Chapter 70 ] Tanding lagi?

6.4K 536 226
                                        

Tolong di mengerti ya, aku sibuk sekarang. Jadi agak susah luangin waktu buat nulis, bab ini baru aja di tulis terus langsung pup, jadi agak berantakan. Semoga masih bisa kalian nikmati.

Please, jangan komen dikit banget, kurang panjang, next secepatnya. Karena kadang itu bikin aku sedih dan mood nulis aku down. Selamat membaca gengsss...

Jangan lupa follow wattpad aku ya, jangan lupa vote dan komen juga.

Aku nggak tau bakal lama apa enggak, tapi untuk chapter ini aku kasih target 150++ komen baru lanjut. Kalau belum 150++ aku nggak bakal update:v

150++ KOMEN BARU LANJUT.
150++ KOMEN BARU LANJUT.
150++ KOMEN BARU LANJUT.
150++ KOMEN BARU LANJUT.
150++ KOMEN BARU LANJUT.
150++ KOMEN BARU LANJUT.
150++ KOMEN BARU LANJUT.
150++ KOMEN BARU LANJUT.
150++ KOMEN BARU LANJUT.
150++ KOMEN BARU LANJUT.
150++ KOMEN BARU LANJUT.
150++ KOMEN BARU LANJUT.
150++ KOMEN BARU LANJUT.
150++ KOMEN BARU LANJUT.
150++ KOMEN BARU LANJUT.
150++ KOMEN BARU LANJUT.
150++ KOMEN BARU LANJUT.

==============

"Jangan menyerah sebelum perang."

========

Devano dan teman-temannya duduk di kantor ruang olahraga dengan tenang, tak ada yang berani bergerak apalagi berbacod-bacod ria. Mengingat kalau di depan mereka sekarang ada Pak Haris yang sedang bersidekap sambil menatap mereka dengan tatapan mematikan.

"Tim basket kebanggaan IHS...." ujar Pak Haris tenang namun, tetap terkesan horror di indra pendengaran mereka.

"Kalian tau kalau sebentar lagi diesnatalis?" tanya Pak Haris.

"Tau, pak!" jawab mereka semua tegas nan serempak, hal ini memang di ajarkan dari dulu oleh Pak Haris. Katanya, "Tak perlu menjadi anggota paskibraka atau pramuka hanya untuk menumbuhkan sikap tegas dan kompak. Atlet, guru, atau apapun itu juga butuh sikap tegas untuk memperkuat kharisma dalam jiwa."

"Sudah tau kalau akan ada pertandingin basket nanti?" Pak Haris kembali melempar pertanyaan.

"Belum, pak!"

"Karena itu kalian saya kumpulkan di sini untuk saya beri tau!" tegas Pak Haris.

"Siap, pak!"

"Diesnatalis hari ke-3 nanti, akan ada lomba---tapi lomba kali ini sedikit berbeda, karena lawan tidak kita datangkan dari sekolah lain seperti tahun-tahun sebelumnya, melainkan dari sekolah kita sendiri," tutur Pak Haris yang membuat mereka semua diam untuk beberapa saat.

"Jadi, lawan kita?" tanya Devano dan Pak Haris hanya menunjukkan smriknya.

"Tidak ada lagi kata kita, karena kalian nggak akan sama-sama menjadi sebuah tim!" terang Pak Haris yang membuat sebagian anak SAVAGE menganga namun, ada juga yang masih bersikap biasa saja, Devano dan Reval contohnya.

"Bagi dua?" kata Devano. Ia masih bisa menerima jika nanti mereka harus di bagi dua toh, mereka juga sering terbelah menjadi dua tim pada saat latian.

"Itu hal biasa bukan?" tukas Pak Haris sambil tersenyum sinis. Tentu saja, hal itu membuat mereka semakin penasaran dan bertanya-tanya.

"Jadi, intinya?" Devano berusaha mengontrol emosinya dan masih berbicara dengan nada rendah tanpa umpatan sekalipun.

"Apa kalian mau tau jawabannya?"

Andai ngajak guru baku hantam atau menyumpal mulut mereka dengan sepatu itu tak dosa, mungkin Devano sudah melakukannya dari tadi. Bagaimana tidak, jika guru berbadan kekar ini sejak tadi memancing emosinya.

Revano [#1 SAVAGE SERIES]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang