71

1.1K 79 18
                                        

Malam terasa sunyi meski suara televisi dan cahaya lampu menemani ruang yang kosong. Di ruang tengah, seorang laki-laki yang duduk bersandar di sofa tampak sedikit kusut akibat fokusnya pada ponsel yang ia genggam. Mata Raden tak lepas dari layar ponsel yang menampilkan wajah Dhisa melalui video call. Wajah itu tetap sama—teduh, cantik, dan keras kepala.

"Anaknya aman, kok. Besok juga udah balik. Kamu mau oleh-oleh apa?" tanya Dhisa di ujung sana.

"Ngga pengen apa-apa."

Dhisa mengangguk. "Kamu udah makan?"

"Udah barusan pakai rendang, tapi versi mi instannya," jawab Raden.

Perempuan itu menggeleng pasrah dan tersenyum tipis. "Jangan bilang kemarin malam makan itu juga?" tanya Dhisa curiga.

"Ngga. Kemarin makan soto."

"Versi mi instan juga," lanjut Raden santai.

"Astaga. Kayak ngga ada makanan lain."

Mereka terkekeh tanpa ada yang mau mengaku rindu lebih dulu.

"Mana Dru?" tanya Raden.

Lantas Dhisa mengarahkan ponselnya pada orang yang dimaksud. "Nih, tidur."

Raden tersenyum lega. Ada rasa hangat yang menjalar ketika melihat sang buah hati tengah pulas di sana. "Enaknya tidurnya berduaan."

Dhisa memutar bola mata malas. "Ngga usah gitu. Kan, ada mama sama papa juga."

Raden mengubah posisi duduknya menjadi terbaring, lalu ia menghela napasnya yang terasa berat. "Masih lama, ya?"

Dhisa terdiam dan hanya memberi tatapan pasrah.

"Sayang..."

"Sabar. Kan, besok ketemu," sahut Dhisa.

Sementara itu, Mama Dita dan Papa Adi yang tengah berada di ruangan yang sama dengan Dhisa tentu saja samar-samar mendengar obrolan itu. Namun, mereka hanya menanggapi dengan gelengan kepala. 

***

Dengan rasa tak sabar, Raden memasuki rumah mertuanya. Saat mendapat kabar dari sang istri bahwa keberadaannya hampir tiba di rumah Papa Adi maka ia langsung bersiap-siap untuk segera tancap gas. Keputusan menunda kepulangan menjadi Sabtu pagi pun membuat Raden bersemangat untuk menemui istri dan anaknya.

"Lho, udah sampai sini, to, Mas." Papa Adi menyapa Raden di ruang tengah.

Raden tersenyum dan mengangguk. "Iya, Pa. Gimana kabarnya?"

"Sehat, cuma agak pegal-pegal aja habis nyetir jauh," jawab Papa Adi.

"Perjalanannya lancar, Pa?"

"Alhamdulillah, lancar."

Suara langkah kaki terdengar mendekat. "Oalah, ada Mas Raden. Mau nginep atau langsung dibawa pulang istri sama anaknya, Mas?"

Raden menyalami tangan ibu mertuanya. "Kayaknya pulang, Ma."

"Ya udah, gapapa. Itu Dhisa lagi di kamar, Mas," ujar Mama Dita.

Mendengar itu, Raden pamit untuk menyusul ke kamar istrinya. Ia bergegas meninggalkan ruang tengah begitu mendapat anggukan dari mertuanya.

Di kamar, ternyata Dhisa tengah menggantikan popok Dru. Aroma minyak telon menguar dan suara tangisan si bayi itu menggemakan seisi kamar. Tak lama, Dhisa pun menyadari kehadiran seseorang di ambang pintu. Ia menoleh sekilas pada sosok itu, kemudian senyumnya mulai merekah.

"Lihat, Nak, ada siapa itu? Ayahnya Dru bukan?" Dhisa mencoba mengalihkan perhatian si bayi agar berhenti menangis.

Raden mendekat untuk menyapa dua kesayangannya. "Mana anaknya Ayah?" Ia turut bergabung dengan Dru yang tengah menggeliat di atas ranjang.

BINARTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang