Chapter 3 ] Dia Devano!!

22K 1K 10
                                        

"Ironisnya selain mendapat keuntungan, dia juga mendapat kerugian karena tak mendengarkan ucapan yang sulit untuk diartikan."

==========

Di sepanjang perjalanan hanya hening, tak ada yang mau membuka topik pembicaraan. Jordan yang biasanya sering membuka obrolan pun sekarang hanya terdiam fokus pada jalanan. Reina pun sama saja, karena faktanya Reina adalah tipikal cewek yang nggak suka basa-basi dan lebih dominan pendiam daripada ngobrol atau sekedar cari muka ke cogan seperti yang cewek-cewek lain lakukan.

"Kak, eee...pemilihan struktur anggota itu langsung ditentukan sekarang?" tanya Reina basa-basi hanya sekedar untuk membuka topik pembicaraan, karena tidak enak terjebak dalam keadaan sekaku ini.

"Iya dong, kalau gue dulu sih besoknya udah gue susun strukturnya," jawab Jordan tanpa menoleh ke Reina, tatapannya masih fokus pada jalanan yang siang ini cukup padat.

Reina hanya ber-oh ria sebelum akhirnya dia memutuskan untuk memainkan ponselnya. Mobil sport Jordan berhenti di sebuah Caffe minimalis yang lumayan ramai pengunjung, desain Caffe nya sungguh Instagaramable banget, cocok buat orang yang hobby cekrak-cekrek.

"Turun nggak nih? Atau mau dibuka-in?" tegur Jordan yang mendapati Reina hanya duduk termenung di mobilnya.

"Eeee...nggak kok bisa buka sendiri," jawab Reina kikuk. Mereka berdua masuk dan duduk di lantai dua, karena kata Jordan sih lantai dua lebih bagus daripada lantai satu. Reina yang baru pertama kali datang ke Caffe ini masih sibuk meneliti setiap inci Caffe yang ternyata cukup terkenal dikalangan Remaja beberapa bulan ini, Reina saja yang kudet, terlalu mendekam di rumah:v.

"Mau pesen apa?" tanya Jordan sambil membolak-balikan buku menu, Reina pun juga melakukan hal yang sama.

"Lemon tea aja deh," putus Reina sambil menutup buku menu yang bertuliskan Indelicious.

"Makan?" tawar Jordan yang dibalas gelengan kepala oleh Reina.

"Yaudah Lemon tea 2 deh mbak," kata Jordan pada pelayan Caffe, setelah beberapa langkah pelayan itu pergi Jordan menatap mata Reina lekat-lekat, tatapan itu berbeda atau hanya Reina saja yang menganggapnya berbeda hal itu hanya membuat Reina kikuk.

"Rei, ada yang mau gue omongin sama lo," ujar Jordan sambil tetap menatap mata Reina lekat-lekat, tatapan Jordan sangat sulit dideskripsikan sama halnya dengan jantung Reina yang sejak tadi sudah berdebar tak karuan, Reina hanya ditatap oleh Jordan namun hal itu sudah mampu membuat Reina tak berdaya.
"Please dong jantung biasa aja," batin Reina.

"Eeeeee gue sebe---" ucapan Jordan terpotong oleh pelayan yang mengantarkan minuman.

"Permisi ini pesanannya," ucap pelayan itu sopan, jantung Reina kembali normal untuk sesaat, namun detik berikutnya detak jantungnya sudah tak beraturan karena tatapan Jordan yang lagi-lagi sulit diartikan.

"Kenapa kak?" tanya Reina mencoba menutupi rasa yang entah apa namanya, sesuatu yang baru pertama kali dia rasakan.

"Gue tau mungkin ini terlalu cepat buat lo, tapi gue suka sama lo mulai pertama kali gue ketemu sama lo Rei," ucap Jordan setelah mengumpulkan keberaniannya, sejak tadi dia diam karena gugup takut ditolak? Pasti, namun yang dia takutkan hanyalah hubungannya dengan Reina renggang setelah ini dan setelah berpikir panjang dia memutuskan untuk mengatakannya, karena jika mencintai itu indah, dicintai jauh lebih indah. Namun sayang Reina tak mendengar apa yang Jordan katakan, dia malah sibuk menatap sesuatu sampai-sampai tak mendengar ucapan Jordan.

"Gue nggak salah liat kan?itu beneran Devano?" ucap Reina dalam hati sambil melihat ke kursi seberang ya ditempati oleh beberapa cowok yang salah satunya Reina tau, ya itu Devano, atau mungkin saja itu bukan? Namun Reina semakin yakin kalau itu Devano saat dia tertangkap basah sedang menatap Devano, alih-alih mengalihkan pandangan Reina justru tercengang dan masih menatap Devano, mata mereka bertemu saat itu hanya satu kata yang terlintas di benak Reina "Ganteng".

Revano [#1 SAVAGE SERIES]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang