh, kan, emang ada baiknya kalo nurut sama orang tua," ujar Gendhis.
Anehnya, per hari ini Raden tak banyak bicara seperti sebelum-sebelumnya. Suasana hati dan tingkahnya bagai orang yang baru merasakan kasmaran.
Mereka kembali sibuk bersiap-siap diri. Sementara itu, Dhisa mulai dirias lagi dan Raden dengan senang hati menemani Dhisa di sana. Tak lama, Mbak Eva masuk ke dalam ruang rias pengantin.
"Mbak Eva, Ameera masih tidur?" tanya Dhisa.
"Engga, kok. Itu lagi sama Mas Dhika," jawab Mbak Eva.
"Yah, padahal mau gendong. Aku belum sempat pegang Ameera hari ini."
"Sebentar, ya, aku panggil Mas Dhika dulu," ujar Mbak Eva. Lalu Mbak Eva beranjak pergi menyusul suami dan anaknya.
"Kamu jangan lama-lama sama Ameera. Kasihan nanti dia ngga nyaman kalau sambil temani kamu make up," tanya Raden yang masih setia di sisinya.
"Iya, iya."
Mas Dhika dan Mbak Eva datang dengan menggendong anak bayi yang baru menginjak 2 bulan. Dhisa langsung meraih Ameera dari tangan Mbak Eva.
"Aduh. Akhirnya, ketemu sama si bayi," ujar Dhisa sumringah.
"Tantenya udah kangen itu, Dek," ucap Mbak Eva.
Sementara itu, para lelaki ikut sibuk berbincang berdua.
"Bisalah habis ini, Den," ujar Mas Dhika.
Raden tersenyum canggung mengusap tengkuk lehernya dengan tangan sebelahnya yang menganggur. "Kalo orangnya mau, sih, gapapa, Mas."
"Loh, emang dia ngga mau? Oh, atau kalian ada rencana nunda?" tanya Mas Dhika pada Raden.
"Iya gitu, Mas."
KAMU SEDANG MEMBACA
BINAR
FanfictionDhisa adalah seorang wanita single yang menyukai traveling. Ya, bisa dibilang travelingnya masih yang dekat-dekat aja, sih, di sekitar Pulau Jawa. Dhisa memiliki saudara sepupu yang akrab sejak kecil sampai saat ini, yaitu Noura. Noura ini memiliki...
