72

2.4K 94 29
                                        

Raden berjalan cepat memasuki kamar ketika Dhisa mulai mengeluarkan omelannya di pagi hari. Mendadak ia menjadi kucing jinak dan penurut, seperti Beno.

Sesampainya di kamar, Raden disambut oleh Dhisa yang lengkap dengan penampilan khas ibu-ibu rumah tangga. Daster kusut dan gulungan handuk di kepala dengan tangannya yang menenteng handuk basah tinggi-tinggi seperti siap untuk dilemparkan. Melihat itu, Raden terdiam pasrah. Ia sudah siap atas apa pun yang akan terjadi selanjutnya.

"Lupa, Sayang. Maaf." Suara lembut bak merayu keluar dari mulut Raden. Telapak tangannya juga melekat di depan dadanya.

"Ini apa? Kalau udah selesai pakai handuk, tuh, langsung kembalikan ke tempatnya. Baju kotor juga, langsung taruh di keranjang. Ini, kok, semuanya berceceran di lantai, di kasur, di kamar mandi. Kenapa, sih, hal-hal kecil kayak gini kamu ngga ngerti-ngerti?" Dhisa sedikit terengah-engah. Ia memijat keningnya kemudian.

Raden menelan ludahnya susah payah. Lidahnya pun terasa kelu.

"Cepetan beresin." Dhisa melempar handuk basah di tangannya pada Raden.

Dengan tangkas, Raden menangkap handuk itu, lalu ia bergegas memunguti pakaiannya.

Dhisa langsung bergerak menyusul Dru di ruang tengah. Bayi itu tengah rebahan di matras tidurnya, tepat menghadap akuarium kecil dengan hiasan lampu LED biru yang diletakkan di meja kecil sebelah TV.

Sementara itu, Raden tampak kelimpungan membawa tumpukan pakaian kotor ke ruang cuci. Diam-diam Dhisa tersenyum geli melihat tingkah suaminya. Kemudian, ia mengalihkan perhatiannya pada Dru agar suasana hatinya menjadi lebih tenang.

Tak terasa, bayi itu hampir menginjak usia 4 bulan. Sudah satu bulan terakhir pula Dhisa selalu menitipkan bayi itu pada orang tua dan mertuanya secara bergantian kala ia harus pergi ke kantor.

Awalnya memang terasa berat bagi Dhisa karena harus berpisah dengan buah hatinya. Belum lagi harus menyiapkan dan mengurus keperluan si bayi, suami, dan dirinya. Lelah sudah pasti, tapi inilah risikonya jika ia memilih menjadi working mom.

Terhitung sudah tiga kali Raden menanyakan keputusannya soal resign. Namun, sampai saat ini Dhisa masih bersiteguh untuk tetap bekerja sambil merawat anak. Lagi pula, ada untungnya juga ia tak perlu datang ke kantor setiap hari. Mungkin hanya tiga hari atau terkadang empat hari dalam lima hari kerja.

"Kopinya udah di sini," ujar Dhisa kembali menyetel raut datar.

Tanpa ragu, Raden turut bergabung di ruang tengah. "Udah, dong, marahnya."

Dhisa hanya melirik sekilas. "Nanti mamaku yang nemenin Dru di rumah."

"Iya, nanti aku jemput atau pesenin taksi online," sahut Raden.

"Ngga usah, mau sama papa ke sininya," kata Dhisa.

"Ya udah. Kamu mau pergi ke kantor bareng aku?"

"Engga."

"Masih marah, ya? Maaf. Tadi, aku buru-buru kasih makan Beno. Dia udah berisik banget makanya aku sampai asal-asalan naruh handuk sama baju kotor."

"Lain kali handuknya sekalian dibawa juga, jangan cuma bawa diri."

Raden menghela napasnya perlahan. Sesuai dengan dugaannya. "Iya, Sayang."

Dhisa mendaratkan tangannya pada wajah Raden, lalu mengelusnya lembut. "Semoga yang kali ini kamu beneran ngerti." Ia tersenyum datar.

"Iya, ngerti."

"Ini kumismu ngga mau dicukur?" tanya Dhisa tampak salah fokus dengan berewok tipisnya.

BINARTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang