Sabtu pagi, di rumah orang tua Dhisa mulai terasa ramai karena sudah kedatangan tamu, yaitu saudara sepupu serta keponakannya Dhisa. Apalagi Kama dan Nala yang sudah asyik bermain bersama di ruang TV. Sementara itu, saudara sepupunya Dhisa atau orang tua dari Kama dan Nala juga ikut asyik berbincang santai di ruang tamu sembari membongkar oleh-oleh pemberian Dhisa dan Raden dari Bali.
Kama mendekat ke ruang tamu. "Bunda, Kama boleh tidur siang di sini?"
"Nanti siang kita mau ke acara temannya Bunda, Kama ikut Bunda, kan?" tanya Mbak Rani, bundanya Kama.
"Iya, ikut. Tapi Kama mau main di sini dulu boleh?" Anak laki-laki itu ikut duduk di ruang tamu. Ia menyempil di tengah-tengah Dhisa dan Raden.
"Boleh, tapi nanti jam 12 kita pamit, ya. Kama tidur siangnya di mobil, ok?" ucap Mbak Rani.
"Ok, Bunda. Terima kasih, ya." Kama kembali sibuk memainkan mobil Hot Wheels di pangkuannya. Sementara itu, Mbak Rani dan yang lainnya kembali sibuk membongkar oleh-oleh.
"Itu, kok, Adik Nala ditinggal main sendirian?" tanya Dhisa.
"Nala lagi nonton Elsa dan Anna, Tante," jawab Kama.
"Tante sama Om habis jalan-jalan? Kok, ngga ajak-ajak Kama lagi?" tanya Kama.
"Kan, Kama harus sekolah," sahut Dhisa.
"Tapi sekolahnya cuma sampai siang, kok. Om Raden curang, cuma ajak Tante Dhisa aja. Kan, Kama juga mau ikut." Kama menatap serius ke arah Raden.
Raden sedikit terperangah akibat dicecar oleh bocah cilik di sebelahnya. "Memang kalo Kama ikut dibolehin bunda sama ayah?"
"Boleh." Bocah itu mengangguk cepat.
"Kamu itu masih kecil, pasti ngga boleh."
"Aku sudah besar. Kan, sebentar lagi umur enam, sudah mau sekolah SD."
Raden terkekeh pelan. "Tapi Kama belum sunat, berarti masih kecil."
"Udah, udah. Kapan-kapan kita jalan-jalan, ya," sambar Dhisa, mengusap kepala Kama.
"Sama Om Raden juga?" tanya Kama.
"Iya dong," jawab Dhisa.
"Kama maunya sama Tante aja, ngga mau sama Om," ucap Kama, menunjuk Raden dengan jari kecilnya.
"Kenapa? Padahal Om Raden baik, besok waktu jalan-jalan mau beli es krim buat kita," ucap Dhisa.
Kama menggeleng-gelengkan kepalanya. "Soalnya Om Raden sukanya dekat-dekat sama Tante, Kama ngga suka."
"Loh, kok gitu? Kan, sekarang Om Raden udah jadi suami Tante," ucap Dhisa baik-baik.
"Om ngga boleh dekat-dekat ke Tante terus, ya. Dosa tau." Kama memandangi Raden.
Dhisa dan Raden membulatkan matanya serempak. Dhisa menghela nafasnya.
"Kalo Omnya ngga diajak, berarti kita ngga jadi jalan-jalan. Soalnya Tante ngga boleh kalo Om ngga ikut," ucap Dhisa.
Kama diam memikirkan kalimat Dhisa. "Ya udah, boleh ikut."
"Kamu main sama Adik Nala sana. Kasihan ditinggal sendiri," ucap Raden, mengalihkan.
"Nala lagi nonton Elsa, Om," sahut Kama sewot.
"Kalo sudah besar itu ngga ninggalin adiknya sendirian. Katanya, Kama sudah besar?" ucap Raden.
"Iya, iya," ucap Kama pasrah. Ia beranjak ke ruang TV kembali untuk menyusul Nala.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
BINAR
FanfictionDhisa adalah seorang wanita single yang menyukai traveling. Ya, bisa dibilang travelingnya masih yang dekat-dekat aja, sih, di sekitar Pulau Jawa. Dhisa memiliki saudara sepupu yang akrab sejak kecil sampai saat ini, yaitu Noura. Noura ini memiliki...
