69

1.1K 91 21
                                        

Dhisa mengemasi barang-barang miliknya juga si bayi ke dalam satu koper kecil. Sejak dua hari lalu, Dru rewel dan demam hingga membuatnya kelimpungan. Pagi ke malam, bayi itu tak bisa lepas dari ibunya. Tentunya membuat Dhisa kesulitan untuk beraktivitas kecil di rumah.

Tadi pagi, ia sudah membawa Dru kontrol ke dokter spesialis anak karena dikhawatirkan terjadi sesuatu. Namun, memang menurut dokter itu hanya reaksi lumrah di fase tumbuh kembangnya si anak. Hingga pada akhirnya, ia memutuskan untuk menginap beberapa waktu di rumah Papa Adi.

Raden pun tak tega jika harus meninggalkan dua orang terkasihnya itu di rumah ketika ia pergi bekerja. Untuk itu, ia tak perlu mendebat saat Dhisa meminta persetujuan untuk menginap ke rumah orang tuanya sementara waktu.

Kini, ketiga orang itu berada di dalam mobil melaju dengan kecepatan sedang karena kondisi jalanan yang cukup padat. Raden tak melepas genggamannya dengan tangan Dhisa meski, kecuali saat ia harus mengoperasikan persneling mobil.

Begitupun Dhisa yang wajahnya tampak sayu dan kusut akibat dua hari dua malam kewalahan menghadapi sikap rewel dan manjanya Dru. Kedua tangannya aktif. Tangan satunya ia gunakan untuk menyangga si bayi pada dekapannya, lalu yang satunya ia gunakan untuk meminta kekuatan dan sedikit ketenangan pada Raden.

"Habis ini kamu istirahat, ya," ujar Raden.

Dhisa mendesah lirih. Pasrah. "Kalau bisa, aku juga mau santai-santai sambil tiduran, tapi gimana caranya? Dru lagi butuh aku, dia lagi sensitif, ngga bisa jauh-jauh dari aku. Dia ditinggal tiga detik aja udah gelisah, terus ujung-ujungnya nangis." Ia menghela napasnya sejenak. "Den, aku salah apa, ya? Apa ASI-nya bermasalah?" Matanya berkilau menunjukkan kesedihan.

"Kata dokter, kita memang harus melewati fase ini, bukan berarti salah ibunya. Mungkin Dru lagi beradaptasi aja, Sayang." Raden mengelus tangan Dhisa dengan ibu jarinya.

"Sampai kapan? Sampai kapan aku begadang, kurang tidur, ngga bisa urus kamu, urus rumah? Semuanya jadi ngga bisa aku pegang sampai harus ngerepotin kamu sama orang tua terus." Dhisa mengeratkan genggamannya. Tampak air matanya sedikit lagi keluar.

"Yang bikin repot, tuh, siapa? Orang aku biasa aja. Mama sama papa juga ngga ngerasa repot katanya. Mereka sering tanya-tanya kabar anak dan cucunya ke aku akhir-akhir ini. Justru aku yang khawatir sama kamu. Lain kali, gapapa kalau kamu mau istirahat, kan, bisa gantian sama aku jagain anaknya. Dru juga perlu perhatian ayahnya sering-sering."

Dhisa tersenyum datar dan berkaca-kaca. "A—aku salah, ya?"

"Ngga ada salah atau benar. Kita lagi sama-sama belajar."

"Maaf."

"Ngga perlu, Sayang." Raden mengecup tangan Dhisa.

Dhisa mengedarkan pandangannya ke balik jendela mobil. "Ini kapan sampainya, sih?" keluh Dhisa.

Raden mengernyit bingung. "Kenapa?"

"Tanganku pegal, pengen peluk."

Raden mengembangkan senyumnya. "Sabar. Dua belokan lagi."

Dhisa mengangguk pasrah, lantas ia beralih mencium wajah Dru yang tengah terlelap di gendongannya.

***

"Coba, deh, anaknya dibalurin bawang merah tumbuk yang udah dicampur minyak telon. Dulu Mama suka gitu kalau anaknya lagi rewel, apalagi kalau demam atau batuk pilek," ujar Mama Dita.

"Di kulit panas, Ma, kasihan," jawab Dhisa.

"Hangat, kok, Nduk. Justru bagus manfaatnya."

Dhisa menimbang sejenak. Sepertinya tak ada salahnya kalau ia mengiyakan saran dari mamanya. "Coba sedikit dulu, deh, Ma. Takut kalau kulitnya sensitif nanti makin rewel."

BINARTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang