26

1.7K 125 10
                                        

Setelah menghabiskan beberapa waktu dengan sesi deep talk yang dilakukan oleh Dhisa dan Raden, sekarang keduanya memutuskan untuk bersinggah dulu di suatu cafe. Langit yang menggelap dan rintik hujan yang mulai turun itu seakan menyambutnya. Baru saja mereka menduduki kursi cafe, kemudian guyuran hujan semakin jelas menampakkan dirinya.

"Hampir jam setengah lima, Sa. Mau pesan makanan berat?" tanya Raden.

"Boleh. Sekalian kamu yang pilih menunya, ya," pinta Dhisa.

Raden mengangguk dengan senang hati.

Pengunjung cafe yang sedang didatangi itu tak terlihat banyak. Mungkin karena tempatnya yang bisa dibilang cukup luas dan terdapat area luar juga dalam, sehingga terasa cukup lega. Apalagi hujan di sore hari membuat suasana yang semakin mendukung untuk berlama-lama di sana.

"Den, kayaknya aku mau ralat yang tadi, deh," ucap Dhisa.

"Yang mana, Sa?" tanya Raden bingung.

"Aku mau lamarannya di bulan kelahiranku aja. Diundur dari rencana awal tadi. Jadi, masih sekitar lima bulan lagi, bukan tiga bulan," ujar Dhisa.

"Sa? Ngga kelamaan?" tanya Raden yang mengerutkan keningnya.

Dhisa menggelengkan kepalanya.

"Lima bulan doang, Den. Selama itu, kita juga bisa sambil introspeksi diri masing-masing dan berserah. Pasti masih banyak juga hal-hal yang perlu kita bahas lagi. Toh, nikahnya juga belum kita tentukan tanggalnya sama orang tua masing-masing, kan?" jelas Dhisa.

"Aku pikir-pikir dulu," ucap Raden datar.

"Den? Ayolah. Lebih lambat dua bulan doang, kok," ucap Dhisa tak menyerah.

"Dua bulan itu lama, Sa," sahut Raden.

"Ngga, Den. Kan, sama aja nanti kita tetap bakalan nikah," jawab Dhisa.

"Sa, lamaran ini, kan, juga buat mengikat hubungan kita, harusnya lebih cepat lebih baik, kan?" ucap Raden.

"I know, tapi aku juga mau ada momen spesial di bulan kelahiranku nanti," ucap Dhisa tetap dengan keinginannya.

"Pokoknya tetap mau aku pikir-pikir dulu," sahut Raden mengakhiri perdebatan.

Keadaan menjadi sedikit canggung. Mereka sama-sama terdiam dan sibuk dengan isi kepalanya masing-masing.

Pelayan cafe datang mengantar pesanan makanan di meja Raden dan Dhisa. Suara alat makan pun mulai mengisi keheningan yang mereka buat. Dhisa bahkan tampak kurang berselera lagi untuk menghabiskan makanannya. Namun, ia paksa walaupun dengan gerakan lambat agar tak menjadi mubazir.

"Udah kenyang?" tanya Raden yang melihat Dhisa menghabiskan makanannya butuh waktu lebih lama dari biasanya.

Dhisa hanya mengangguk-anggukan kepala.

"Ya udah, pulang sekarang, yuk. Hujannya tinggal gerimis aja," ajak Raden.

Dhisa menjadi tak banyak bicara dengan Raden sejak perdebatan singkat di cafe tadi. Di dalam mobil pun mereka hanya berbicara seperlunya. Berbeda dengan tadi siang, suasananya hatinya cerah seperti cuacanya. Kali ini, cuaca yang mendung dan gerimis malah membuat suasananya seolah-olah berpihak dengan perasaan Dhisa.

Raden mengambil tangan Dhisa untuk digenggamnya. Ia sadar suasana hati Dhisa menjadi buruk karena sikapnya juga. Raden mengelus lembut tangan Dhisa dengan jemarinya.

"Maaf, ya, kalo tadi aku nyebelin," ucap Raden.

"Iya," singkat Dhisa.

"Soal yang tadi biar kita putuskan lagi kalo udah benar-benar yakin, ya," ucap Raden.

BINARTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang