081231763559 (Sheira)
Sebelum baca, aku mau kalian jawab beberapa pertanyaan dulu:
1) Suka sama siapa di cerita Revano?
2) Kalau kalian ketemu Reina//Devano, mau ngomong apa?
3) Harapan untuk cerita ini ke depannya?
Wajib jawab, sewajib-wajibnya😂😂
Aku sekarang udah kelas akhir, jadi jarang ada waktu buat nulis. Vote dan komen sebanyak-banyaknya biar aku semangat nulis di sela-sela kesibukanku di real life.
Aku tau kalau makin ke sini emang semakin nggak jelas. Tapi ya udahlah ya..
Happy reading:))
==========
"Kalau aku bilang sayang, apa kita bisa balik lagi kayak dulu?"
=========
"AUFA!!!" teriakan itu mampu membuat langkah Aufa terhenti, ia menyipitkan matanya ke arah yang berlawanan dan tampaklah sosok cewek cantik yang sedang berlari tergopoh-gopoh menuju ke arahnya.
"Apa?!" tanya Aufa ketus.
"Kok chat aku semalem cuman kamu bales tanda tanya sih? Nomer aku kamu hapus ya?" cewek itu berkata manja hingga nyaris membuat Aufa ingin pergi detik itu juga.
"Ya," jawabnya singkat.
Stevi menghembuskan napasnya kasar, seharusnya ia sadar diri kalau setelah kejadian itu berlalu Aufa akan berubah menjadi sosok Aufa yang tak pernah ia kenal, itu mutlak, dan itu juga karena ia sendiri.
"Kenapa kamu hapus sih? Padahal dari dulu sampai sekarang aku nggak pernah hapus apalagi blok nomer kamu!" celoteh Stevi yang semakin membuat Aufa enek.
"Orang lo hapus gue dari idup lo gue biasa aja, kenapa giliran gue hapus nomer lo dari Hp gue, lo heboh?"
Skakmat!
Stevi diam, perkataan Aufa memang selalu berujung menyudutkannya dan mampu membuatnya diam seribu bahasa.
Aufa tersenyum miring ketika melihat perubahan raut wajah Stevi, cowok itu lalu memalingkan wajah dan hendak memacu langkahnya kembali. Namun, cekalan Stevi pada tangan kanannya membuat ia mengurungkan niat.
"Fa... apa selama ini maafku masih nggak berarti?" ujar Stevi kalem.
"Lepasin!" gertak Aufa.
"Kalau aku bilang sayang, apa kita bisa balik lagi kayak dulu?" Stevi terus membondonginya dengan berbagai macam pertanyaan.
"Jangan maksa gue buat bertidak kasar!" tegas Aufa berusaha menahan gejolak emosi. Entah mengapa emosinya selalu naik bila melihat Stevi, mantan yang selama ini sangat ia hindari.
"Aufa! Aku sayang kamu, aku mau kita balik kayak dulu lagi," kata Stevi.
Aufa melepas celakalan tangan Stevi dalam sekali gerakan. Ia menatap bengis ke arah cewek itu, serendah inikah sosok cewek yang dulu ia puja-puja? Memalukan.
"Gue nggak nyangka harga diri lo bakal serendah ini," cibir Aufa sebelum berlalu pergi meninggalkan Stevi yang diam terpaku di tempatnya.
===========
"Udahlah Dev, loss kan aja.... kalau emang suka samperin jangan diam-diam bae," ujar Dadu turut prihatin ketika melihat Devano yang uring-uringan karena Reina semakin dekat dengan Aufa.
"Tau, dasar kegedean gengsi!" timpal Cakra.
"Bacod lo ah!" celetuk Devano sinis.
"Dev!"
"Ya,"
"Kasih penjelasan ke Reina!" titah Farel.
"Penjelasan apaan? Orang dia lihat gue aja kayak ogah banget gitu," ujar Devano.
"Coba dulu, baru bayar," ucap Cakra ngasal.
"Sorabel dong! Gimana sih lo!" protes Dadu.
"Maksudnya, coba dulu, baru bilang," tegas Cakra.
"Bilang apa?" Farel menautkan kedua alisnya bingung.
"Cinta lah, pakai nanya lagi lo!" ketus Cakra.
"Suntay bang, suntay..." ujar Dadu.
"Santuy!" seru ketiganya bersamaan.
"Iya, iya Suntay-eh santuy!"
"Terus?" tanya Devano.
"Nabrak tiang noh!" celetuk Dadu kelewat kesal.
"Samperin lah Dev," lanjut Dadu menegaskan.
Devano mengangkat wajahnya, ia dapat melihat dengan jelas Reina yang sedang duduk di tengah lapangan bersama ketiga temannya. Ingin sekali kakinya melangkah ke sana, mengajaknya mengobrol atau sekedar modus memberikan air mineral. Namun nyatanya, kakinya seakan kelu untuk melangkah.
"Cepet lah Dev, samperin!" titah Dadu tak sabaran.
"Samperin nih?" ujar Devano.
"Enggak, tinggalin!" ketus Dadu kelewat kesal. "Ya samperin lah, pake nanya!"
"Nih, air buat ajang modus. Masih di segel kok belum gue buka apalagi gue minum," kata Cakra sambil menyerahkan sebotol air mineral.
"Thanks bro!"
Devano yang hendak menata langkah mengurungkan niat ketika melihat Aufa datang sambil membawa air mineral yang sama dengannya.
"Bener-bener tai tuh si tai, gercep amat!" ujar Cakra sambil geleng-geleng kepala, antara kagum dan tak percaya.
Devano menghembuskan napasnya kasar lalu menjatuhkan kembali pantatnya ke kursi besi pinggir lapangan.
"Sante Dev, kayak di sate..." kata Dadu yang semakin membuat Devano kesal. Hari ini, ia gagal. Ia gagal menjalankan misinya untuk mendekati Reina lagi, semua itu hanya karena Aufa, karena cowok rese itulah semua ini berubah menjadi rumit.
Tbc!
Puas?
Aku nulis apa sih nggak jelas gini? Aku tau kok makin ke sini makin nggak jelas. Gimana lagi ya, soalnya mood nulis aku sekarang rendah banget nggak kayak dulu.
Salam
Sera-Seri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Revano [#1 SAVAGE SERIES]
Подростковая литератураSAVAGE SERIES x Devano Kafka Follow dulu sebelum membaca:") TIDAK ADA REVISI SAMA SEKALI. Highestrank #1 in Bencijadicinta (22/08/2019) #1 in Posesifboy (Awal September) #1 in Kenakalanremaja (17/09/2019) Percaya deh, ini cowok yang kalian eluh...
![Revano [#1 SAVAGE SERIES]](https://img.wattpad.com/cover/182085035-64-k278575.jpg)