65. Ghost

1.4K 184 15
                                        

Maaf baru up, hp aku jadi hp milik bersama lagi karena hp ibu aku rusak, dan ternyata waktu seminggu gak cukup buat nulis. Terus, waktu lagi nulis wattpad aku tiba-tiba eror selama 2 harian setelah dipakai habis teleponan, terus dua tombol yang gak aku lingkari tiba-tiba hilang. Aku sempat panik, karena log out sendiri dan gak bisa log in, buat akun baru gak bisa, buka pakai web juga gak bisa dan ternyata semua solusinya cukup turn off hpnya.

 Aku sempat panik, karena log out sendiri dan gak bisa log in, buat akun baru gak bisa, buka pakai web juga gak bisa dan ternyata semua solusinya cukup turn off hpnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Happy reading!!!!







Waktu sekolah telah usai. Setiap hari Jum'at, sekolah sedikit lebih singkat dibandingkan dengan hari lainnya. Seperti biasa pula Damian, sudah menunggu putranya bahkan sebelum sekolah usai.

Mata Damian, menelisik setiap anak yang keluar dari gedung sekolah untuk menemukan putranya. Tidak lama, terlihat putranya keluar dari gedung sekolah bersama dengan kedua temannya dan seorang gadis kecil yang Damian, ingat merupakan cucu keluarga Utama.

Deva, langsung menghampiri sang ayah dan memeluknya meski tangannya hanya sampai sebatas paha sang ayah. Pelukan itu disambut baik. Surai Deva, diusap sayang dan dibubuhi kecupan.

Selesai dengan adegan manis antara ayah dan anak, Zayn, Marcell, dan Ayoona, mendapat kesempatan menyapa Damian.

"Cece, sudah dijemput belum?" Tanya Deva.

Ayoona, melihat sekeliling sekolah bahkan sampai luar gerbang dan belum menemukan mobil yang biasanya menjemputnya.

"Sepertinya driver I belum sampai. I mau coba call dulu, buat tanya sudah sampai mana." Setelah mengatakan itu, Ayoona, mengeluarkan ponsel keluaran terbarunya dari tas dan menghubungi supir yang biasa menjemputnya.

"Bagaimana, Ce?" Tanya Deva, ketika Ayoona, sudah mengakhiri panggilan.

"Katanya five minutes again sampai." Jawab Ayoona.

"Papa, kita temani Ce Yoona, sampai driver nya sampai boleh?" Tanya Deva, pada sang ayah. Dirinya merasa kasihan jika meninggalkan Ayoona, sendirian menunggu sang supir.

"Boleh, tunggunya didalam mobil saja ya, diluar panas nanti Didi, bisa ruam-ruam."

Deva, menuruti perkataan ayahnya. Kini bagian belakang terisi 3 anak, Ayoona, Zayn, dan Marcell, sedangkan Deva, duduk di kursi depan.

"Papa, mau menjawab telepon sebentar, kalau driver Ayoona, sudah datang beritahu papa." Ucap Damian, pada Deva.

Damian, berdiri tepat didepan mobil, sembari menerima telepon, matanya juga sesekali mengarah pada putranya. Telepon itu berasal dari Benedict.

"Tuan, ada masalah di..." Ucapan Benedict, membuat Damian, mengernyitkan dahinya, tidak bisanya suara Benedict, terdengar panik. Apalagi tempat masalah itu datang.

"Masalah apa?"

"Ada yang mengklaim jika mereka yang berhak memiliki tempat itu karena mereka adalah keluarganya. Bahkan mereka juga secara paksa menempatinya"

The Real HeirsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang