Chapter 66 ] Selamat berjuang, Devano!

7.3K 477 124
                                        

YEAYY BALIK LAGI...
KEMARIN BANYAK YANG PROTES KARENA SEDIKIT, TERUS ADA JUGA YANG PROTES KARENA NGGAK ADA DEVANO.
JADI DI BAB INI AKU PENUNI PERMINTAAN KALIAN, BAB INI PANJANG... DAN ADA DEVANONYAA...

AKU PUNYA KABAR GEMBIRA NIH, BAB SELANJUTNYA UDAH MULAI MEMANAS GENGS... DAN AKU UDAH PUNYA DRAF JADI TINGGAL UP. HAHAHAHA...

TAPI NGGAK AKU UPDATE GITU AJA KARENA KALIAN HARUS BERKORBAN DULU DONG:*

VOTE JANGAN LUPA, TERUS KOMEN SEBANYAK-BANYAKNYA.... KALAU KOMENNYA UDAH BANYAK BARU AKU UPDATE.. DAN FYI KOMENNYA HARUS YANG MENDUKUNG YA, MISAL KRITIK ATAU SARAN.

SOAL TYPO NGGAK USAH DI INGETIN GUYS, EMANG BELUM AKU EDIT:v

===========

"Nama baik SAVAGE ada di tangan lo Dev, kalau lo berhasil bukan masalah cinta lo aja yang kelar, tapi nama baik SAVAGE juga bakal bersinar."

==========

"GUE NGGAK MAU TAU! POKOKNYA LO, LO, LO, DAN LO SEMUA HARUS BANTUIN GUE BASMI SI TAI!" titah Devano sambil mengarahkan telunjuknya ke arah Dadu, Cakra, Farel, dan anak-anak SAVAGE lainnya. Devano menjatuhkan pantatnya ke kursi masih dengan wajah penuh amarah. Jika sudah seperti ini, yang lainnya mulai enggan untuk melawan atau sekedar memberi kajian, karena mereka tau bagaimana sosok Devano jika sedang dikuasi amarah. Apalagi akhir-akhir ini cowok itu sering sensi jika ada hal yang bersangkutan dengan Reina dan Aufa, seperti pagi ini contohnya. Tiba-tiba ia sudah mengumpulkan anak-anak SAVAGE di gudang belakang sekolah dan membuat Reval sempat menggerutu karena ia tak dapat mengikuti jam pelajaran pertama.

"Santai dulu ketua... mending kita bakar-bakar enak aja dulu," ujar Alex mencoba menenangkan Devano yang sedang memanas, ia mengeluarkan satu pax rokok beserta pematiknya lalu menyerahkannya ke pada Devano yang masih bungkan dengan wajah merah padam.

"BACOD LO! KALAU NGGAK MAU BANTU MENDING DIEM!" gertak Devano yang membuat Alex tersentak, dengan wajah tersakiti ia menarik kembali uluran tangannya dan menyalakan satu batang rokok untuk dirinya sendiri.

"Kenapa? Reina lagi?" tanya Farel dengan tenang.

"Pake nanya lagi lo, siapa lagi sih yang bisa bikin Devano kayak gini kalau nggak tu cewek," balas Reval sambil terkekeh ringan.

"AGHHH!!! RASANYA PENGEN GUE HABISIN SI TAI SEKARANG JUGA!" erang Devano frustasi sambil mengacak rambut ikalnya.

"Problemnya apa lagi nih? Kemarin kan gegara si tai suapin Reina di kantin, sekarang apa? Wajah lo sampe merah gitu kayak itik lagi kasmaran," ujar Cakra sambil tersenyum jahil, sebenarnya ia jengah juga dengan masalah Devano yang seputar itu-itu saja, hanya saja ia diam dan sok merespons dari pada protes yang ada malah ia di jadikan samsak dadakan karena amarah cowok itu yang tak pernah terkontrol.

"Gimana gue nggak marah, kalau si tai bangsat itu berani-beraninya meluk Reina!" terang Devano masih dengan wajah berapi-api.

"Ya wajar lah Dev, kan cowoknya," kelakar Dadu di susul kekehan ringan oleh yang lainnya.

"BANGSAT LO!" murka Devano.

"Lagian lo tinggal bilang sayang, latiannya lama amat sampe berabat-abat," ujar Dadu.

"Tau, kayak beruang lagi hibernasi aja lo Dev, lama!" timpal Rafly.

"Ya terus sekarang salah gue?!" sungut Devano tak terima.

"Engga Dev, salah pak haji!" ketus Dadu tak habis pikir, "ya jelas salah lo lah! Orang lo loadingnya kelamaan buat bilang sayang doang!"

"Mana jiwa playboy lo selama ini ketua? Yang suka bilang sayang sana sini? Mana ketua? Mana?" Alex beralih jadi kompor meleduk.

Revano [#1 SAVAGE SERIES]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang