Lagi-lagi diriku ini meminta maaf ya karena updatenya lama🙏 keasikkan baca AU di ig😁🙏
Happy reading ALL!!!!
Deva, berjalan menuruni tangga sambil memanggil sang ayah. Di tangannya, terdapat dua lembar kertas dengan tulisan not balok.
Saat sampai di ruang keluarga, Deva, hanya mendapati Alex yang memakai kacamata anti radiasi, yang sedang membaca buku dibawah sofa. Dihadapan Alex, ada laptop yang terbuka dan berbagai macam kertas dan buku diatas meja.
"Koko, koko sedang apa?" Tanya Deva.
Deva, duduk di sofa, dibelakang Alex. Matanya melirik ke arah laptop, lalu ke buku yang sedang Alex, baca.
Meletakkan kacamatanya diatas meja, lalu Alex, memutar tubuhnya agar berhadapan dengan Deva. "Koko, sedang mengerjakan tugas."
Tangannya melingkar ditubuh Deva, lalu kepalanya berada dipangkuan Deva.
"Please, give me puk-puk!" Pintanya. Suaranya terdengar lelah.
Deva, menuruti permintaan kakaknya. Menepuk-nepuk lembut kepala sang kakak.
"Koko." Panggil Deva.
"Hm?" Alex, hanya menggumam. Tepukan lembut dari adiknya membuatnya merasa nyaman.
"Koko, bisa ajarkan Didi, ini tidak?" Deva, memberikan kertas patitur itu pada Alex.
Alex, melihatnya tanpa merubah posisinya. Membaca bait demi bait patitur yang merangkai sebuah lagu.
"Didi, diminta untuk menghafalnya?" Tanya Alex, suaranya berubah jadi sedikit serius.
Deva, menggeleng. "Bukan."
"Didi, ada praktek alat musik. Kata Miss, tidak harus dihafal, yang penting tidak kaku saat bermain piano."
"Oh."
"Didi, tunggu papa saja. Tadi papa sedang terima telpon, sebentar lagi pasti selesai. Koko, tidak bisa." Ujar Alex, acuh. Meletakkan kertas patitur itu asal.
Deva, hanya mengiyakan ucapan Alex. Jika tidak bisa mau bagaimana lagi. Tapi, entah kenapa, Deva, merasa jika Alex, tiba-tiba bersuasana hati buruk. Lingkaran tangan Alex, ditubuhnya semakin mengerat dan menyembunyikan wajahnya di perut Deva.
Deva, dibuat sesak karena perbuatan Alex. Sudah merengek untuk minta dilepaskan tapi tidak dituruti.
"Papa, help me." Deva, mengulurkan kedua tangannya pada Damian, meminta agar bisa dilepaskan dari jeratan erat tangan Alex.
Damian, tidak langsung meraih tangan Deva. Damian, malah asik memandang wajah putranya yang menggemaskan dengan ekspresi memelas.
"Ugh... papa, help me." Tangannya masih terulur dan sedikit digerakkan agar sang ayah cepat menolongnya.
Tidak ingin putranya merajuk, Damian, meraih putranya, dengan menaruh kedua tangannya dibawah ketiak Deva, agar mudah diangkat untuk membebaskan putranya dari jeratan Alex.
Alex, yang merasa orang yang dipelukkannya mehilang, menegakkan posisi duduknya dan melihat jika adiknya sudah berada dalam gendongan pamannya.
"Kenapa dengan Alex?" Tanya Damian, pada Deva.
"Tidak tahu, tiba-tiba saja koko jadi aneh, huh." Jawab Deva, dengan nada kesal.
Damian, menatap Alex. "Ada masalah?"
Alex, tidak menjawab. Ia, malah menyerahkan kertas patitur milik Deva, pada Damian.
"Didi, minta diajari main piano." Ucapnya.
"Kamu kan-" Ucapan Damian, terpotong oleh Alex.
"Aku, mau kembali ke kamar."
Alex, membereskan barang-barangnya yang berserakkan dengan asal, lalu pergi meninggalkan Damian dan Deva, tanpa bicara apapun lagi.
