Pada Minggu pagi biasanya kebanyakan orang memilih antara menikmati waktu liburnya dengan bermalas-malasan atau bepergian ke luar. Begitu pula dengan Dhisa dan Raden, pagi ini mereka memilih untuk menikmati waktu liburnya untuk bersantai di rumah Papa Adi saja. Lagi pula, keduanya sama-sama masih merasakan lelah dan kantuk.
Setelah keduanya sarapan bersama Mama Dita dan Papa Adi, Dhisa dan Raden memilih bersantai di ruang TV. Sementara itu, Mama Dita dan Papa Adi bersiap-siap untuk ke acara kondangan rekannya. Sebenarnya Mama Dita juga mengajak anak dan menantunya untuk ikut dengannya, namun ada saja alasan anaknya perempuannya itu untuk menolak.
Selang 40 menit kemudian, Mama Dita dan Papa Adi sudah berpenampilan rapi dan siap untuk meninggalkan rumah.
"Mama sama Papa pergi dulu, ya. Kalian kalau mau pulang sebelum Mama dan Papa datang, kuncinya ditaruh di tempat biasa aja, ya, Sa," pesan Mama Dita yang mengulurkan tangannya untuk disalami oleh Dhisa dan Raden.
"Iya, Ma," sahut Dhisa.
"Hati-hati, ya, Ma," kata Raden.
"Iya, Mas. Jangan lupa tutup pintu depan kalau mau istirahat di kamar," ucap Mama Dita lagi.
"Iya, Mama. Itu udah ditunggu papa di depan, Ma," sambar Dhisa.
"Ya udah. Assalamualaikum." Mama Dita berjalan cepat menuju mobil yang mesinnya sudah menyala.
"Wa alaikumsalam," jawab keduanya serempak.
Dhisa dan Raden menutup pintu depan dengan rapat, lalu mereka menuju kamar.
"Den, kita mau pulang kapan?" tanya Dhisa.
"Agak siang aja, ya," jawab Raden.
Dhisa menghampiri Raden yang tengah duduk di tepi ranjang dengan memangku laptopnya. "Kamu ngga mau cukur?" Ia mengusap wajah Raden.
"Kamu risi, ya?" tanya Raden yang refleks ikut mengusap sekitaran dagunya.
Dhisa mengangguk pelan. "Tapi kamu tuh cocok kalau ada brewok tipisnya gini. Lebih tampan dan dewasa."
Raden tersipu dipuji oleh istrinya. "Ya udah, biarin gini aja."
"Kamu cukur aja, please." Raut wajah Dhisa tampak memohon.
"Kenapa? Kamu suka, kan?"
"Pokoknya engga. Nanti makin banyak yang lirik kamu." Suaranya tegas, namun tingkahnya terlihat menggemaskan.
Raden pun terkekeh. "Tapi kamu yang cukur, ya."
"Kok, aku? Cukur sendirilah."
"Sa, ayolah." Raden menaik-turunkan alisnya dan mengedipkan matanya sebelah.
"Kamu kesambet apaan, sih? Bikin merinding aja."
"Sa." Raden memohon.
"Tapi ngga ada nyosor-nyosor, ya." Dhisa menatap Raden dengan serius sekaligus menahan geli.
Namun, Raden tak mengiyakan, justru ia malah senyum-senyum tak jelas. "Nanti, ya, kalau udah di rumah Concat."
Dhisa menggumam tanda ia mengiyakan. Lalu ia merebahkan dirinya di ranjang dengan membelakangi Raden.
Namun, sekian detik kemudian, tiba-tiba ia membalikkan posisi badannya menghadap ke Raden. "Den, aku mau ngomong."
"Kenapa, Sa?" Suara lembut Raden terdengar meskipun pandangannya masih terpaku pada layar laptop.
"Ini kita udah lima bulan menikah ngga, sih?" tanya Dhisa.
Raden tampak berpikir. "Iya, kayaknya."
"Kok, kayaknya?" tanya Dhisa geregetan.
KAMU SEDANG MEMBACA
BINAR
FanfictionDhisa adalah seorang wanita single yang menyukai traveling. Ya, bisa dibilang travelingnya masih yang dekat-dekat aja, sih, di sekitar Pulau Jawa. Dhisa memiliki saudara sepupu yang akrab sejak kecil sampai saat ini, yaitu Noura. Noura ini memiliki...
