Chapter 42 ] Meja Sidang

9.3K 519 62
                                        

Baik banget kan aku,belum 50 vote dan 50 komen udah Up lagi:)
Nggak mau tau,di Bab ini harus spam komen pokoknya.Wkwkwk😂
#Budidayakan Vote dan Komen sebelum membaca:)
========

"Ketika rasa peduli mulai muncul,apakah itu bagian dari fase pembentukan perasaan?"

=======

"Cepet keluar Devano,sebelum saya tindak lanjuti masalahnya!"titah Bu Wiji.

"Reina nggak salah,justru gu...Saya yang salah,"sergah Devano.

Guru berkaca-mata itu memijat pelan pelipisnya.Ini bukanlah kali pertama dia menghadapi sosok Devano,bahkan hampir setiap minggu anak itu selalu masuk catatan hitam BK dengan berbagai macam masalahnya.Namun kali ini yang semakin membuatnya bingung lantaran dia melibatkan Reina,murid yang sangat anti masalah di IHS.

"Hhh...Sekarang coba jelaskan perihal foto dan kepergian kalian berdua dari sekolah kemarin?!"tanya Bu Wiji tegas.

"Kemarin sa--"

"Kemarin Reina sakit,daripada di UKS mending saya anter pulang kan,"potong Devano sambil menatap kearah Reina,seolah memberikan kode untuk mengikuti dramanya kali ini.

"Benar apa yang baru saja Devano katakan Reina?"

"I-iya Bu,"jawab Reina terbata-bata.

"Terus apa hubungannya dengan foto yang tersebar itu?"Bu Wiji masih mengintrogasi mereka berdua.

"Gi--"

"Reina itu lebay bin alay Bu,pusing dikit aja udah nangis bombay nggak jelas di tengah jalan.Jadi jiwa gentle saya sebagai cowok sejati bergejolak,akhirnya saya peluk biar nggak malu-maluin.Eh terus ada orang kuker main foto dan sebarin kayak orang pansos!"Lagi-lagi Devano tak membiarkan celah sedikitpun untuk Reina berbicara.Jujur saja Reina sekarang masih berusaha mengontrol emosi ketika mendengar karangan ngawur cowok nggak jelas di sebelahnya ini.

"Bilang aja mau modus!"maki Bu Wiji yang membuat Reina tak kuasa menahan tawanya."Reina,untuk masalah lebih lanjutnya,saya serahkan ke Pak Eko selaku pembina Osis."

"Iya Bu."

"Jadi untuk sekarang,saya perintahkan kalian berdua untuk pergi membersihkan toilet siswa dari kelas 10,11,dan 12!"perintah Bu Wiji yang membuat Reina kaget bukan main.

"Skuy lah."Devano beranjak dari duduknya dengan gestur santai.

"10,11,12 Bu?"tanya Reina memastikan.

"Iya."

"Udah lah,ada gue.Tenang aja,"ujar Devano sambil tersenyum manis kearah Reina yang tentu membuat jantung Reina berdetak tak stabil,"kalo senyum gantengnya kelihatan deh."batinnya,namun tak berselang lama batinnya kembali berkata lain,"ih apaan!Percuma ganteng kalau songong plus ngeselin."

"Tapi nanti saat dua jam pelajaran terakhir dan yang pasti kalian tidak boleh bersama,Reina bagian kelas 10 dan kamu kelas 11,untuk kelas 12-nya nanti kalian bagi saja,"tegas Bu Wiji yang membuat Devano menautkan kedua alisnya bingung.

"Tadi katanya sekarang!"protes Devano.

"Saya perintahkan sekarang,tetapi kalian menjalankannya nanti siang dan seperti yang saya katakan tadi,kalian tidak boleh membersihkan toilet bersama.Kecuali bagian kelas 12 kalian memang harus bekerja sama tetapi nanti akan tetap saya pantau,"ucap Bu Wiji yang membuat Devano semakin bingung.

"Ngapain nggak boleh bareng sih Bu?Lagian saya nggak mungkin wik-wik di toilet sama Reina,saya masih sanggup kali Bu buat nyewa Hotel.Ya kan Rei?"perkataan Devano barusan langsung dihadiahi pukulan oleh Reina yang tentu membuat sang empunya mengaduh kesakitan.

"Ngomong apaan sih lo!"cetus Reina.

"Sudah-sudah.Makin lama kok makin ngelantur saja!Pergi ke kelas masing-masing,jangan mabal!Kalau mau pacaran mohon tau tempat dan tau waktu!Jangan sampai kejadian kemarin terulang kembali,"tukas Bu Wiji."Lagian ya Reina,kamu itu cantik-cantik kok mau sih sama cowok urakan kayak Devano."

"Eng--"

"Cewek satu sekolah juga mau kali Bu sama saya,"potong Devano kelewat percaya diri.

"Ck,kamu itu sudah suka mabal!Urakan!Apa coba yang bisa dibanggakan?!"cibir Bu Wiji dan Devano hanya menunjukkan smrik-nya.

"Catat ya Bu,saya itu orangnya ganteng iya,keren?Nggak usah ditanya,anak sultan?Ck,nggak usah diragukan,terus pinter?Nggak usah dibahas.Apa coba syarat yang kurang lengkap untuk memenuhi kriteria cogan berkelas?"ucap Devano yang hanya dibalas gelengan kepala oleh Bu Wiji.

"Pede gile!"celetuk Reina.

"Bener kan?Buktinya lo sampai terpesona."

"Sudah-sudah!Cepat keluar dan masuk ke kelas masing-masing,"perintah Bu Wiji.

"Udah kali Bu,santuy jangan nge-gas.Sungguh tidak mencerminkan jiwa masyarakat Indonesia yang kelewat santuy Ibu ini,"kelakar Devano sambil berjalan beriringan dengan Reina keluar dari ruang BK.

"Sudah Devano!Kamu nggak usah bacod!"cetus Bu Wiji yang membuat Devano kaget bukan main.

"Eh,kok Bu Wiji tau bacod segala,"ujar Devano sambil menatap Reina dengan tatapan heran.

"Ya nggak tau lah,emang lo pikir gue anaknya!"jawab Reina ketus.

"Lo marah ke gue?"tanya Devano.

"Atas dasar apa gue marah ke lo."

"Nggak tau juga sih."Devano menggaruk tengkuknya kikuk.

"Makin nggak jelas deh lo!"maki Reina.

"Santuy lah Rei,lama-lama kayak Bu Wiji lo kelewat nge-gas kalau ngomong,"protes Devano.

"Terserah gue lah,mending gue nge-gas daripada nggak sopan ke orang yang lebih tua kayak lo!Kalau lo nggak bisa menghargai Bu Wiji berarti sama aja lo nggak ngehargain Ibu lo sendiri,"kata Reina yang membuat Devano menyatukan kedua alisnya bingung.

"Emang gitu teorinya?"

"Menurut lo?"

"Ibu guru sama Ibu itu beda."

"Apanya yang beda?Statusnya?Tapi pada dasarnya mereka berdua sama-sama orang yang lebih tua dan pastinya patut kita hormati dan merekapun sama-sama perempuan yang patut kita hargai,"tutur Reina dengan nada bijaknya.

"Terus?"

"Terus apanya?!Ya lo harus lebih menghargai dan lebih menghormati orang yang lebih tua!Jangan ngasal ngomong lo-gue aja sama orang tua!Daritadi kok cuman terus-terus aja!"Reina jadi terbawa emosi.

"Perasaan daritadi lo marah-marah mulu ke gue,kenapa?Lagi PMS?PSM?Atau PSG?"kelakar Devano sambil terkekeh.

"Hmm."

"Ck,mangkanya daritadi marah-marah nggak jelas,"ujar Devano."Eh,tapi ngomong-ngomong soal Bu Wiji,gue ada cerita nih.Lo tau kan?Ka--"

"Iya gue tau kalau gue udah sampai kelas,bye,"potong Reina sambil bergegas masuk ke kelas,tak menghiraukan Devano yang masih berdiri di depan kelas sambil terus menatapnya dengan ekspresi tersakiti.

"Kok tiba-tiba ada di koridor Ipa sih?"Devano bermonolog sambil terus berpikir keras.

"Bego!Kenapa gue jadi ngikut Reina!"

Akhirnya Devano sadar dan langsung balik arah.Seharusnya setelah tadi keluar dari BK dia pergi ke arah yang berlawanan dengan Reina,mengingat kalau dia dan Reina beda koridor.Namun karena ke-begoannya,dia malah ikut bersama Reina.Alhasil dia harus repot-repot putar balik,Reina yang melihat Devano balik arah dari dalam kelas hanya terkekeh.Sebenarnya dia sadar akan kesalfokan Devano,namun dia tidak berniat mengingatkannya."Dasar Devano!"
Tbc!
Dibalik tulisan yang kalian pikir sedikit ini,ada aku yang berjuang buat nulis:(
Mangkanya beri apresiasi berupa vote dan komen:)
Salam

Sera-Seri.

Revano [#1 SAVAGE SERIES]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang