Hari kedua di Bali, Dhisa dan Raden mengawali paginya dengan berenang bersama di private pool pada villa yang tengah disinggahinya. Mereka menikmati udara pagi sambil berendam di air kolam yang terasa segar. Setelah puas dengan sesi berenang, lalu keduanya bergegas untuk membilas diri.
"Sa, udah siap belum?" tanya Raden yang berjalan menghampiri Dhisa di meja wastafel kamar mandi.
"Bentar, ih," sahut Dhisa.
"Aku udah lapar, Sa." Raden sudah berdiri di sisi kiri Dhisa.
"Sabar dulu, Den." Tangannya yang menggenggam hair dryer seketika digerakkan dengan cepat mengelilingi kepalanya dengan harapan rambutnya dapat segera mengering.
"Oh iya, aku lupa rambut kamu masih basah," ujar Raden.
"Kamu kalo udah keburu lapar banget mending pergi ke resto aja duluan. Aku masih mau keringin rambut dulu, nih," sahut Dhisa.
"Ngga. Aku bantuin aja sini," ujar Raden.
"Nih." Dhisa menyodorkan hair dryer yang langsung diterima oleh Raden.
"Aku mau sambil pakai skincare." Ia beralih meraih kantong tas yang berisi produk perawatan wajah.
"Kayak gini udah benar, kan?" tanya Raden yang berusaha menata setiap helai rambut sang istri agar cepat kering.
"Iya, yang penting udah ngga berasa basah waktu dipegang." Dhisa mulai menuangkan botol yang berisi cairan dari produk kecantikan, kemudian mengoleskan pelembab wajah.
Setelah lima menit sibuk memegang hair dryer, kini Raden mulai tampak lihai saat mengeringkan rambut Dhisa. "Rambutmu wangi, Sa."
"Ih, iya, kan? Ini tuh sampo favoritku, soalnya udah cocok banget. Mana wanginya awet lagi. Kamu mau coba pakai sampoku?" tanya Dhisa.
"Eh, boleh? Besok aku minta, ya," sahut Raden.
"Iya, santai. Kalo kamu juga cocok pakai aja."
"Ok."
"Eh? Bentar, bentar," lanjut Dhisa setelah jeda beberapa detik.
"Kenapa?" tanya Raden.
Mata Dhisa sedikit menajam dan langsung menolehkan kepalanya ke arah Raden. "Kamu suka sama wanginya bukan karena bikin keingat seseorang, kan?"
"Hah?" Raden terperangah dengan kalimat Dhisa.
"Jawab yang benar, Den."
"Nggalah, Sa. Aku emang suka sama wangi rambut istriku, bukan karena bikin kepikiran sama siapa-siapa."
"Bener?" tanya Dhisa.
"Iya, Sa. Kamu jangan asal main nyeplos begitu lagi, ah."
"Maaf, namanya juga naluri wanita," ujar Dhisa santai.
"Tapi lain kali jangan dibiasain gitu, ya, Sayang."
Raden merengkuh tubuh Dhisa dari belakang. "Rambutnya udah kering. Ayo, sarapan dulu." Suara lirih yang hampir seperti berbisik itu dikeluarkan di dekat telinga Dhisa.
"Ayo. Aku boleh pinjam jaket kamu aja, ngga? Biar ngga perlu ambil baju bersih di lemari.
"Boleh, pakai aja." Raden mengendus puncak kepala Dhisa dan tercium wangi sampo yang akan menjadi favoritnya juga.
Setelah itu, mereka bersiap-siap dengan ala kadarnya dan langsung menuju resto untuk sarapan. Dhisa mengenakan jaket hitam Raden yang sedikit kebesaran, tetapi masih nyaman saat dipakai, sedangkan Raden memakai kaos polos hitam dengan celana pendek hitam pula. Dan sesampainya di resto, mereka langsung memilih menu untuk sarapan dan menempati bangku yang kosong.
KAMU SEDANG MEMBACA
BINAR
Fiksi PenggemarDhisa adalah seorang wanita single yang menyukai traveling. Ya, bisa dibilang travelingnya masih yang dekat-dekat aja, sih, di sekitar Pulau Jawa. Dhisa memiliki saudara sepupu yang akrab sejak kecil sampai saat ini, yaitu Noura. Noura ini memiliki...
