Sejak sang fajar menampakkan diri, rintikan hujan mulai membasahi atap dan tanah. Hujan di akhir pekan memang sangat menguji diri untuk melawan rasa malas. Bukan tak mau berkegiatan, tetapi udara dingin dan suara gemericik hujan sungguh membuat tenang dan nyaman untuk berdiam diri.
Di sofa bed ruang TV, Dhisa terbaring nyaman dengan kepalanya yang ditumpu oleh paha suaminya, sedangkan si bayi baru saja terlelap setelah mandi dan diberi ASI. Di saat-saat seperti inilah mereka bisa mencuri waktu untuk berduaan.
"Kamu tau ngga, sih?" Dhisa sedikit mendongak mengarah pada wajah Raden.
Raden yang semula fokus pada layar TV mulai menundukkan kepalanya dan pandangannya pun teralih pada Dhisa, teman hidupnya. "Ngga. Apa?"
"Aku sayang banget sama kamu." Dhisa menyunggingkan senyum tipis.
Raden membalas dengan senyum singkat. "Iya, tau."
"Tapi ada satu lagi. Kamu tau ngga?"
Raden menggeleng sambil mengedikan bahu.
"Waktu itu habis imunisasi Dru, aku lihat mantanmu yang pernah kamu kasih tau." Dhisa masih menyunggingkan senyumnya.
"Terus?"
"Ternyata dia juga lihat ke arah kita, tapi cuma aku senyumin aja dari jauh. Untung pas itu kamu lagi kerepotan gendong Dru," jelas Dhisa.
"Ya udah, berarti aman, kan? Oke, mending skip aja," timpal Raden.
Dhisa menurut dengan tak menanggapi lagi untuk mencukupkan pembahasan itu. Ia pun beralih memainkan kuku-kuku tangannya. "Hmm, aku mau nanya, deh."
Raden menarik napasnya perlahan. "Ngga, Sayang. Ngga ada orang lain di hatiku selain kamu. Selamanya cuma kamu. Pokoknya di muka bumi ini cuma kamu yang paling segalanya buat aku. Paham, kan?"
Dhisa membisu sejenak, lalu ia tertawa geli. "Apa, sih? Orang mau nanya beneran."
Raden menaikkan alisnya sebelah. "Apa?"
"Kalau aku ikut mama sama papa datang ke kondangan saudara di Madiun boleh, ngga? Paling nginep semalam doang," ujar Dhisa.
"Kapan?"
"Kamis sampai Jumat."
"Lah, kerjaanku gimana? Aku lagi ngga bisa di hari-hari itu."
"Ya, tinggal ngga usah ikut."
"Jadi, kita bakal LDR?" tanya Raden.
"Sehari doang. Teknologi sekarang juga udah canggih, kok," jawab Dhisa.
"Terus hiburanku apa, dong, kalau semalaman ngga ada kamu sama Dru?"
"Kan, bisa main futsal, main PS, atau apa gitu."
"Tetap aja hampa."
Dhisa mengangkat kepalanya, lalu ia sandarkan di dada sang suami. "Yang nikah sepupu jauh, tapi udah kenal dekat. Ya, sekalian jalan-jalan juga, sih." Ia meringis lebar.
Raden mengelus lengan Dhisa. "Anak kita gimana?"
"Aku usahain biar nyaman terus dianya," sahut Dhisa.
"Terus kamu gimana kalau ngga ada aku?" tanya Raden.
"Aman. Ada mama sama papa, kok," jawab Dhisa penuh keyakinan.
Raden menghela napasnya pasrah. "Ya udah, aku titip salam aja buat saudara yang ada di sana."
"Beneran? Makasih, Sayang. Nanti kamu boleh telepon aku sehari tiga kali." Dhisa mengecup singkat pipi kanan Raden.
KAMU SEDANG MEMBACA
BINAR
FanfictionDhisa adalah seorang wanita single yang menyukai traveling. Ya, bisa dibilang travelingnya masih yang dekat-dekat aja, sih, di sekitar Pulau Jawa. Dhisa memiliki saudara sepupu yang akrab sejak kecil sampai saat ini, yaitu Noura. Noura ini memiliki...
