Cepet nggak tuh gw updatenya??😓
Vote dan komen gaisss-gaisss kuuu:*
Happy reading❤
=========
"Jadi apakah pernyataan Devano kemarin ada benarnya kalau sebenarnya mereka berdua hanya orang asing di mata masing-masing?"
==========
Reina berjalan gusar sambil menekuk wajahnya kesal ketika memasuki kelas 11 Ipa 2, yang merupakan kelasnya.
"Rei, nyontek biologi dong."
Baru sedetik duduk di kursinya, Vio, sang preman kelas yang selalu dihafal oleh guru bk tiba-tiba menghampirinya.
"Nyonteng dong Rei, anggap aja berbagi, bukannya berbagi itu indah, iya nggak bro," timpal Aril yang langsung disetujui oleh Vio.
"Yoi," jawab Vio yang semakin membuat Reina kesal. Sedari tadi moodnya sudah buruk karena Devano, lalu ditambah lagi aksi menyebalkan Vio dan Aril yang semakin membuatnya kesal bukan main.
"Emang ya! Semua cowok itu sama aja! Cuman dateng pas ada maunya, terus kalau udah puas, pergi seenaknya!" cerca Reina terbawa emosi.
"Kalem Rei, kalem," ujar Vio sambil menepuk-nepuk pundak Reina.
"Lo lagi, broken heart apa gimana sih? Kok jadi bucin gini," cibir Aril blak-blakan.
"Siapa yang bucin sih!! Udah deh mending lo berdua itu pergi dari hadapan gue!!" tegas Reina lalu menenggelamkan kepalanya kedalam lipatan tangan. Vio dan Aril yang tidak peka akan keadaan, hanya bisa saling tatap sambil terus menerka-nerka. Tak biasa-biasanya, Reina bersikap se-mellow ini.
Reina menutup matanya rapat-rapat, mencoba tenang dalam kegelapan. Mencoba menetralisir keadaan yang semakin membingungkan. Dia bingung pada dirinya sendiri, mengapa dia peduli pada suatu hal yang bahkan tak pernah ia pedulikan sebelumnya. Seharusnya dia senang jika Devano menjauh darinya, berhenti mengusik kehidupannya lagi. Ya, itu yang seharusnya, namun kenyataannya sikap Devano seakan menyakitkan dan sulit ia terima sekarang. Sikap pahlawannya kemarin sungguh membuatnya tersanjung, namun sikap tak berperasaannya hari ini, boro-boro membuatnya tersanjung, kesandung yang ada mah.
Lamunannya buyar, ketika merasakan tepukan pada bahu kanannya, alih-alih mendongkak dan melihat siapa orang yang ada di sampingnya, Reina malah kembali ngomel-ngomel nggak jelas.
"Vio! Aril! Gue udah bilang, jangan ganggu gue! Denger nggak sih kalian berdua!" cetus Reina namun sama sekali tak ada sahutan, bahkan kelas yang mula-mula ribut layaknya pasar tradisional tiba-tiba hening.
"Rei, ini gue."
Deg!
Reina langsung mendongkak ketika mendengar suara cowok yang terdengar tak asing di telinganya.
"Lo?! Ngapain kesini?!" tanya Reina ketus ketika menyadari suatu hal. Dia Devano, bukan Vio atau Aril seperti yang ia duga sebelumnya.
"Eh! Siapa yang nyuruh lo duduk di situ?! Cepet pergi!" perintah Reina ketika menyadari Devano duduk di bangku Naufal, sebelahnya.
"Dengerin gue dulu!" tegas Devano sambil menatap Reina datar, Reina memilih mengalihkan pandangan. Dia tak kuasa menahan tangis jika harus mengalami kontak mata dengan Devano, membayangkan tatapan jail, manis, bahkan mesum itu kini berubah menjadi tatapan datar yang terlihat penuh kebencian, walau itu hanya asumsinya saja.
"Gue nggak sengaja buang tadi, gu--"
"Ya udah sih, nggak penting juga kan?! Lagian itu hak lo kok mau buang atau nggak!" potong Reina tanpa menatap Devano sama sekali.
KAMU SEDANG MEMBACA
Revano [#1 SAVAGE SERIES]
Teen FictionSAVAGE SERIES x Devano Kafka Follow dulu sebelum membaca:") TIDAK ADA REVISI SAMA SEKALI. Highestrank #1 in Bencijadicinta (22/08/2019) #1 in Posesifboy (Awal September) #1 in Kenakalanremaja (17/09/2019) Percaya deh, ini cowok yang kalian eluh...
![Revano [#1 SAVAGE SERIES]](https://img.wattpad.com/cover/182085035-64-k278575.jpg)