Happy reading!!!!
"Kamu siapa?" Tanya seorang wanita berusia 30an yang duduk dibelakang pria setengah baya, dengan nada tidak bersahabat.
"Maaf mengganggu perbincangan kalian. Saya bidan desa ini, nama saya Resti." Ucapnya, memperkenalkan diri lebih dulu.
"Ada keperluan apa anda datang kesini?" Tanya Athala. Ia sedikit tidak suka karena kedatangan bidan itu mengganggu pembicaraannya.
"Saya minta maaf sebelumnya karena tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian. Awalnya saya datang kesini ingin menemui Deva, karena sudah lama tidak bertemu dan mendapat kabar jika bapak Dayat dan ibu Santi telah meninggal dunia. Siang tadi saya melihat rumah ini ramai dan mengira jika mereka adalah kerabat dari Deva, yang dibicarakan para tetangga. Karena saya tidak melihat Deva di rumah, saya berpikir jika Deva sedang bermain di luar, jadi saya menunda kedatangan saya tadi siang. Lalu, ketika saya datang barusan saya mendengar sedikit pembicaraan kalian dari luar.
Saya bisa menjamin jika surat adopsi Deva, itu asli. Saya yang membantu bapak Dayat dan ibu Santi, mengurus semua proses adopsi Deva. Jika hal ini sampai dipengadilan, saya siap menjadi saksi." Ujar bidan Resti, dengan nada tegas. Ia ingin membantu Deva sebisanya. Orang tua angkat Deva sangat baik dan sering membantunya, jadi setidaknya jika kesaksiannya bisa membantu Deva, dirinya akan dengan senang hati membantu.
"Kami hanya orang kecil, yang tidak memiliki apa-apa. Kenapa kalian berbuat sejauh ini hanya karena tanah kecil ini?" Sambung seorang pria berusia 30an. Mungkin anak dari pria setengah baya itu. Nada pria itu terdengar putus asa, tapi, Damian dan Athala bukan orang yang mudah dibohongi hanya karena mereka menunjukkan betapa lemahnya mereka.
"Klien saya bukan mempermasalahkan berapa luas tanah ini, tapi kami ingin melindungi hak Devananta sebagai ahli waris dan mendiang bapak Dayat." Athala, menekankan beberapa kata. Cukup kesal dengan orang-orang keras kepala itu.
"Apa yang akan kalian lakukan setelah mendapatkan tanah ini? Menjualnya? Lalu uang itu akan kalian gunakan untuk membayar hutang kalian yang lebih dari satu milyar itu?" Damian, membuka suaranya setelah sejak tadi hanya Athala yang berbicara mewakilinya.
"Bahkan jika tanah ini dijual, tidak akan sampai seperempat hutang kalian. Lalu, setelah itu apa? Kalian akan diam-diam menghubungi putraku, kemudian memberinya ancaman dengan perkataan jika Dayat yang merupakan kerabat kalian sudah merawatnya yang asal-usul tidak jelas untuk mendapatkan uang.
Bukan sekali dua kali saya bertemu orang seperti kalian yang hanya mementing diri sendiri. Orang seperti kalian hanya memerdulikan uang dibanding kemanusiaan."
Ucapan Damian, membuat pria setengah baya itu marah, tidak terima orang yang lebih muda darinya merendahkannya.
"Kurang ajar kamu!" Pria setengah baya itu menunjuk Damian, geram.
Sebuah map biru Damian, baca. Map itu berisi rincian hutang keluarga yang mengaku sebagai kerabat bapak Dayat.
"Desta Junaidi, berhutang pada bank sebesar 350 juta dengan tempo 48 bulan dengan jaminan sertifikat tanah dan sudah dua tahun lalu jatuh tempo karena tidak bisa membayar, sekarang tanah yang menjadi jaminan dalam sitaan bank dan sedang menunggu pelelangan. Lalu, berhutang kembali pada rentenir sebesar 250 juta dan kembali tidak bisa membayarnya, bahkan kini menjadi buron para rentenir dan hutangnya menjadi dua kali lipat pada rentenir.
Teguh priyadi, berhutang pada koperasi 80 juta dan baru dibayar 20 persen. Tidak hanya itu, anda berhutang juga pada dua rentenir berbeda, 60 juta dan 85 juta, keduanya belum dibayar sama sekali.
