Sabtu pagi, Dhisa dan Raden mengunjungi rumah Ayah Wira karena hari ini Raden akan pulang malam kembali. Dhisa pun memilih untuk bermalam di rumah sang mertua karena Mama Arum mengajaknya berpergian untuk menemani akhir pekan bersama.
"Kalau nanti ada acara dadakan tetap kabarin, ya. Jangan kayak waktu itu," ucap Dhisa saat berpamitan dengan Raden.
"Iya, Sa. Kalau ada apa-apa kabarin aku juga. Oh iya, nanti jadi pergi bareng mama sama Gendhis?" tanya Raden.
"Iya, nanti siang mama ajak pergi spa massage kayak waktu itu. Gapapa, kan?"
"Gapapa, Sa. Ya udah, aku berangkat dulu," pamit Raden.
"Hati-hati, ya." Dhisa mencium punggung tangan Raden, lalu suaminya membalas dengan memberi kecupan singkat di kening Dhisa.
"Bye, Sayang."
Setelah kepergian Raden di sana, Dhisa beranjak ke dalam rumah untuk membantu Mama Arum yang tengah membuat kue tradisional, yaitu nagasari.
"Mbak, nanti bantu bungkusin pakai daun pisang, ya," ujar Mama Arum.
"Iya, Ma, tapi kalau ngga rapi gapapa?" jawab Dhisa yang meringis malu.
"Gapapa, yang penting rasanya," kata Mama Arum.
"Udah pasti enak, sih, Ma."
Mama Arum tersenyum. "Bisa aja, Mbak. Oh iya, Gendhis ajak ke sini aja biar cepat selesai. Nanti siang, kan, kita mau jalan," perintah Mama Arum.
"Iya, sebentar, Ma," jawab Dhisa yang langsung bergegas memanggil Gendhis di kamarnya.
Selesai membungkus nagasari buatan Mama Arum, Dhisa dan Gendhis tak sabar untuk menyicipi nagasari yang baru saja diangkat dari panci kukusan. Dengan cepat, mereka mengambil satu-satu untuk disantapnya.
"Enak banget, Ma. Mama emang suka masak-masak, ya?" Dhisa menggigit kecil-kecil kue nagasari yang masih panas itu.
"Kalau lagi pengen aja, Mbak. Ini karena lagi pada kumpul aja jadinya Mama iseng bikin nagasari," jawab Mama Arum yang masih berdiri di depan kompor.
"Kalau bikin klepon bisa ngga, Ma?" tanya Dhisa.
"Bisa. Kapan-kapan kita masak-masak lagi, ya," jawab Mama Arum.
"Ok, Ma."
"Bikin onde-onde juga, ya, Ma," sambar Gendhis.
"Iya, satu-satu dulu buatnya," sahut Mama Arum.
Dhisa dan Gendhis terkekeh melihat Mama Arum yang kewalahan menuruti permintaan anak dan menantunya.
Pukul 11.00, selesai membereskan kekacauan di dapur, Dhisa bergegas menuju kamar tidur Raden yang berada di lantai dua untuk bebersih diri sekalian siap-siap untuk pergi. Tak lama, adzan Dhuhur berkumandang, lalu ia lanjut menunaikan kewajibannya terlebih dahulu.
Namun, setelah sholat dan mengganti pakaiannya yang lebih rapi, Dhisa merasakan gejolak tak enak dari dalam tubuhnya. Entah apakah asal muasalnya dari perut, lambung, atau kerongkongan, yang jelas rasanya sangat tak nyaman.
Dhisa berjalan cepat menuju kamar mandi yang berada di luar kamar. Rasanya mual dan ingin memuntahkan sesuatu, tapi ada yang tertahan. Jelas hal ini membuat Dhisa beberapa kali mencoba untuk mengeluarkan sesuatu yang terasa mengganjal itu. Namun, terap saja hasilnya nihil. Justru energinya mulai terkuras dan menjadi lemas.
Keluar dari kamar mandi, Dhisa terkejut saat melihat Mama Arum yang sudah berada di depan pintu kamarnya. Lantas ia tersenyum canggung dan menjadi sedikit malu karena ia merasa suaranya terdengar sampai lantai bawah.
KAMU SEDANG MEMBACA
BINAR
FanfictionDhisa adalah seorang wanita single yang menyukai traveling. Ya, bisa dibilang travelingnya masih yang dekat-dekat aja, sih, di sekitar Pulau Jawa. Dhisa memiliki saudara sepupu yang akrab sejak kecil sampai saat ini, yaitu Noura. Noura ini memiliki...
