68. Dispute

1.1K 144 2
                                        

Akhirnya bisa up, dari hari minggu kemarin mau nulis gak sempet terus. Kalau ada typo atau kalimat yang gak jelas komen aja ya, nanti dibenerin.

Happy reading!!!!
















Damian, hendak singgah di rumah mendiang Dayat, namun, niat itu ia urungkan ketika melihat ramainya rumah itu karena dihuni tamu tak diundang. Jadi, Damian, hanya melewati rumah itu. Damian, memarkirkan mobilnya di halaman rumah Baron, ketika Damian, mendapatkan panggilan.

Cukup lama Damian, menerima panggilan itu karena berhubungan dengan pekerjaan. Seusai panggilan itu berakhir, Damian melihat empat orang anak mendekati mobilnya. Damian, mengetahui jika keempat anak itu juga ikut tinggal di rumah Dayat.

Kaca di pintu mobil Damian turunkan, dan ketika keempat anak itu sampai disamping mobilnya dan melihatnya, Damian, menatap mereka tajam dan mengusirnya dengan nada yang sangat menyeramkan bagi keempat anak itu.

"Pergi."

Mendapatkan tatapan tajam dan nada suara yang menyeramkan membuat mereka lari ketakutan. Niat awal mereka hanya penasaran dengan mobil milik Damian, yang begitu besar dan keren bagi mereka.

"Loh, om, ada disini?"
"Kalau om disini berarti ada Deva dong?"

Dua anak laki-laki yang mengenakan seragam berwarna coklat khas pakaian pramuka, terlihat terkejut sekaligus senang ketika melihat keberadaan Damian. Mereka kedua putra Baron.

"Deva, dimana om, di rumah ya?"

"Deva, tidak di rumah. Jika kalian mencarinya, Deva sudah berada di lapangan bermain."

Keduanya langsung bergegas masuk ke rumah setelah mendengar pernyataan dari Damian.

Damian juga mendengar suara senang kedua anak itu sebelum memasuki rumah.

Ponsel yang masih digenggaman Damian, ia aktifkan kembali dan mencari kontak seseorang. Setelah menemukannya, Damian menekan ikon berbentuk telepon agar terhubung dengan orang tersebut.

"Halo."

"Bisakah kamu datang ke desa sekarang?" Tanpa membalas sapaan dipenerima telepon, Damian langsung bertanya dengan sedikit kesan perintah.

"Ada apa?" Tanya orang diseberang telepon itu.

Damian, menjelaskan permasalahan yang sedang terjadi.

"Kamu, membuatku tidak bisa bekerja dengan santai diakhir pekan, ya." Ujarnya setelah mendengar penjelasan Damian.

"Yang bekerja diakhir pekan bukan hanya dirimu." Balas Damian dengan nada jengah, "jadi, kamu bisa datang atau tidak?"

"Aku akan datang paling cepat nanti malam, atau besok. Sekarang aku sedang di luar kota dan baru sampai rumah sekitar sore hari." Jelasnya.

"Jadi, kamu tidak akan datang?" Tanya Damian lagi, ia tidak puas dengan jawaban orang yang berada diseberang telepon itu.

"Aku akan datang nanti. Lagi pula pulang sekarang juga membutuhkan waktu sepuluh jam berkendara untuk sampai ke desa." Katanya

"Pulang saja pakai pesawat." Ucap Damian santai.

"Kamu tidak lupa kalau di desa tidak ada bandara, bukan?, bandara hanya sampai kota, dari bandara ke desa membutuhkan waktu setidaknya lima jam berkendara. Dan aku harus menyiapkan berkas-berkas yang diperlukan yang aku simpan di rumah, bisa kamu bayangkan bukan sepajang apa perjalanan yang harus aku tempuh."

"Akan kukirim helikopter untuk menjemputmu."

"Oke, silahkan kamu kirim helikopter, tapi, malam ini aku yang akan tidur bersama prince, bagaimana?" Ucapan menantang itu dilontarkan, karena yakin kalau Damian, tidak akan mengiyakan ucapannya.

The Real HeirsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang