Udara Wonosobo di siang hari masih terasa cukup sejuk meskipun cahaya matahari sedang di atas kepala. Mereka tiba di glamping yang akan menjadi tempat bermalamnya sekitar pukul 13.10. Perjalanannya memakan waktu tiga jam, tetapi mereka sempat mampir dahulu untuk mencari sarapan di awal perjalanan.
Beruntung sekali, Dhisa masih kedapatan dua kamar walaupun berbeda tipe, yaitu standard dan duluxe. Namun, setidaknya ia masih bisa merasakan liburan bersama keluarga. Glamping atau berkemah dengan fasilitas dan kenyamanan yang mewah serta modern ini merupakan salah satu wishlist Dhisa. Sebelumnya, ia sempat merencanakan bersama Noura, tetapi belum juga kesampaian.
Dhisa dan keluarganya akan menikmati dinginnya udara malam di The Heaven Wonosobo. Letak glamping ini berada di atas Telaga Menjer sehingga pemandangan yang disuguhkan dari depan tenda glamping sangat memukau karena memadukan keindahan telaga dan gunung yang terlihat cukup dekat. Selain udaranya yang terasa dingin, suasananya juga terasa menenangkan karena tak terlalu bising.
"Mas, Mbak, Mama kamarnya yang di sana aja sama Gendhis," ujar Mama Arum yang memilih kamar dengan tipe standard.
"Gapapa, Ma. Udah, Mama di sini aja," sahut Raden.
"Halah, gapapa gimana, to? Mama sama Gendhis biar yang di sana, kalian anteng aja di sini. Udah, Mama sama Gendhis ke sana dulu, ya," ujar Mama Arum sembari menarik tangan Gendhis untuk menuju tendanya yang letaknya hanya terhalang toilet.
Raden hanya menggelengkan kepalanya, lalu perhatiannya beralih menuju sang istri. "Sini, aku bawa masuk kopernya." Ia meraih gagang koper dari tangan Dhisa.
Dhisa pun mengikuti Raden untuk masuk ke dalam tenda yang akan menjadi tempat singgah mereka malam ini. Ia memperhatikan seisi tenda yang terdiri dari dua tempat tidur, sofa bed, rak, dan meja kecil. Lalu terdapat teras kecil juga di depan tenda dengan adanya dua kursi dan satu meja kecil untuk bersantai. Untuk kamar mandinya berada di luar dan posisinya tepat di sebelah tenda.
"Ini kalo malam dingin banget pasti," ucap Dhisa.
"Kamu bawa jaket, kan?" tanya Raden.
"Bawa," jawab Dhisa.
"Ya udah. Kalo masih ngerasa dingin, kan, masih ada aku," timpal Raden.
Dhisa hanya melirik sekilas pada Raden tanpa menanggapi. "Keluar, yuk. Pengen liat pemandangan sekitar sini."
"Mau ke mana lagi?" tanya Raden.
"Turun, main ke telaga mungkin," sahut Dhisa yang mengedikkan bahunya.
"Istirahat dulu, Sa," ujar Raden.
"Iya, nanti. Aku mau jalan yang dekat-dekat dulu mumpung masih jam segini, Den," kata Dhisa.
"Emang ngga capek? Mama sama Gendhis pasti mau istirahat dulu, Sa," timpal Raden.
Dhisa pasrah. "Ya udah, iya. Istirahat tiga puluh menit, ya." Ia berjalan dan merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil memainkan ponselnya.
Raden mendekat pada Dhisa, lalu mengusap lembut kepala perempuannya. "Kamu mau naik perahu di telaga itu?"
"Iya. Boleh, kan?" Dhisa memalingkan wajahnya dari layar ponsel.
"Boleh, Sayang."
"Kamu juga istirahat dulu, Den. Capek, kan, habis nyetir?" kata Dhisa.
Raden ikut merebahkan diri di sebelah Dhisa. "Sa, kamu senang, kan?"
Dahi Dhisa mengerut bingung. "Kenapa tanya kayak gitu?"
"Ya, gapapa. Aku cuma mau tau aja kamu senang atau ngga."
KAMU SEDANG MEMBACA
BINAR
FanfictionDhisa adalah seorang wanita single yang menyukai traveling. Ya, bisa dibilang travelingnya masih yang dekat-dekat aja, sih, di sekitar Pulau Jawa. Dhisa memiliki saudara sepupu yang akrab sejak kecil sampai saat ini, yaitu Noura. Noura ini memiliki...
