Setelah pertemuan Dhisa dengan keluarga Raden beberapa hari lalu, ternyata membuat hubungan Dhisa dengan Gendhis semakin akrab. Beberapa kali adik dari Raden itu mengirim pesan pada Dhisa yang isinya berupa basa-basi dan percakapan receh lainnya. Tak hanya itu, Gendhis juga pernah sekali waktu melakukan panggilan video dengan Dhisa. Gendhis terlihat antusias karena akhirnya merasakan adanya seorang kakak perempuan yang selama ini diidam-idamkan.
Hubungan Raden dan Dhisa pun bisa dibilang mulai di fase manis-manisnya. Entah apa hubungan jelasnya, yang penting mereka sama-sama tahu tentang perasaan masing-masing dan akan dibawa ke mana nantinya. Bahkan mereka sudah tak ingin muluk-muluk dalam menjalin hubungan, asalkan keduanya tetap teguh dalam berkomitmen untuk saling mengerti dan menjaga batasan. Memang agak lain, apalagi tanpa disadari jiwa serta isi kepala mereka sudah saling terkoneksi.
"Mbak, weekend main, yuk," ajak Gendhis melalui sambungan telepon.
"Boleh. Mau ke mana, Ndhis?" tanya Dhisa.
"Aku pengen ke pantai. Tapi jangan ajak Mas Raden, please," ucap Gendhis memohon.
"Loh, kenapa?" tanya Dhisa.
"Ngga seru, pasti dia nyari tempat buat neduh sambil tiduran doang. Kalau ngga gitu, ya, paling dia cuma duduk-duduk sambil ngopi. Pokoknya bapak-bapak banget, Mbak," keluh Gendhis dan dibalas Dhisa dengan tawanya.
"Mau, ya? Tenang aja, besok aku samperin ke rumah Mbak Dhisa," bujuk Gendhis.
"Ok," Dhisa menyetujui.
***
"Mau ke mana, Nduk? Kok pagi-pagi udah mandi? Ini hari libur, kan?" tanya Mama Arum tampak heran.
"Oh iya, Ma, aku izin mau pergi sama Mbak Dhisa, ya," ucap Gendhis dengan sumringah.
"Mau pergi ke mana, to, Nduk?" tanya Mama Arum.
"Main ke pantai, Ma. Ssstt, tapi jangan bilang-bilang Mas Raden," bisik Gendhis.
"Halah, pakai rahasia-rahasia segala," ujar Mama Arum terkekeh.
"Kan, mau girls time, Ma," jawab Gendhis meringis.
"Ma, kunci mobil di mana, ya?" tanya Raden yang mendekat ke arah mamanya.
"Coba tanya ayah, Mas," jawab Mama Arum.
"Kamu siap-siap sana. Keburu siang, nanti panas," ucap Raden pada Gendhis.
"Hah? Ke mana?" tanya Gendhis bingung.
"Ke pantai, kan?" jawab Raden.
"LOH? MAS, AK—"
"Udah, cepat. Mas tinggal kalo lama," potong Raden yang sudah menjauh.
"Mama, masa ngga jadi girls time," ucap Gendhis yang mengadu dengan tampang memelas.
"Ya udah, gapapa, kan, malah ada yang jaga kalian, terus ada yang nyetir juga. Kalian malah enak tinggal anteng sama duduk manis," ucap Mama Arum. Namun, Gendhis masih menunjukkan sikap tak terimanya.
Setengah jam kemudian, Raden sudah menunggu adiknya di ruang tamu sembari menunggu mobil yang lagi dipanaskan. Tak lama, Gendhis muncul dengan wajah masamnya. Ekspektasinya untuk menikmati akhir pekan kali ini dirusak oleh kakaknya. Tanpa ingin berdebat lebih banyak, lalu Gendhis berpamitan dengan orang tuanya, tanpa sepatah kata pun ia langsung jalan melewati Raden untuk masuk ke dalam mobil.
"Kenapa cemberut gitu?" tanya Raden pada adiknya yang duduk di kursi belakangnya.
"Mas kenapa ikut, sih? Kan, aku maunya berdua aja sama Mbak Dhisa," keluh Gendhis.
KAMU SEDANG MEMBACA
BINAR
FanfictionDhisa adalah seorang wanita single yang menyukai traveling. Ya, bisa dibilang travelingnya masih yang dekat-dekat aja, sih, di sekitar Pulau Jawa. Dhisa memiliki saudara sepupu yang akrab sejak kecil sampai saat ini, yaitu Noura. Noura ini memiliki...
