Pukul 06.20 pagi, Dhisa kembali lagi ke dapur untuk membantu Mama Arum yang tengah menyiapkan menu sarapan. Sekembalinya ke kamar, ia susah payah membangun rasa percaya dirinya di depan mama mertua. Sebisa mungkin ia menunjukkan sikap yang seolah-olah tak terjadi apa-apa sebelumnya.
"Ma, sini aku bantu potong sayurannya," ujar Dhisa.
"Ini, ya, Mbak. Kurang potong kentang sama wortel aja," sahut Mama Arum yang memberi ruang pada Dhisa menyiapkan bahan masakan.
"Iya, Ma." Dhisa mulai memegang pisau dan satu butir kentang.
"Kamu ngga capek apa, Mbak?" tanya Mama Arum yang tengah menyiapkan minyak goreng di wajan.
Dhisa terkekeh pelan untuk menutupi rasa canggung. "Aman, Ma."
"Gapapa, ngga usah malu sama Mama. Kan, wajar suasana pengantin barunya masih kuat," ujar Mama Arum menenangkan, tetapi tetap dengan senyuman yang sedikit meledek.
"I—iya, Ma." Dhisa berharap suasana canggung yang tengah dirasanya ini segera berlalu. Untungnya, tak lama Gendhis ikut bergabung.
"Mama masak apa hari ini?" tanya Gendhis yang memasuki dapur. Sementara itu, Dhisa bernafas lega mendengar suara Gendhis.
"Sayur sop sama ayam goreng aja yang gampang," jawab Mama Arum.
"Aku bantu apa, Ma?" tanya Gendhis.
"Ini goreng ayam aja, ya. Mama buat sambal dulu biar cepat," jawab Mama Arum.
Ketiga wanita itu melanjutkan kegiatannya masing-masing. Sekitar 30 menit kemudian, semua masakan sudah tersaji di meja makan. Mama Arum langsung mengajak Ayah Wira dan Raden untuk sarapan bersama di ruang makan.
Saat semuanya sudah berkumpul di meja makan, Mama Arum memandangi Dhisa dan Raden secara bergantian yang sedang duduk di hadapannya sembari menunjukkan senyum penuh arti.
"Mama kenapa?" tanya Gendhis.
"Gapapa, Nduk."
"Aneh banget senyum-senyum sendiri," celetuk Gendhis.
Dhisa dan Raden langsung melempar pandang satu sama lain. Namun, mereka segera mengembalikan fokusnya agar tak menimbulkan kecurigaan.
Jari kelingking Dhisa bergerak pelan untuk menyentuh jari kelingking Raden yang sama-sama diletakkan di atas meja, lantas Raden spontan menoleh ke arah Dhisa. Lalu ia sedikit menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis untuk menenangkan kecanggungan istrinya.
***
Minggu pukul 10.15 pagi, Dhisa, Raden, dan Gendhis memulai perjalanannya menuju Kota Magelang. Tujuan pertama yang akan mereka kunjungi adalah Tahu Pojok Magelang. Makanan yang biasa disebut kupat tahu ini merupakan salah satu kuliner khas Magelang. Makanan ini umumnya terdiri dari ketupat, tahu, kol, dan tauge yang disiram dengan kuah kacang yang encer.
"Kamu yakin ngga pesan makan?" tanya Dhisa.
"Iya, aku wedang ronde aja, Sa," jawab Raden.
"Mas Raden emang ngga terlalu suka, Mbak," sambar Gendhis.
"Yah, kenapa kamu baru bilang?" Seketika Dhisa merasa tak enak.
"Udah, gapapa. Nanti bisa makan yang lain," ujar Raden santai.
Akhirnya, kupat tahu milik Dhisa dan Gendhis datang bersamaan dengan wedang ronde milik Raden. Lalu mereka segera menikmati pesanannya.
"Sa, mau coba, dong. Kok, kayaknya enak," ujar Raden di tengah-tengah kegiatan makannya.
Dhisa mendengus pelan. Lalu ia mengulurkan sesuap makanannya pada Raden. "Enak ngga?"
Raden mencerna rasanya sejenak. "Enak."
KAMU SEDANG MEMBACA
BINAR
FanfictionDhisa adalah seorang wanita single yang menyukai traveling. Ya, bisa dibilang travelingnya masih yang dekat-dekat aja, sih, di sekitar Pulau Jawa. Dhisa memiliki saudara sepupu yang akrab sejak kecil sampai saat ini, yaitu Noura. Noura ini memiliki...
