Pukul 11.20, Dhisa dan Raden memutuskan check out dari villa kedua yang disinggahinya. Sesuai rencana awal, mereka akan mampir terlebih dahulu ke Pasar Seni Sukawati untuk membeli oleh-oleh keluarganya di Jogja. Pasar ini terletak di Kabupaten Gianyar. Pasar ini menjual berbagai berbagai kerajinan tangan khas Bali. Dan bisa dibilang tempat ini adalah surganya oleh-oleh karena harganya lebih terjangkau. Pasarnya pun tak terlihat seperti pasar tradisional karena sudah direvitalisasi sehingga sudah tertata rapi dan dapat berbelanja dengan nyaman.
Hanya membutuhkan waktu perjalanan sekitar 30 menit dari villa menuju Pasar Seni Sukawati. Namun, kali ini raut wajah Dhisa terlihat sedikit masam dan matanya sedikit sembab lantaran pada akhirnya ia harus menyetujui permintaan Raden tadi pagi. Sedangkan Raden yang tengah berada di balik kemudi itu tampak santai dan biasa-biasa saja. Melihat itu membuat perasaan Dhisa menjadi dongkol.
"Nanti kamu ajalah yang masuk ke pasar. Terserah mau belanja apa aja. Kalo bingung, tanya ke penjualnya aja biar mereka yang kasih rekomendasi," ujar Dhisa datar.
"Lah? Kenapa gi—" Kalimat Raden terputus.
"Pikir sendiri," ucap Dhisa ketus.
Raden merasa tertampar dengan kalimat Dhisa yang singkat, tapi menohok. "Sayang..." Raden meraih tangan kanan Dhisa. Namun, Dhisa tampak ogah-ogahan menyerahkan tangannya pada suami.
"Maaf, ya, Sayang." Raden hanya mampu mengucapkan itu.
"Kamu ngga ngerti rasanya, Den."
"Iya, maaf. Besok-besok aku bakal lihat sikon dulu," ujar Raden.
"Kamu ngga bisa paksa sesuka hati gitu, dong," sahut Dhisa yang masih kesal.
"Iya, Sa. Aku salah."
"Pokoknya aku tetap mau tunggu di mobil aja," ujar Dhisa.
Raden menghembuskan nafasnya perlahan. Ia memang harus mengalah dulu. "Iya, kamu istirahat di mobil, ya."
"Nanti sambil video call aja belanjanya," ujar Dhisa lagi.
Raden mengecup berkali-kali punggung tangan Dhisa yang ada pada genggamannya. "Sekali lagi maaf, ya. Aku sayang kamu." Lidahnya sedikit kelu saat mengucapkan kalimat itu.
"Iya." Dhisa masih kesal melihat Raden.
Setelah menyusuri jalanan selama 35 menit, akhirnya Raden memarkirkan mobilnya di parkiran basement pasar. Sebelum turun dari mobil, Raden memastikan kembali keadaan istrinya yang suasana hatinya sedang buruk akibat ulahnya juga. Raden menjadi tak enak hati karena tadi pagi ia lebih mengutamakan hawa nafsunya.
Raden memutar posisi duduknya ke arah Dhisa yang masih terlelap usai perdebatannya selama di perjalanan tadi. Raden merasa kasihan. Lalu ia terus-terusan mengecup wajah sang istri dengan penuh kasih sayang. Untung saja kaca mobil sewaannya tak terlalu tembus pandang. Bisa-bisa nanti orang lain menilainya sedang berbuat hal yang tidak-tidak.
"Udah sana. Aku mau tidur. Mobilnya jangan dimatiin dulu," ujar Dhisa yang menjauhkan kepalanya dan masih dengan mata yang terpejam.
"Sayang, kamu ngga jadi temanin belanja lewat video call?" tanya Raden.
"Iya, nanti. Aku mau tidur sebentar," sahut Dhisa.
"Ya udah, aku lihat-lihat dulu ke dalam. Nanti kalo ada telepon dari aku diangkat, ya," pesan Raden.
Dhisa hanya membalas dengan gumaman.
Dengan berat hati Raden harus meninggalkan Dhisa di parkiran dan mulai melangkahkan kakinya ke dalam pasar. Di dalam banyak sekali kios-kios yang menjual berbagai macam barang seperti pakaian, tas, sandal, pernak-pernik, dan kerajinan tangan lainnya. Baru saja kakinya menginjak area dalam pasar, ia sudah disambut oleh para pedagang di sana. Banyaknya pedagang yang menawarinya ini dan itu sampai-sampai membuat dirinya kebingungan.
KAMU SEDANG MEMBACA
BINAR
Fiksi PenggemarDhisa adalah seorang wanita single yang menyukai traveling. Ya, bisa dibilang travelingnya masih yang dekat-dekat aja, sih, di sekitar Pulau Jawa. Dhisa memiliki saudara sepupu yang akrab sejak kecil sampai saat ini, yaitu Noura. Noura ini memiliki...
