Sabtu ini, Dhisa membuat kesepakatan bersama Raden untuk menghabiskan waktunya dengan me time. Hal itu ia lakukan dengan maksud supaya keduanya dapat merelaksasi pikiran dan mengisi ulang energi dengan kegiatan yang disenangi oleh dirinya masing-masing.
"Aku hari ini mau treatment wajah, terus pulangnya mampir beli-beli dulu, Den. Kamu juga boleh-boleh aja, kok, kalo mau pergi main. Mau mancing atau main sama Oman terserah, deh. Pokoknya hari ini kita spend time buat diri sendiri dulu. Gimana?" Suara Dhisa yang terdengar santai sembari bergerak lihai untuk menyiapkan sarapan di meja makan.
Raden mengerutkan dahi. Ada-ada saja ide wanitanya ini. "Aku hari ini temenin kamu aja, ya." Raden meraih piring untuknya dan Dhisa.
"Ngga bisa. Aku bakalan lama treatment-nya, kamu juga pasti bakal bosan kalo kelamaan nunggu. Belum lagi di sana tuh isinya kebanyakan perempuan. Aku ngga mau, ya," ujar Dhisa memandang serius pada Raden.
Raden tersenyum masam. "Ya udah. Kamu sampai jam berapa?"
"Sore mungkin. Nanti aku pergi jam setengah 10, ya, Den," jawab Dhisa.
"Berangkat sama aku aja, ya? Sekalian mau pergi juga."
"Ya udah, boleh. Habis ini aku siap-siap."
Mereka lanjut menyelesaikan sarapannya sembari berbincang santai. Walaupun berat hati, Raden tetap menerima usulan Dhisa. Lagi pula, ia juga sudah lama tak menghabiskan waktunya seperti di saat masa bujang.
Setelah itu, mereka bersiap-siap untuk pergi ke tujuannya masing-masing. Entah Raden akan menghabiskan waktu ke mana, ia pikirkan sambil jalan.
Pukul 10.00, mereka tiba di klinik kecantikan. Raden hanya mengantar sampai depan klinik karena melihat kondisi tempatnya yang ramai jika dilihat dari kendaraan yang terparkir, apalagi Dhisa juga tak menginginkan Raden ikut masuk.
"Aku masuk dulu, ya. Pokoknya enjoy aja sama waktu me time kamu." Dhisa mengemasi barang-barangnya ke dalam tas.
"Sambil video call boleh ngga, sih?" tanya Raden asal.
"Ish, nanti aku ngga banyak pegang HP, Den. Pokoknya kalo udah mau selesai pasti aku kabarin, kok," jawab Dhisa.
Raden menarik Dhisa ke dalam dekapannya. "Sa, kamu ngga khawatir aku mau pergi ke mana?"
"Engga. Paling cuma gitu-gitu aja, kan?"
Raden berdecak pelan. "Iya, sih. Paling aku mau mancing, terus agak sorenya mau futsal sama Oman juga."
"Ya udah, nanti kalo aku ganggu waktumu biar aku naik taksi online aja, Den." Dhisa merenggangkan dekapan eratnya dengan Raden.
"Apa, sih? Orang ngga ganggu sama sekali."
Dhisa terkekeh lirih. "Bye. Aku masuk, ya. Jangan kelamaan pamitannya, udah dilihatin tuh sama tukang parkir."
"Sa..." Raden menahan lengan Dhisa.
"Bentar dulu, sekali lagi," lanjutnya. Ia langsung membawa Dhisa ke pelukannya dan menciumi wajahnya.
Dhisa hanya memandang pasrah sambil setengah memberontak. "Udah, ya. Aku masuk."
"Bye, Sayang." Raden tersenyum puas, sedangkan Dhisa hanya melambaikan tangannya sambil bergegas meninggalkan Raden yang berada di dalam mobil.
Pada akhirnya, Raden memilih untuk menghabiskan waktunya dengan memancing di kolam pemancingan milik Oman. Sebelumnya, ia sempat mampir ke bengkel sebentar sebelum memutuskan memancing.
Akhir pekan seperti ini jarang-jarang mereka tak melaluinya bersama. Meskipun pernah, mungkin hanya hitungan jari saja yang disebabkan oleh urusan pekerjaan atau hal mendesak.
KAMU SEDANG MEMBACA
BINAR
Fiksi PenggemarDhisa adalah seorang wanita single yang menyukai traveling. Ya, bisa dibilang travelingnya masih yang dekat-dekat aja, sih, di sekitar Pulau Jawa. Dhisa memiliki saudara sepupu yang akrab sejak kecil sampai saat ini, yaitu Noura. Noura ini memiliki...
