Dua bulan pertama pernikahan rasanya memang masih banyak senang-senangnya. Pun Dhisa dan Raden yang masih nyaman menciptakan momen bersama. Entah saat di fase senang maupun susah. Ya, meskipun badainya hanya badai kecil.
Di sisi lain, pertanyaan-pertanyaan template dari orang-orang sekitar mulai dilontarkan untuk pasangan yang masih terbilang baru ini. Kalau boleh jujur, sebenarnya Dhisa mulai bosan mendengar kalimat-kalimat yang seakan-akan mengatur kehidupan rumah tangganya.
Dengan sabar, Raden selalu menenangkan Dhisa ketika suasana hatinya mulai terpancing. Lagi pula, semakin ke sini, Dhisa mulai terlatih untuk mendengar kalimat-kalimat yang terdengar menyebalkan baginya itu. Mungkin berkat kehadiran dan kesabaran Raden pula ia dapat meredam kekesalan dan membuat suasana hatinya menghangat kembali.
Seperti pagi menjelang siang ini contohnya. Dhisa sedang menghadiri arisan di lingkungan rumahnya bersama Nindi, tetangga sekaligus teman SMP-nya. Ini sudah kali kedua ia mengikuti arisan bersama ibu-ibu lincah yang tinggal di lingkungan rumahnya.
"Mbak Nindi sudah berapa bulan kandungannya?" tanya Bu Wulan.
"Alhamdulillah, mulai masuk trimester kedua, Bu." Nindi menjawab dengan ramah sembari mengelus-elus perutnya.
"Alhamdulillah. Semoga Mbak Dhisa segera menyusul dapat momongan, ya," ujar Bu Wulan.
"Iya, makasih, Bu," sahut Dhisa seperlunya.
"Mbak Dhisa kalau mau konsultasi bisa ke keponakan saya. Kebetulan dia dokter kandungan, Mbak," ujar Bu Yuli.
"Oh iya, Bu. Kapan-kapan saya coba," jawab Dhisa dengan ramah.
"Mungkin bisa dikurangi kegiatan sama kesibukan kerjanya juga, Mbak," sambar Bu Lilis.
"Waduh, kayaknya susah kalo itu." Dhisa berusaha menunjukkan sikap ramah.
"Udah, ya, Ibu-Ibu. Orang Mbak Dhisa juga masih muda, usia pernikahannya belum lama, biar senang-senang dulu sama suaminya. Nanti kalau udah terlanjur punya anak, kan, malah tambah pusing. Iya, to?" sambar Mbak Syifa, salah satu ibu muda yang sudah beranak dua di usianya yang baru menginjak kepala tiga.
Dhisa tersenyum lega saat masih ada yang berpihak dengannya. "Benar, Mbak."
"Iya, memang betul, Mbak Syifa. Tapi justru karena masih baru, kan, sebaiknya perlu persiapan dan konsultasi juga ke dokter. Maaf, lho, Mbak. Takutnya aja, nih, nanti kalau misalkan ada sesuatu yang ngga dinginkan, kita jadi tahu lebih awal," jelas Bu Wulan.
"Nah, iya. Takutnya kalau kelamaan nanti tambah susah, Mbak. Amit-amit juga kalau nanti suaminya jadi ngelirik yang lain," timpal Bu Lilis.
"Walah, Bu. Ngomong apa, to. Kalau saya lihat, sih, Mas Raden ngga bakalan sampai kayak gitu," sambar Bu Yuli.
"Ya, antisipasi aja, Bu. Apalagi Mas Raden ganteng, pasti banyak yang ngincar itu," ujar Bu Lilis.
"Tenang, ya, Ibu-Ibu. Saya berterima kasih untuk saran dan doa baiknya. Saya dan suami juga perlu siapin dana untuk kehidupan anak kami nanti supaya mendapat perlakuan yang layak. Biar anaknya nanti juga senang, cerdas, dan bermoral." Dhisa mempertegas kalimat akhirnya sembari tersenyum lebar meskipun isi kepalanya ingin meledak.
"Iya, Bu. Lagian pasti Mbak Dhisa juga udah paham," sahut Nindi.
"Yang namanya rezeki ngga ke mana, kok, Bu. Saya punya anak dua masih kecil-kecil juga suka pusing sendiri ngadepinnya. Udah, kamu santai aja, ya. Jangan dibuat stres," kata Mbak Syifa pada Dhisa.
Dhisa menganggukkan kepala. Ia berusaha meminimalisir kata-kata yang keluar dari mulutnya agar tak kebablasan.
"Ngomong-ngomong, Mas Raden itu dulu pernah dekat sama keponakan saya, lho, Mbak," ujar Bu Lilis.
KAMU SEDANG MEMBACA
BINAR
FanfictionDhisa adalah seorang wanita single yang menyukai traveling. Ya, bisa dibilang travelingnya masih yang dekat-dekat aja, sih, di sekitar Pulau Jawa. Dhisa memiliki saudara sepupu yang akrab sejak kecil sampai saat ini, yaitu Noura. Noura ini memiliki...
