Perempuan nyaris paruh baya itu sudah dua minggu ini resmi menjadi penghuni baru di rumah Raden dan keluarga kecilnya, Bu Kasmi panggilannya. Sesuai dengan rencana, Dhisa dan Raden akhirnya berhasil menemukan asisten rumah tangga atas bantuan dan rekomendasi dari Mama Arum.
Bu Kasmi biasa datang pada pukul 06.30 dan pulang pada pukul 15.30 setiap hari Senin sampai Sabtu. Waktu tempuh dari rumahnya menuju rumah Raden pun hanya sekitar 15 menit saja sehingga masih terbilang fleksibel.
Sejak satu minggu terakhir, Dhisa semakin cocok dengan kinerja Bu Kasmi dalam membantu kesehariannya. Orangnya terlihat tulus dan tidak neko-neko. Atas kemantapan hatinya itu maka membuat Dhisa tak perlu repot-repot lagi untuk mencari pengganti.
"Maaf, Mas, Mbak, anu... Apa namanya... Hmm, itu, lho—" Bu Kasmi tampak kebingungan dalam mengungkapkan kata-kata. Hembus napasnya pun seperti tak teratur.
Dhisa dan Raden yang tengah menikmati sarapannya pun refleks melempar pandang dan saling bertanya lewat mata. Keduanya sama-sama mengernyit bingung.
"Ada apa, Bu?" tanya Raden.
"Anu, Mbak, mau tanya, itu baju tidurnya Mbak Dhisa yang warna merah hati, terus ada renda-rendanya—eh? Bener baju tidur, to, Mbak? Yang seksi—eh, pokoknya yang bahannya halus licin itu, lho, Mbak." Bu Kasmi memandang kedua lawan bicaranya secara bergantian. Namun, lagi-lagi Dhisa dan Raden hanya saling melempar pandang. Bedanya, tatapan Dhisa kali ini terasa lebih tajam di mata Raden.
"Nah, maksud saya, kemarin-kemarin bajunya memang sudah sobek atau karena saya yang kurang telaten waktu urus cucian, ya? Takutnya karena agak kemrungsung, saya jadi kecolongan," lanjut Bu Kasmi.
Raden berdeham, menetralkan tenggorokannya yang baru saja meneguk air putih.
"Kan, aku udah bilang, jangan dijadiin satu sama baju kotor yang di keranjang," bisik Dhisa pada Raden dengan ketus.
"Sebelumnya maaf, ya, Mbak, kalau sobeknya itu memang karena hasil kerjaan saya. Nanti biar saya ganti atau potong bayaran juga gapapa, wes, Mbak," kata Bu Kasmi lagi dengan sopan serta raut harap-harap cemas sebab sang tuan rumah belum memberi tanggapan.
Raden tersenyum kikuk, gerakan bola matanya tampak tak leluasa. "Lupa. Lagian ketumpuk sama celanaku, jadi ngga kelihatan waktu mau masukin ke keranjang." Suaranya tak kalah lirih pada Dhisa yang duduk tepat di bangku sebelahnya.
Dhisa mendengus pelan, lalu sedikit memalingkan wajahnya seolah tengah berpikir, padahal tidak. Ia seperti itu karena menahan rasa canggung.
"Oh, emang sobeknya parah, ya, Bu?" tanya Raden.
"Ya, ngga juga, sih. Cuman sobek sedikit, sekitar 2 senti, Mas, " jawab Bu Kasmi.
Raden mengangguk santai. "Udah, biarin aja gapapa, Bu. Mungkin kena cakarnya Beno. Biasalah."
Lantas Bu Kasmi mengembuskan napasnya yang tampak seringan kapas. Akhirnya, rasa was-was kembali tenang. "Oalah, gara-gara kucingnya Mbak Dhisa, to. Saya lega kalau gitu. Ya udah, dilanjut sarapannya, Mas, Mbak," timpal Bu Kasmi, lalu ia kembali ke belakang untuk melanjutkan kegiatannya yang tertunda.
Sementara, sepasang suami istri itu hanya mengangguk dan tersenyum seadanya.
"Malu..." ucap Dhisa lesu.
Raden menyeringai jahil. Tangannya beralih mengelus pundak Dhisa, lalu mengecup pelipisnya. "Maaf, ya."
Dhisa melempar senyum masam. "Lain kali mainnya lebih rapi, kek."
Raden terkekeh pelan. "Udah, santai aja, Bu Kasmi juga pernah muda."
Dhisa berdecak lirih. "Jangan teledor lagi. Yang begini udah masuk ke ranah dapur pribadi."
KAMU SEDANG MEMBACA
BINAR
FanfictionDhisa adalah seorang wanita single yang menyukai traveling. Ya, bisa dibilang travelingnya masih yang dekat-dekat aja, sih, di sekitar Pulau Jawa. Dhisa memiliki saudara sepupu yang akrab sejak kecil sampai saat ini, yaitu Noura. Noura ini memiliki...
