Tak jarang, waktu terasa berjalan begitu cepat, terkadang juga terasa berjalan lambat. Ada kalanya ingin kembali memutar waktu dan ada kalanya ingin mengintip masa depan agar tak perlu melewati masa-masa berat yang tengah dialami. Permasalahan ini juga terjadi pada Dhisa yang akhir-akhir ini kerap memutar kenangan beberapa tahun silam. Berbeda dengan Dru, anak laki-lakinya yang justru tak sabar berada di masa depan. Anak itu memiliki angan-angan menjadi orang dewasa yang bisa berkendara, bermain gadget setiap hari, bekerja, dan menjelajah dunia.
Pada siang bolong, pintu rumah mendadak terbuka lebar.
"Assalamu'alaikum..." Suara nyaring yang cukup khas terdengar dari arah luar ruangan.
Dhisa yang pandangannya semula terpaku pada layar TV, lantas beralih mengarah ke pintu depan. Sebenarnya, tanpa memastikan pun ia dapat mengenali dari suara nyaringnya itu. "Wa'alaikumsalam."
"Mami..." panggil bocah laki-laki sambil berlari memasuki rumah.
Dhisa menggeleng pasrah. "Ibu, Nak." Bukan pertama kalinya ia mendapat sapaan itu. Bahkan anak itu sesuka hatinya menggonta-ganti panggilan. Tergantung ia menghabiskan waktu bermain dengan siapa di sekolahnya.
Memasuki ruang tengah, tempat di mana sang ibu berada. Anak berseragam Kelompok Bermain itu menyalami tangan Dhisa dan tak lupa mengecup basah kedua pipinya.
Selesai menyapa sang ibu, anak itu buru-buru melepas tas gendong dan mencari-cari sesuatu di dalamnya. "Mami, liat! Tadi di sekolah dikasih oleh-oleh gantungan kunci sama teman Dru, lho... Habis liburan ke Singapore, katanya." Anak laki-laki itu menunjukkan benda kecil pemberian temannya.
"Wah, bagus, tuh. Disimpan, Nak. Nanti kita coba pasang," timpal Dhisa.
Dru mengangguk paham. "Emangnya Singapore itu di mana, Mi?" tanya Dru dengan antusias.
"Assalamu'alaikum..." Raden yang baru memasuki rumah mendekat ke ke ruang tengah.
"Nak, setelah pulang sekolah itu harus dibiasakan apa kalau kata Ibu? Itu mainannya ditaruh dulu. Cuci tangan, cuci kaki, cuci muka, ganti baju dulu sama Ayah, yuk," ajak Raden pada Dru.
"Oh iya, lupa." Dru menepuk pelan jidatnya. "Sebentar, ya, Mi..."
Sekembalinya dari kamar mandi, Dru masuk ke kamarnya untuk mengganti pakaian, lalu Raden membiarkan sang anak menyelesaikan urusannya secara mandiri. Di usia yang menginjak empat tahun ini, Dhisa dan Raden membiasakan Dru untuk mengenakan pakaiannya sendiri meskipun terkadang anak itu memakai setelan yang kurang pas. Atasan Merah dan bawahan hijau, misalnya.
"Mas Dru, nanti mau makan pakai apa?" tanya Dhisa dengan sedikit berteriak.
"Spaghetti carbonara!" seru Dru dari arah kamarnya.
Seperti sebelum-sebelumnya, bocah laki-laki itu terkadang memang meminta makanan yang tak masuk ke list makanan sehari-harinya. Terkadang menu-menu permintaannya itu ia ketahui dari tontonan di televisi atau dari bekal teman-teman sekolahnya.
Di sisi lain, Raden menyampirkan jaket jeans yang dikenakannya pada sandaran sofa ruang tengah, lalu duduk di sebelah Dhisa.
"Dia disekolahin di tempat yang bagusan dikit kenapa jadi begitu, ya?" tanya Raden.
"Ya, namanya juga terbawa lingkungan," jawab Dhisa.
"Dulu waktu masih di sekolah PAUD dekat sini mana ngerti makanan aneh-aneh. Biasanya juga minta telor dadar, nugget, sama chicken karaage paling mentok," timpal Raden.
"Ya udah biarin aja, sih. Usia segitu emang lagi eksplor banyak hal," timpal Dhisa.
"Siap-siap, nih, besok anaknya bakal minta yang lebih nyeleneh," kata Raden.
KAMU SEDANG MEMBACA
BINAR
FanfictionDhisa adalah seorang wanita single yang menyukai traveling. Ya, bisa dibilang travelingnya masih yang dekat-dekat aja, sih, di sekitar Pulau Jawa. Dhisa memiliki saudara sepupu yang akrab sejak kecil sampai saat ini, yaitu Noura. Noura ini memiliki...
