Genap satu bulan umur Dru, anak Dhisa dan Raden. Selama itu juga keduanya beradaptasi dengan lika-liku merawat si bayi. Memandikan, mengganti popok, hingga terbangun di tengah-tengah lelapnya tidur sudah pasti dirasakan oleh Dhisa dan Raden.
Sudah satu minggu ini Dhisa dan Raden kembali menempati rumahnya setelah mengungsi selama tiga minggu di rumah Papa Adi dan Mama Dita. Mau tak mau mereka harus melewati semuanya tanpa bergantung dengan orang tuanya lagi.
Sampai saat ini sebenarnya Raden lebih sering turun langsung untuk memandikan Dru karena Dhisa masih merasa takut-takut. Namun, akhir-akhir ini Dhisa pun merasa tertantang karena tak ingin terus-terusan merepotkan orang sekitarnya.
"Tolong handuknya, Sa," pinta Raden yang tampak sibuk memandikan Dru sembari mengoceh dan mengajak bergurau agar tangisan Dru lebih tenang.
Dhisa mengulurkan handuk milik si bayi. "Aku ngerepotin kamu terus, deh. Nanti sore kalau kamu belum pulang biar aku aja yang mandiin."
Sebetulnya, Dhisa sudah beberapa kali mencoba, tetapi ia masih perlu didampingi oleh Raden.
"Justru kamu yang lebih repot ngurus Dru seharian," jawab Raden.
Dhisa menata pakaian ganti dan printilan skincare untuk si bayi. "Gapapa, nanti biar aku coba mandikan sendiri. Kalau ngga nekat, aku takut makin bergantung sama kamu. Kasihan juga anaknya keburu risi."
Raden mendekat ke ranjang sembari membopong Dru yang sudah diselimuti handuk. Lalu ia meletakkan si bayi dengan perlahan di atas ranjang. "Nak, ini beneran Ibu yang istrinya Ayah bukan, sih?" Ia malah mengajak diskusi bayi berumur satu bulan itu.
"Ish. Serius, Den. Udahlah, pokoknya nanti biar aku aja yang urus Dru." Dhisa mendekat pada sang bayi untuk mengoles minyak telon, printilan skincare-nya, serta memakaikan baju.
Raden terkekeh pelan, lalu mengecup pipi Dhisa. "Aku siap-siap dulu, keburu kesiangan."
"Hari ini sarapan seadanya dulu, ya," sahut Dhisa yang masih fokus dengan si bayi.
"Iya, gampang."
Pukul 07.50, Raden masih menikmati sarapannya di meja makan, sedangkan Dhisa tengah memberi ASI bayinya di sofa ruang TV. Setelah mandi tadi, Dru menangis kencang sampai membuat Dhisa tak sempat menemani Raden sarapan.
"Gapapa, kan, kalau aku tinggal?" tanya Raden mendekat ke arah Dhisa.
"Ya, gapapa. Kemarin-kemarin juga berduaan sama Dru di rumah," sahut Dhisa.
"Ikut aku aja mau, ngga?" tanya Raden.
"Ngapain? Di sana berisik, kasihan anaknya," tolak Dhisa.
"Daripada kamu sendirian di rumah."
"Ngga, deh. Justru kalau di rumah bisa curi-curi tidur bareng Dru, apalagi kalau kerjaan rumah udah beres kayak gini. Lagian dia kebangun kalau haus doang, kok."
Raden mencuri kecupan pada si bayi. "Sa, ke rumah ayah aja, yuk, biar kalian ditemenin mama."
"Yang ada malah ngerepotin. Udah, kamu tenang aja, ya."
"Ini anaknya juga kenapa harus nempel sama ibunya terus, sih?"
Dhisa berdecak malas. "Aku di rumah aja gapapa, Den. Biasanya juga gitu. Kan, nanti sore kamu udah pulang. Kenapa, sih, gitu aja jadi ribet?"
"Dari mulai balik ke rumah ini, aku suka kepikiran gimana keadaanmu di rumah sambil ngurus anak."
"Ya, kan, biasanya kamu video call aku dua hari sekali, Den. Lagian aku kelihatan aman-aman aja, kan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
BINAR
FanfictionDhisa adalah seorang wanita single yang menyukai traveling. Ya, bisa dibilang travelingnya masih yang dekat-dekat aja, sih, di sekitar Pulau Jawa. Dhisa memiliki saudara sepupu yang akrab sejak kecil sampai saat ini, yaitu Noura. Noura ini memiliki...
