Sabtu pagi, Dhisa dan Raden sudah tiba di rumah Ayah Wira. Sesuai rencana mereka sejak minggu lalu, sepasang suami istri ini akan bermalam di rumah orang tua Raden. Akhirnya, untuk pertama kalinya Dhisa akan menginap di rumah mertua juga di kamar suaminya semasa lajang.
"Mbak!" sapa Gendhis dengan antusias menyambut kedatangan kakak iparnya.
"Salim dulu sini sama masnya. Ngga sopan, baru datang langsung mau ngerebut istriku," ujar Raden.
Gendhis tersenyum kecut sambil menyalami tangan kakaknya. "Mas ngga langsung pergi kerja?"
"Kenapa? Kamu mau ngusir?" tanya Raden.
"Ya, tanya doang. Katanya mau lembur hari ini?"
"Iya, ini bentar lagi pergi."
Dhisa terkekeh pelan menyaksikan keributan kecil kakak beradik di hadapannya. "Mama sama ayah ke mana? Kok, kayak sepi rumahnya?" Dhisa menyusuri pandangannya ke setiap sudut rumah.
"Lagi sepedaan, Mbak, dari habis Subuh tadi. Paling nanti sebelum Dzuhur udah pulang," jawab Gendhis.
"Oh. Kamu udah sarapan belum?" tanya Dhisa.
"Udah, kok. Oh iya, ini barangnya taruh di kamar Mas Raden dulu, Mbak," perintah Gendhis.
"Yuk, Sa, aku antar ke kamar," ajak Raden.
Dengan sigap, Raden meraih tas Dhisa dan menggenggam tangan sang istri untuk ikut dengannya. Langkah kakinya menyusuri ruang tamu dan ruang keluarga, lalu menginjak beberapa anak tangga. Kemudian sesampainya di lantai dua, terlihat pintu cokelat kayu di sisi kiri tangga yang merupakan kamar Raden.
"Ini kamar kamu?" tanya Dhisa.
"Iya, maaf kalo acak-acakan," jawab Raden sembari meletakkan tas yang dibawanya tadi.
"Tapi ini udah lebih rapi, kok. Kayaknya mama yang beresin," lanjut Raden.
Dhisa mengangguk paham. "Terus kamar di sebelah kanan tangga tadi kamarnya Gendhis?"
"Bukan, itu kamar tamu. Kamarnya Gendhis di bawah. Mama sama Ayah juga di bawah, soalnya capek kalo naik-turun tangga terus," jelas Raden.
"Oh. Kamu ngga takut selama ini tidur di atas sendirian?" tanya Dhisa.
"Engga. Tapi kalo lagi malas ke atas, kadang aku tidur di sofa ruang keluarga sambil nonton bola malamnya," jawab Raden meringis.
Dhisa kembali menganggukkan kepalanya. "Ya udah, balik ke bawah, yuk."
Raden mengiyakan. Lalu mereka melangkah ke luar kamar.
"Oh iya. Kamar mandinya di sebelah kamar, Sa, yang itu." Raden menunjuk pintu PVC berwarna putih saat akan menuruni tangga.
"Ok."
Sesampainya di lantai satu kembali, Dhisa berjalan menghampiri Gendhis yang tengah duduk santai di ruang keluarga sembari mengerjakan sesuatu di laptopnya, sedangkan di sana juga terlihat layar TV yang menyala dengan tayangan serial drama.
"Sa, udah jam sembilan. Aku pergi dulu, ya," ujar Raden yang mengamati jam tangannya.
"Ya udah buruan berangkat. Aku mau ikutan nonton sama Gendhis," sahut Dhisa sambil menyalami tangan Raden.
Raden mengernyitkan dahi tak suka. "Awas aja kangen."
"Kalo kangen tinggal teleponlah." Dhisa tersenyum lebar.
"Aku pulangnya malam, lho, Sa," ujar Raden mengingatkan.
"Iya, aku ingat, kok."
"Kamu pasti bakal kangen sama aku, kan?" tanya Raden dengan percaya diri.
KAMU SEDANG MEMBACA
BINAR
FanfictionDhisa adalah seorang wanita single yang menyukai traveling. Ya, bisa dibilang travelingnya masih yang dekat-dekat aja, sih, di sekitar Pulau Jawa. Dhisa memiliki saudara sepupu yang akrab sejak kecil sampai saat ini, yaitu Noura. Noura ini memiliki...
