Extra Part

977 85 31
                                        

Raden bersandar pada sofa, menatap langit-langit ruang tengah, dan sesekali mengembuskan napas kasar. Pakaiannya belum ganti sedari pulang bekerja, rambutnya pun acak-acakan, dan raut yang tampak sedikit kusut. Belum lagi suasana rumah yang sepi hanya terdengar suara televisi yang volumenya dibuat kecil.

Matanya melirik pada ponsel yang tergeletak di dada. Tangannya bergerak pelan untuk meraih ponselnya. Lelaki itu sadar jika belum terdengar dering notifikasi, tetapi ia tetap membuka layar ponselnya untuk memastikan. Namun, yang ada keresahannya tetap menghantui. Ia hanya membaca ulang percakapan singkat dengan sang istri yang sudah berlalu satu jam. 

Hingga lima menit sudah Raden melamun. Dering singkat berdenting. Pesan masuk dari Dhisa, perempuan yang telah dinanti-nanti kabarnya. Istrinya itu mengirim foto sang anak yang tengah memegang kucing milik Bu Yuli, tetangga yang cukup akrab dengan Dhisa. Raden segera membalas dengan pertanyaan kapan dua orang itu kembali ke rumah. Ia tak sabar untuk menunggu lebih lama lagi.

"Ayah, Du sama Bibu main kucing di rumah Uti Yuli."

"Ayah di mana?" lanjut Dru yang terdengar cukup melengking dan terbata-bata pada pesan suara yang baru saja dikirim melalui ponsel Dhisa.

Ujung bibir Raden sedikit tertarik kala mendengar suara anaknya itu.

"Pulangnya masih lama, Nak? Ini Ayah sendirian di rumah," jawab Raden melalui pesan suara.

"Lima menit, Yah," ujar sang anak yang membuat Raden terperangah. Pasalnya, tiba-tiba saja anaknya meniru kalimat yang sering ia ucapkan ketika Dhisa menyuruh dirinya bangun, mandi, bebersih, atau hal lainnya saat jiwa bermalas-malasannya sedang sulit dilawan.

"Oke, lima menit, ya, Nak." Raden pun pasrah dan terkekeh geli membayangkan dirinya selama ini sering beralasan untuk mengulur waktu.

Sementara itu, Dhisa langsung berpamitan dengan sang tetangga untuk pulang mengingat waktu sudah berdekatan dengan Maghrib. Ia berjalan pelan sambil menggandeng tangan Dru, anak yang mulai menginjak usia dua setengah tahun. Dru tampak ceria, langkahnya berayun tak beraturan, sesekali berlari kecil entah mengejar apa.

Raden menghela napas pelan. Sejak siang tadi, kepalanya terasa berat, tenggorokannya terasa tak nyaman, dan badannya mulai meriang. Sejak Dhisa pamit padanya untuk jalan-jalan sore dengan Dru, ia sempat berpikir untuk melarangnya, tapi melihat antusias Dru dengan mata yang berbinar sejak mendengar kata jalan-jalan dari ajakan Dhisa, lidahnya justru kelu.

Di luar, celoteh asal Dru terdengar samar. Raden tersenyum kecil, lalu merebahkan dirinya di sofa ruang tengah. Ia sudah merencanakan ketika istri dan anaknya pulang, akan berusaha terlihat sehat-sehat saja. Namun, ada harapan kecil kalau istrinya akan menangkap suara seraknya dan merasakan suhu kulitnya yang hangat. Raden tahu, terkadang bermanja dengan orang yang tepat bukan kelemahan.

"Ayah... Ayah..." Dru memanggil sambil menggenggam sebungkus biskuit di tangan mungilnya. 

"Cuci tangan dulu, yuk," ajak Dhisa yang berjalan di belakang sang anak.

Dru tak jadi menghampiri sang ayah di sofa. Langkahnya ia lanjutkan menuju kamar mandi di pojok ruangan. Selesai dengan urusan cuci tangan bersama sang ibu, Dru bergegas mendekati sang ayah yang masih berbaring di sofa.

"Sini, Nak. Biskuitnya mau dimakan sekarang?" tanya Raden yang suaranya terdengar lebih serak dari biasanya. Ia membuka bungkus biskuit milik si anak.

Dhisa seketika mengernyit, lalu ikut mendekat. Ia menempelkan punggung tangannya pada kening Raden. "Kok hangat? Kamu sakit?" Suaranya pelan, tapi terdengar ada kekhawatiran.

"Dikit. Paling kecapekan doang."

Dhisa berdecak gemas. Ia meraih Dru yang masih asyik mencuil biskuit yang kemasannya baru saja terbuka. "Sayang, mainnya sama Ibu dulu di kamar, ya? Ayah mau istirahat," katanya sembari mengusap rambut Dru. Sementara itu, sang anak hanya mengangguk, lalu sibuk menikmati biskuitnya.

BINARTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang