29

1.5K 112 9
                                        

Satu minggu berlalu. Sabtu pagi menuju siang ini, Raden kembali bertemu Dhisa. Ia menjemput Dhisa untuk diajaknya ke makam ibu kandungnya. Makamnya berada di pinggir desa tempat kelahiran ibunya. Mungkin hanya butuh waktu 20 menit dari rumah Dhisa menuju ke sana.

"Hai, sorry agak lama," sapa Dhisa saat memasuki mobil setelah Raden menunggunya sekitar lima menit.

Raden menganggukkan kepala. "Kita ke makam dulu ya, Sa."

"Ok," jawab Dhisa.

"Aku udah lama ngga ke makam. Kayaknya terakhir waktu lebaran, deh," ucap Raden yang sudah mengendarai mobilnya menjauh dari rumah Dhisa

"It's ok, yang penting doa dari anaknya jangan sampai putus, ya," jawab Dhisa.

"Iya, pasti. Aku ngga nyangka, deh, sekarang datang ke makam lagi udah sama kamu," ujar Raden.

"Ibu pasti senang, ya, kalo tau anaknya udah dewasa gini. Hebat, mandiri, urus usaha sendiri, sayang ke ibu dan adik sambung, terus sekarang udah berani ajak anak orang buat nikah," ucap Dhisa.

"Senanglah, apalagi kalo tau calon istrinya itu kamu," sahut Raden.

Dhisa menatap orang di sebelahnya dengan malas. "Hmm, Den. Kamu pernah ajak mantanmu ke makam ibu ngga?"

"Nggalah, kan, cuma kamu yang berhasil sampai ke tahap ini," jawab Raden santai.

"Oh, iya juga," singkat Dhisa yang menutupi salah tingkahnya.

***


Sesampainya di makam, Raden dan Dhisa langsung membersihkan rumput-rumput kecil yang mulai tumbuh di sekitaran makam almarhumah Ibu Aryanti, ibunya Raden. Setelah itu, mereka menaburkan bunga dan air mawar yang tadi dibelinya saat menuju makam. Lalu dilanjut dengan mengirim doa dengan khusyuk.

Usai berdoa, mereka sama-sama terdiam memandangi gundukan tanah dengan hiasan batu nisan. Mereka seperti berkomunikasi dengan almarhumah Ibu Aryanti dalam hatinya masing-masing. Entah apa saja yang mereka tuturkan di sana. Yang jelas banyak doa yang mereka panjatkan dan ada harapan yang mereka ceritakan.

"Assalamualaikum, Ibu Aryanti," sapa Dhisa memecah keheningan.

"Assalamualaikum, Bu. Ini Dhisa, insya Allah yang bakal jadi istrinya Raden," ucap Raden.

Kemudian mereka saling bertukar pandang. Ada senyum haru yang mereka ukir. Raden yang sudah berdamai dengan hidupnya itu hanya tersenyum saat mendatangi makam ibunya, sedangkan Dhisa dengan hati lembut layaknya perempuan itu memandangi makam di depannya dengan mata yang sudah berkaca-kaca, bahkan hampir menitikkan air matanya. Raden pun menenangkan Dhisa dengan merangkulnya dan mengusap lembut lengannya.

Sampai tak terasa, sudah setengah jam mereka berada di makam. Matahari pun mulai berada di atas kepala. Lalu Raden mengajak Dhisa untuk segera bergegas dari sana. Dan siang itu mereka melanjutkan perjalanannya ke lokasi selanjutnya. Rumah tempat tinggal mereka nantinya.

"Den, kok kamu bisa kuat?" tanya Dhisa usai memakai seat belt-nya.

"Dulu ngga sekuat itu, kok, apalagi waktu aku masih SMP mendadak suasana rumah jadi kosong dan hampa tanpa ibu. Tapi aku belajar ikhlas, karena orang-orang sekitarku juga kuat dan hebat. Saudara-saudara dari ayah sama ibu juga sempat bantu ayah buat rawat aku waktu itu. Terus selang beberapa tahun kemudian waktu aku mulai masuk SMA, Ayah juga mulai kenalin Mama. Ayah kasih pengertian baik-baik ke aku. Dan saat itu aku juga ngerasain ketulusan Mama ke aku. Sampai akhirnya, mereka menikah dan suasana rumah mulai terasa hidup lagi," jawab Raden.

Dhisa kembali berkaca-kaca. Padahal Raden menceritakan segelintir kisahnya dengan santai dan tak bermaksud untuk membuat suasana menjadi haru. Lagi-lagi Raden berinisiatif untuk menenangkan Dhisa. Ia meraih tangan Dhisa untuk digenggam dan mengelusnya lembut.

BINARTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang