67

1.3K 97 30
                                        

Sudah satu minggu ini Dhisa bermalam di rumah Papa Adi sejak masa cutinya berlaku. Mendekati hari perkiraan lahir, ia merasa tak karuan. Ada ketakutan-ketakutan yang dipendam olehnya. Mungkin ini memang hal lumrah yang dirasakan para ibu hamil, pikir Dhisa. Ia juga selalu menepis pikiran buruk yang tiba-tiba keluar dari benaknya.

Perut yang besar serta bobot yang bertambah membuat pergerakannya tak leluasa. Tak hanya itu, sering kali ia mengeluarkan keringat yang membasahi kulit tubuhnya, lalu menjadi mudah terengah-engah meski hanya bergerak sedikit. Belum lagi rasa tak nyaman yang sewaktu-waktu menyerang punggung, pinggul, dan perutnya.

Raden memutar balik laju kendaraannya. Lima menit yang lalu, ia menepikan motor untuk menerima panggilan telepon dari Mama Dita, mertuanya.

"Mas Raden." Suara Mama Dita terdengar melengking saat Raden menerima panggilan telepon.

"Mas, kayaknya Dhisa udah tanda-tanda pembukaan."

Raden masih mengumpulkan fokusnya di tengah-tengah keramaian jalan.

"Gimana, Ma?" Raden tak begitu yakin dengan lontaran Mama Dita barusan karena berisiknya suara kendaraan berlalu-lalang.

"Dhisa udah tanda-tanda pembukaan. Mama sama papa mau bawa ke rumah sakit sekarang."

"I—iya, Ma. Nanti saya nyusul." Ia membeku sejenak. Rasa gugup seketika menyelimuti Raden.

Begitu sambungan telepon tertutup, pandangan Raden lurus dan sedikit memburam saat menatap aspal di depannya. Dengan menghirup dan menghembuskan napasnya perlahan-lahan, ia menjadi sedikit tenang dan membuat kesadarannya kembali.

Berhasil melewati kemacetan pada sore hari itu, Raden bergegas ke menghampiri Papa Adi yang tengah duduk menunggu urusan administrasi. Setelah menyapa sang mertua, ia mengambil alih urusan administrasi yang tak begitu banyak itu.

Kini, mereka sudah berada di ruang inap menemani Dhisa yang terbaring lemah di atas brangkar akibat mengalami kontraksi yang sesekali datang. Raden mengelus lembut lengan serta perut istrinya yang matanya terpejam erat saat menahan rasa sakit.

"Ssh—sakit," desis Dhisa.

Raden menatap gelisah. Ia mengulurkan botol air minum yang tutupnya sudah dibuka pada Dhisa. "Minum dulu, Sayang."

Dhisa pun meminum air mineral itu dengan bantuan Raden yang memegangnya. "Bantuin duduk, punggungku pegal."

Raden merangkul Dhisa untuk membantunya duduk. "Sa, maaf, ya."

"Kenapa?"

"Kamu harus kesakitan kayak gini."

Dhisa mengukir senyum yang dipaksa. "Ngga usah kayak gitu, deh. Kan, aku ikut andil."

"Sakit banget, ya?"

Dhisa mengangguk pelan. "Serius, ini beneran sakit, Den." Ia mengatur hembusan napasnya yang sesekali sembari memejamkan matanya.

"Sabar, ya. Aku juga ngga tega lihat kamu nahan sakit lama-lama."

Dhisa mencengkeram lengan Raden saat kontraksi kembali datang. "Ternyata benar, rasanya kayak antara hidup dan mati." Matanya mulai berkaca-kaca.

Raden makin tak sampai hati melihat keadaan istrinya. "Sayang, kamu harus kuat, ya." Ia mengecup kening Dhisa dan memberi sentuhan lembut di perutnya.

"Tolong bantu Ibu, ya, Nak," kata Raden.

"Sayang, aku minta maaf kalau selama ini banyak salah ke kamu." Dhisa yang tak kuasa menahan air matanya. "Makasih karena kamu lebih banyak sabarnya selama ini."

Raden mengangguk, lalu kembali mengecup kening istrinya. "Iya, Sayang."

"Doain aku baik-baik aja selama menjalani persalinan nanti," kata Dhisa lirih.

BINARTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang