25

1.9K 142 28
                                        

Minggu siang, Dhisa sudah tampak rapi dengan pakaiannya. Sementara itu, Raden baru saja sampai di depan rumah Dhisa. Sesuai ajakan Dhisa kemarin, mereka akan bertemu sekalian jalan-jalan hari ini. Belum tau akan ke mana tujuannya, lantas keduanya memutuskan hanya akan mengelilingi jalanan di Jogja saja sambil melihat-lihat siapa tahu nanti ada tempat yang menarik untuk dikunjungi.

Dhisa membuka pintu mobil dan langsung disambut dengan sapaan juga senyuman manis dari Raden.

"Yuk, jalan," ajak Dhisa.

"Ini beneran mau keliling aja, kan?" tanya Raden yang mulai melajukan mobilnya.

"Iya, tapi kalo bisa jangan lewat jalanan kota karena pasti macet. Coba cari jalan yang lain aja, Den," usul Dhisa.

"Ok. Mau mampir minimarket dulu ngga?" tanya Raden.

"Nanti aja, deh," jawab Dhisa.

Raden menganggukkan kepala. "Jadinya mau ngobrol apa, Sa?"

"Eehm, ini kita beneran mau nikah?" tanya Dhisa dengan waswas.

"Iya, dong. Kenapa, Sa?" tanya Raden yang mengerutkan keningnya.

"Nah, gue mau bahas soal itu," sahut Dhisa.

"Ok, apa yang mau ditanya?" tanya Raden.

"Kenapa lo mau nikah sama gue?" tanya Dhisa yang mengawali sesi obrolan.

"Menurut gue, lo, tuh, beda dan apa adanya. Gue pikir-pikir setelah beberapa bulan kita kenal, malah banyak hal ajaib yang gue rasain. Gue jadi ngerasa kalo lo itu partner yang cocok buat gue. Eh, bukan, mungkin kita adalah partner yang saling cocok satu sama lain, sama-sama saling membutuhkan, dan bisa saling mengerti. Terus lo juga perempuan yang mau terima gue apa adanya, udah selalu baik ke keluarga gue. Hmm, apa lagi, ya? Oh! Lo juga cantik, udah gitu ngga mau jauh-jauh dari gue lagi, iya, ngga?" goda Raden di akhir.

"Apa sih. Serius dulu, Den," ucap Dhisa yang mencebikkan bibirnya.

"Iya, maaf, Sa," ucap Raden dengan senyum lebarnya.

"Terus yang soal mantan lo itu gimana?" cecar Dhisa lagi.

"Mantan gue cuma dua, Sa. Itu juga udah lama dan lost contact semua," jawab Raden seperlunya.

"Bukannya Bulik Wina sempat beberapa kali ketemu lo sama mbak-mbak cantik, ya?" tanya Dhisa.

"Lebih cantik lo, Sa. Tapi kalo yang itu udah lama, sih, sebenarnya. Dulu cuma sampai di tahap pendekatan aja karena ternyata kita sama-sama kurang cocok kalo mau dilanjut," jelas Raden.

"Emang lo ngga kepingin sama mbak-mbak cantik yang rambutnya bisa lo elus-elus tiap ketemu? Terus emang ngga mau apa sama mbak-mbak cantik yang pakaiannya modis ala-ala zaman sekarang? Misal, pakai baju crop top, turtle neck tanpa lengan, rok mini, baju sabrina, atau dress pendek gitu. Padahal pakaian kayak gitu cakep tau menurut kebanyakan perempuan," ucap Dhisa.

"Ngga, lo aja udah cukup. Bahkan lo lebih cantik dengan hijab dan baju panjang yang sehari-hari lo pakai," jawab Raden yang membuat Dhisa menahan senyumnya.

Kemudian Raden menarik pelan tangan Dhisa untuk dibawa pada genggamannya.

"Sa, ini kita mau pake lo-gue terus?" tanya Raden.

"Terserah mau pake lo-gue atau aku-kamu, ngikut kondisi aja," jawab Dhisa.

"Ya udah, sekarang gantian. Emang kamu mau nikah sama aku?" tanya Raden.

Dhisa menganggukkan kepala malu-malu tanpa melihat ke arah Raden.

"Jawabannya apa, Sa?" tanya Raden lagi yang pandangannya fokus dengan jalanan.

BINARTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang