74. What Are We?

308 69 0
                                        

YEAAYYY AKU AKHIRNYA UPDATE
Sorry yaa baru bisa update, habis sakit akuu. Sekarang masih sih, cuma sudah mau sembuh kok, tinggal lemesnya dikit aja sama batuk yang sudah seminggu lebih.

Chapter kali ini jelasin sedikit struggle nya hubungan Sandika, yang teman bukan, hts gak sampe kayaknya😅






Happy reading!!!!



Pukul 11 siang, satu-persatu anggota keluarga mulai menampakkan batang hidung mereka.

Ada yang masih mengenakan pakaian saat di pesawat, ada yang mengenakan pakaian tidur, ada juga yang sudah rapi mengenakan pakaian kasualnya.

Mereka melakukan kegiatan masing-masing. Ada yang tengah menikmati sarapan yang dirangkap dengan makan siang. Ada yang hanya menikmati kopi. Ada juga yang hanya berpindah tempat untuk melanjutkan tidurnya.

Salah satu orang yang penampilannya sudah rapi adalah Sandika.

Sandika, mengenakan celana denim panjang, yang dipadukan dengan kaos putih dan kemeja berwarna sky blue sebagai luarannya, serta sepatu dari merk New Balance MR530 berwarna putih.

Sandika, mengenakan celana denim panjang, yang dipadukan dengan kaos putih dan kemeja berwarna sky blue sebagai luarannya, serta sepatu dari merk New Balance MR530 berwarna putih

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Kamu mau pergi kemana, San?" Tanya Charvi, yang melihat penampilan rapi putra sulungnya.

"Mau bertemu teman." Jawab Sandika, singkat.

Hubungan keduanya belum membaik, meski tidak seburuk tahun lalu.

Deva, hanya memperhatikan semua keluarganya dari balik sofa. Belum ada satu orang pun yang menyapanya. Apa mereka tidak ada yang melihatnya.

"Koko San, punya teman?"

Tidak ada nada mengejek, tidak ada raut muka jahil, nada yang digunakan pun biasa layaknya sebuah pertanyaan. Namun, entah kenapa Sandika merasa tertohok dengan pertanyaan adiknya.

Hampir semua teman-teman kakaknya pernah Deva, temui. Kakak-kakaknya pun sering pergi untuk bertemu dengan teman mereka. Kadang dirinya diajak, atau terkadang mereka yang datang berkunjung. Tapi, hanya teman dari Sandika, yang belum pernah Deva, temui.

"Hahaha... dia itu memang ansos." Ejek Jeremy, yang masih berbaring si sofa, dengan mata masih tertutup sambil memeluk bantal tidur yang dibawanya dari kamar.

"Koko Jery, kenapa tertawa? Ansos itu apa? Makanan seperti sosis? Tapi koko San, tidak suka sosis."

Deva, dibuat bingung karena semua keluarganya tertawa.

"Ansos itu anti sosial. Orang yang tidak suka bersosialisasi atau berteman. Mirip dengannya." Jawab Jeremy, setelah meredakan tawanya, dan menunjuk Sandika, dengan dagunya.

"Jadi, koko San, tidak punya teman karena tidak suka berteman?!"

"Koko punya teman. Jangan percaya ucapan orang itu." Bantah Sandika. Tidak terima disebut ansos (anti sosial) oleh Jeremy.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: 8 hours ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

The Real HeirsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang