Maaf guys baru up, mendekati lebaran gini aku agak sibuk, jadi gak produktif nulisnya.
Happy reading!!!!
Perjalanan yang biasanya diisi percakapan antara Damian dan putranya, kini diisi oleh dua teman putranya. Ketiganya berbincang mengenai rencana apa saja yang akan mereka lakukan.
Ditengah perjalanan, mobil Rubicon yang dikendarai Damian, memasuki rest area dan diikuti mobil dengan tipe Palisade yang memang sudah ada sejak mobil milik Damian meninggalkan mansion.
"Papa, kenapa berhenti disini? Apa masih jauh untuk sampai ke rumah bapak?" Tanya Deva, ketika ia melihat tempatnya sangat asing, sebab ini pertama kalinya ia datang.
"Papa, mau ke toilet. Kalau Didi ingin belanja minta temani Ben." Kata Damian, sebelum keluar dari mobilnya dan memberitahu Benedict agar menjaga putra dan kedua teman putranya.
Di rest area tentu banyak para pedagang. Dibagian paling depan sudah disuguhi berbagai jenis menu street food baik manis, asin, asam, bahkan pedas.
Mata ketiga anak itu bergerak menyusuri rest area. Ini adalah pengalaman pertama mereka singgah.
"Berbeda sekali dengan lounge di airport." Ucap Zayn spontan.
Deva dan Marcell sama-sama menatap Zayn. Keduanya setuju akan perkataan Zayn.
"Ayo kita lihat-lihat kesana." Ajak marcell, ia sangat penasaran dengan suasana rest area itu.
"Izin dulu pada om Ben." Ujar Deva.
"Tidak usahlah, kita cuma mau lihat-lihat sebentar saja." Sahut Marcell.
"Nanti papa marah kalau kita tidak izin dengan om Ben."
Perkataan Deva, membuat Marcell tidak jadi bersuara. Marcell dapat membayangkan jika ayah sahabatnya ini jika marah akan seseram apa.
Akhirnya, ketiga sekawan itu menghampiri Benedict yang masih berada dalam mobil.
"Ada apa tuan muda?" Tanya Benedict, ketika ia sudah keluar lebih dulu sebelum Deva sampai dihadapannya.
Kening Deva berkerut, tidak suka akan panggilan dari Benedict.
"Jangan panggil Didi, tuan muda, Didi tidak suka." Protesnya. Dirinya tidak suka dengan panggilan seperti 'tuan muda'.
Benedict menarik tipis sudut bibirnya keatas, tidak membantah ucapan Deva.
"Anda butuh sesuatu?" Tanyanya.
Deva menunjuk arah gedung yang ada di rest area, "kita mau main kesana, boleh?"
"Boleh, mari saya temani."
Deva, menahan langkah Benedict, "om Ben tunggu saja disini."
"Tidak bisa Didi, tuan Damian sudah memberi saya perintah untuk menjaga anda."
"Tapi dari sini kelihatan kok. Kita mainnya tidak jauh, cuma mau lihat-lihat saja."
Benedict tetap tidak mwngizinkan Deva dan kedua temannya untuk pergi tanpa pengawasan darinya.
"Om Ben pelit banget sih, kan Didi cuma mau main disana saja." Keluh Deva dengan rasa kesal.
"Jika anda ingin bermain disana akan saya temani, namun, jika anda tidak ingin ditemani saya pun tidak bisa mengizinkan anda pergi sendirian." Ucap Benedict dengan penuh kesabaran dan profesionalitas menghadapi tuan muda yang sedikit keras kepala ini.
