Meja dapur tampak acak-acakan dengan perkakas dan bahan-bahan masakan. Di sana, Dhisa tengah bersemangat menyiapkan Makanan Pendamping ASI untuk anaknya yang sudah dua bulan ini mulai memasuki fase baru. Dru juga tampak antusias setiap sang ibu sudah menghadapkannya dengan seporsi makanan untuknya. Suara ocehan dan lidahnya yang sesekali menjulur itu seolah menunjukkan rasa lapar yang tak tertahan untuk melahap olahan bubur serta buah yang di matanya tampak menggiurkan.
"Sabar, Nak," ucap Dhisa.
Bayi yang tengah duduk di kursi makannya itu bergerak aktif hingga membuat Dhisa kewalahan. Bagaimana tidak, bocah itu mengoceh sambil memukul meja makan yang tengah mengurungnya.
"Ma... Ma..."
"Sebentar, ya, Ibu mau siapin minumnya dulu," ujar Dhisa.
"Aaamm..."
"Mam..."
Bayi itu terus-terusan mengoceh dan merengek palsu sesekali.
Namun, kali ini, Dhisa tak dapat menahannya lagi. Keringat sudah membasahi peluh. Rasa tak nyaman semakin nyata singgah di perutnya. Ia pun bergerak cepat sembari melepas apron. Kemudian, ia berjalan menuju kamar dengan meninggalkan sang buah hati di ruang makan sendirian.
"Den, udah belum?" Ia menggedor pintu kamar mandi di sana.
"Bentar." Suara berat itu samar-samar terdengar beriringan dengan suara guyuran air pada kloset.
"Buruan," seru Dhisa.
Tak sampai satu menit, Raden membuka pintu kamar mandi. "Kenapa?"
"Dru udah lapar, tuh, kamu temenin dia dulu, ya." Dhisa bergerak rusuh seolah mengusir Raden dari pintu yang menghalanginya.
"Sa, kamu kenapa?" Raden memandang aneh.
Dhisa menggelengkan kepala. "Makanannya Dru udah siap, udah aku taruh di meja makan."
Raden menahan pundak Dhisa yang akan menutup pintu kamar mandi. "Sa, kamu sakit?"
Perempuan itu menggeleng tegas. "Ngga, agak pusing aja. Udah, itu kasihan anaknya sendirian, nanti keburu nangis." Dhisa sontak menutup pintu kamar mandi.
"Sa, habis ini, kamu istirahat aja," seru Raden dari balik pintu yang sudah tertutup rapat. Ia pun segera beranjak dari kamar.
Bayi yang berada di ruang makan itu tampak mengoceh dengan kebingungan. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri dengan raut wajah yang seakan menunjukkan protes dan sedih secara bersamaan.
Raden menyambar mangkuk kecil yang sudah disiapkan Dhisa untuk Dru, lalu ia mendekatkan diri pada sang anak. "Sama Ayah, ya, Nak." Ia mengecup puncak kepala Dru.
"Aaamm..." Tangan mungil nan gempal milik si bayi kembali memukul meja. Kakinya juga ikut bergerak aktif dengan gerakan menendang.
"Iya, Sayang."
Dengan sedikit kelimpungan, Raden mulai menyuapkan sesendok pada bayi yang sudah kelaparan. Sejujurnya, ia belum pernah menyuapi Dru lantaran sehari-harinya biasa dilakukan oleh Dhisa, ibunya, atau ibu mertuanya. Oleh sebab itulah, saat ini ia masih merasa bingung dan sedikit kaku. Meski begitu, ia tetap menahan rasa sabarnya dan telaten menyuapi si bayi yang untungnya dapat bekerja sama dengan baik. Buktinya, bayi berusia 8 bulan itu tampak menikmati makanannya dengan lahap.
Di tengah-tengah menemani Dru sarapan, Bu Kasmi akhirnya datang meskipun sedikit telat dari biasanya.
"Loh, Cah Bagus lagi sarapan, to," sapa Bu Kasmi saat memasuki rumah.
Raden hanya membalas senyum karena fokusnya terbagi oleh semangkuk bubur di tangannya yang hampir direbut oleh Dru.
"Mbak Dhisa ke mana, Mas?" tanya Bu Kasmi.
KAMU SEDANG MEMBACA
BINAR
FanfictionDhisa adalah seorang wanita single yang menyukai traveling. Ya, bisa dibilang travelingnya masih yang dekat-dekat aja, sih, di sekitar Pulau Jawa. Dhisa memiliki saudara sepupu yang akrab sejak kecil sampai saat ini, yaitu Noura. Noura ini memiliki...
