75 (Selesai)

1.3K 84 12
                                        

Air muka haru dan senyum yang mengembang terpancar dari raut Dhisa. Di ujung ruang tengah sana, seorang anak kecil tengah melangkahkan kaki dengan terseok-seok. Tiga langkah awal, anak itu terjatuh, lalu bangkit kembali hingga langkahnya semakin bertambah. Tak ada raut sedih, yang ada malah anak itu menunjukkan rasa antusias.

Sementara, Raden sibuk dengan kamera ponselnya untuk merekam momen yang tak disangka itu. Sesekali ia menyemangati si anak tiap pergerakannya mulai menunjukkan keraguan.

Langkah kecil anak laki-laki itu semakin dekat dengan sang ibu. Bukannya melamban justru ia menambah kecepatannya hingga membuat Dhisa terlonjak.

"Pelan—"

Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Dru sudah jatuh tepat ke pelukan ibunya. Hembusan napas kasar Dhisa membuatnya tersenyum lega. Ada rasa haru dan bangga yang menyelimuti hatinya.

Setelah mendapat omongan dari beberapa orang karena fase perkembangan anaknya sedikit terlambat akibat di usianya yang tepat menginjak satu tahun belum bisa berjalan dengan mandiri itu sempat membuat pikirannya terganggu. Oleh itu, ia pun mulai bertanya pada orang tua dan beberapa rekan yang sudah berpengalaman merawat anak. Untungnya, ia mendapat respons yang baik hingga tak perlu berlarut-larut.

"Pintarnya anak Ibu."

"Bi... Bu..." Si anak meringis sambil menepuk kedua tangannya.

Raden mendekatkan wajahnya pada Dru, lalu mengecup dua kali di pipi. "Coba jalan lagi, Nak."

Dru kembali bangkit seolah mengerti atas perintah sang ayah. Melangkah dengan perlahan, tapi pasti. Pada langkah ketiga anak berusia 14 bulan itu merengkuh Raden, lalu yang dengan refleksnya, Raden langsung menyambut sang anak.

"Ayah." Senyum menggemaskan itu terukir.

Raden tertawa kecil. "Mau biskuit?"

Si anak mengangguk semangat. "Mawu..."

Menunggu sang ayah mengambil biskuit, Dru mengalihkan pandangnya pada sang ibu, lalu merangkak dengan cepat menuju ke pangkuannya. 

"Sayang, nanti jemput mama sama ayah dulu, ya," kata Dhisa melengking.

"Loh, jadi ikut?" Raden bertanya seraya jalan mendekat.

"Jadi, tapi maunya pergi bareng kita." Baru hitungan detik bersentuhan, Dhisa harus melepas dekapannya pada Dru akibat gerakannya yang sedikit meronta. 

"Oke. Mama sama papa gimana? Jemput juga?" tanya Raden.

"Enggalah. Justru mereka perginya duluan daripada kita. Semangat banget, tuh, mama. Ya, walaupun cuma keponakannya, tapi, kan, udah dianggap anak kandung juga."

Raden mengangguk. Ia mengulurkan potongan biskuit pada Dru yang kemudian langsung disambut dengan senang hati oleh si anak.

"Bilang apa, Nak?" tanya Dhisa.

"Acih, Ayah..." kata Dru lirih.

Dhisa tersenyum tipis, lalu mengusap lembut rambut tipis Dru. 

"Sama-sama, Sayang," jawab Raden.

Sementara Dru sedang menikmati biskuitnya, Raden mengambil posisi duduk di sebelah sang istri.

"Kemarin, ayah habis kontrol lagi," ujar Raden.

"Gimana hasilnya? Membaik, kan?" jawab Dhisa dengan tanya.

Raden mengangguk. Matanya sedikit sayu meski ujung bibirnya tertarik melebar.

"Bakal balik sehat lagi, kok. Kan, setelah opname dua minggu lalu, kata dokter udah membaik kesehatan paru-parunya. Terakhir ketemu juga Ayah mulai kelihatan segar lagi." Dhisa mengelus lengan Raden untuk menenangkan.

BINARTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang