Pagi ini, Dhisa tengah duduk di atas matras dengan menghadap ke layar TV untuk mengikuti gerakan prenatal yoga yang ditayangkan di sana. Berhubung kemarin Dhisa dan Raden mendatangi klinik untuk melakukan pemeriksaan dan USG kandungannya yang berjalan 11 minggu maka sesuai anjuran dokter Dhisa mulai melakukan aktivitas olahraga tipis-tipis.
Dengan rileks dan santai, Dhisa mengikuti gerakan demi gerakan yang menuntunnya menggerakkan tubuh ke kanan dan ke kiri. Hanya 30 menit saja ia melakukan yoga kehamilan karena tubuhnya sudah terasa lelah. Di sisi lain, ada Raden yang tengah duduk memantau istrinya selama melakukan olahraga.
"Den, hari ini makan di luar aja, yuk," ujar Dhisa.
"Kamu lagi pengen sesuatu?" tanya Raden.
Dhisa mengangguk sembari meluruskan kakinya di atas matras. "Pengen shabu-shabu."
"Ya udah, kamu istirahat dulu. Nanti agak siang kita makan ke sana."
"Den, sini bentar, bantuin berdiri," perintah Dhisa.
Raden bergegas menghampiri Dhisa dan mengulurkan tangannya untuk membantu sang istri menopang tubuhnya. "Capek, ya? Kamu istirahat di kamar dulu sana." Setelah itu, Raden buru-buru kembali ke sofa.
Saat Raden telah duduk, ia melirik Dhisa sekilas yang masih berdiri menatap dirinya dengan raut datar. "Istirahat, Sa."
Dhisa berdecak pelan. "Kenapa? Kok, kayak ngga mau gitu dekat-dekat sama aku?" ucap Dhisa yang memandang heran tingkah suaminya.
"Hah? Ngga ada," jawab Raden.
Dhisa mencebikkan bibirnya. "Bohong. Jujur aja, kamu kenapa?"
"Ngga kenapa-kenapa, Sa."
"Ngga. Kamu aneh banget. Padahal tadi kelihatan biasa aja." Suara Dhisa mulai bergetar.
Raden lupa kalau istrinya sedang di fase mood swing. Ia akhirnya kembali berdiri dari duduknya dan melangkahkan kakinya dengan cepat untuk menyusul Dhisa yang sudah berjalan menuju kamar.
"Aku gapapa, Sa. Maaf kalau bikin kamu tersinggung." Raden berusaha mencegat Dhisa yang akan menutup pintu kamar.
"Udah, jangan ke sini dulu, aku mau istirahat sendiri di kamar," ujar Dhisa yang kemudian sedikit membanting pintu.
Raden terperanjat seketika. "Sa? Buka sebentar pintunya." Tangannya bergerak mengetuk-ngetuk pelan pintu kamar.
Sudah beberapa kali ketukan, tetapi tetap tak ada jawaban dari dalam kamar. Akhirnya, Raden memutuskan kembali ke ruang TV.
Raden menenangkan pikirnya. Setelah menyadari tingkahnya tadi, ia merasa kalau dirinya memang ada salahnya juga karena sudah membuat Dhisa curiga dan menjadi tersinggung di saat suasana hatinya sedang sensitif dan sulit ditebak. Sudahlah, ia hanya bisa merutuki dirinya sendiri dan menyesali tingkah bodohnya pada Dhisa.
Satu jam berlalu, Dhisa pun keluar dari kamar dengan daster pendeknya dan berjalan menuju dapur tanpa menghiraukan keberadaan Raden. Perempuan itu mengambil buah potong di kulkas dan mengisi ulang botol air minumnya, lalu bergegas kembali ke kamar.
Raden tak mau menyia-nyiakan lagi, lantas ia bergerak cepat untuk menahan pintu kamar yang akan tertutup. "Sa, aku boleh ikut masuk?"
Hening tak ada jawaban, tetapi pintunya dibiarkan sedikit terbuka oleh Dhisa. Raden pun bernapas lega, lalu ia menyusul ke dalam kamar. Ia mendekati istrinya yang duduk di sofa kecil di kamarnya, lalu ia duduk bersimpuh di hadapan Dhisa.
Laki-laki itu meraih tangan sang istri. "Maaf. Aku nyebelin, ya? Aku ngga ada maksud bikin kamu kesal, Sa. Beneran." Raden mencium punggung tangan Dhisa.
KAMU SEDANG MEMBACA
BINAR
FanfictionDhisa adalah seorang wanita single yang menyukai traveling. Ya, bisa dibilang travelingnya masih yang dekat-dekat aja, sih, di sekitar Pulau Jawa. Dhisa memiliki saudara sepupu yang akrab sejak kecil sampai saat ini, yaitu Noura. Noura ini memiliki...
