Silau sinar mentari yang muncul dari sela-sela gorden membuat Raden mengejapkan matanya. Ia terbangun dari tidurnya dan seketika merasakan sesuatu yang berat sedang menimpa tubuhnya. Ia tak kaget saat mengetahui kalau sumbernya berasal dari tangan serta kaki sang istri yang tergeletak secara asal di atas tubuhnya.
Raden mengernyit pasrah saat pandangannya mulai bergeser pada seseorang di sisinya. Terlihat gaya tidur sang istri yang cukup memprihatinkan. Satu kaki dan satu tangannya seolah-olah sedang memeluk guling, lalu tangan satunya dibiarkan tergeletak di dekat wajah Raden. Bahkan daster yang dikenakannya juga sudah compang-camping. Untungnya, rambut yang tergerai itu masih tergolong aman untuk dilihat.
"Sa."
"Bangun."
Raden menyingkirkan satu tangan yang menutupi sebagian wajahnya. "Udah siang, Sa."
"Iya, bentar lagi," jawab Dhisa pada akhirnya.
Raden baru menyadari kalau selimut yang mereka kenakan itu sudah lenyap dari tubuhnya. Ia sedikit mendongak, tepat sesuai dugaan, selimut dan satu guling sudah terhempas ke lantai. Betapa awut-awutan kondisi kamar itu di matanya.
"Udah jam dua belas," ujar Raden setelah melihat ke arah jam dinding kamarnya.
"Masih capek," sahut Dhisa lemah.
Tiba-tiba perutnya mulai berbunyi. Lagi-lagi Raden baru ingat kalau tadi sehabis Subuh, ia baru sempat memakan roti dan selai kacang. Bukan tak ada makanan lain atau tak membeli sarapan melainkan tadi pagi, mendadak Dhisa terlihat menggairahkan di matanya. Sudah memasuki kehamilan yang keenam bulan ini Raden berpuasa dan menahan segala ketakutannya. Namun, entah mengapa yang kali ini hasratnya tak dapat terbendung lagi.
"Mau makan siang pakai apa?"
"Terserah."
"Aku mau pesan makan, kamu gantian peluk guling dulu sana," ujar Raden.
"Ngga. Mau gini aja," sahut Dhisa.
"Kamu mau kita kelaparan seharian?" kata Raden.
"Jangan berisik dulu," timpal Dhisa.
"Oman sama Noura mau ke sini. Kamu lupa?" tanya Raden.
Dhisa masih betah dengan rasa kantuknya. "Ya udah, belum datang juga orangnya."
"Capek banget, ya?" tanya Raden.
"Capek dan ngantuk. Daripada ngomong terus mending kamu pijat punggungku aja," jawab Dhisa.
Raden baru saja ingin mengubah posisinya menjadi duduk, tapi keburu ditahan oleh dekapan istrinya yang semakin erat.
"Tapi jangan banyak gerak dulu, mau kayak gini yang lama," ucap Dhisa.
Raden semakin dibuat heran dengan tingkah istrinya. "Ini beneran kamu atau bawaan anak, sih?"
"Pertanyaan aneh." Dhisa semakin menenggelamkan kepalanya pada ketiak Raden.
"Oke, 30 menit lagi," pasrah Raden.
Raden mengelus punggung Dhisa dengan satu tangan tanpa berniat mengubah posisi tidur lagi. Kini, ia paham jika istrinya sedang ingin bermanja-manja dengan dirinya. Rasa senang pun seketika menyelimutinya meski harus menahan rasa lapar lebih lama.
Tak sampai 30 menit, suara bel berbunyi. Tak hanya itu, dering ponsel juga ikut terdengar nyaring. Raden yang malah ikut terlelap bersama Dhisa seketika terhenyak. Untung saja Dhisa sudah tak mengurung dirinya, lantas ia menuju cermin dan merapikan penampilannya sejenak sebelum bertemu dengan tamunya.
"Lama banget buka pintunya," pekik Oman setelah Raden mempersilakan masuk.
"Bangun tidur gue. Lo juga bertamu siang-siang banget," sahut Raden.
KAMU SEDANG MEMBACA
BINAR
FanfictionDhisa adalah seorang wanita single yang menyukai traveling. Ya, bisa dibilang travelingnya masih yang dekat-dekat aja, sih, di sekitar Pulau Jawa. Dhisa memiliki saudara sepupu yang akrab sejak kecil sampai saat ini, yaitu Noura. Noura ini memiliki...
