Setelah Bab ini babnya udah urut, jadi kalian nggak usah repot-repot nyari.
====
"Malam ini kebabu, mataku mulai sayu, pikiranku melayang entah kemana. Aku terpaksa tertawa getir ketika tau fakta tentang siapa dirimu yang sebenarnya."
==========
Aufa berusaha menerobos lautan manusia yang sedang asyik berjoget di dance flour untuk pergi ke bar, dia kesana hanya untuk menemani Leon tidak untuk minum-minum seperti yang dulu sering dia lakukan.
Namun langkah Aufa terhenti, dia menangkap sosok familiar yang sedang duduk di Bar. Dia mematung melihat sosok itu dengan perasaan kecewa yang luar biasa.
Perlahan Aufa mundur, tangannya mengepal menahan amarah. Namun saat dia mundur, ada seseorang yang menepuk pundaknya. Biru dan Leon.
"Fa, gue sama Biru udah tau tentang kelakuan Stevi di belakang lo. Gue takut mau bilang ke lo kalau belum dapet bukti, karena gue tau lo nggak bakal percaya. Dan tadi waktu gue sama Biru mau Clubbing gue nggak sengaja liat Stevi sama cowok itu pergi ke sini, mangkanya gue langsung ke rumah lo buat ajak lo kesini biar lo bisa liat secara langsung. Tapi gue nggak tau kalau yang lo liat sekarang bakal lebih menyakitkan dari ekspektasi gue, gue nggak tau kalau mereka bakal ciuman Fa," tutur Leon dengan hati-hati. Aufa hendak melangkahkan kakinya menuju ke tempat Stevi dan cowok itu duduk, namun tangannya dicekal oleh Biru.
"Nggak gini caranya Fa, lo lihat aja seberapa pinter Stevi ngedrama, ikuti alurnya aja Fa," ucap Biru yang membuat Aufa menghembuskan napasnya kasar, dia melangkahkan kakinya menuju tempat privat yang dulu sering sekali dia pesan untuk melepaskan kekesalannya dan agar tidak ada yang mengganggu ketika dia ingin benar-benar sendiri. Namun kali ini dia membiarkan Biru dan Leon masuk, mungkin mereka bisa membantu meringankan beban pikiran Aufa saat ini.
Tanpa menunggu lama, Aufa langsung menyambar cocktail di hadapannya, Biru dan Leon hanya diam, mereka tak mau menjadi pelampiasan amarah sahabatnya itu.
"Siapa cowoknya?" akhirnya Aufa mulai buka suara ketika dia sudah menghabiskan beberapa gelas cocktail yang membuat tatapannya mulai sayu.
"Dia Devano, kapten basket IHS. Setelah gue cari tau, dia juga ketua Genk yang paling disegani di IHS," jawab Leon yang membuat Aufa tersenyum miring.
"Hhh..ketua genk yang paling disegani mainnya ngerebut cewek orang?" kata Aufa dengan nada merendahkan. "Kirim Undangan pertandingan Basket ke IHS kalau masalah gue sama cewek itu udah selesai," ucap Aufa sambil terus meneguk cocktail yang sekarang entah sudah gelas ke berapa. Bahkan cowok itu jijik menyebut nama Stevi, ada rasa tak percaya dalam pikirannya, cuman dalam waktu seminggu Stevi bisa berubah menjadi cewek yang sama sekali tak Aufa kenal. Mana Stevi yang lugu? Yang setiap harinya bolak-balik keluar Perpustakaan? Karena dia Aufa rela merubah kebiasaan buruknya, namun sekarang untuk apa? Bahkan cewek yang menyuruhnya berubah sekarang sudah berubah.
Sejak saat itu Aufa kembali ke kebiasaan buruknya di masa lalu, clubbing lah yang dilakukan setiap malam berangkat jam 11 malam pulang jam 4 pagi begitu dan begitu. Dan sejak dia melihat kejadian di Bar waktu itu dia enggan bertemu dengan Stevi, sekarang sudah satu Minggu berlalu setelah kejadian itu tapi dia masih tetap enggan bertemu Stevi. Bahkan sejak kejadian itu Aufa mematikan ponselnya menutup segala akses percakapan dengan Stevi.
Namun tepat di hari ke 7 setelah kejadian itu, pikiran Aufa tiba-tiba berubah. Dia menyuruh Leon dan Biru untuk mengajak Stevi pergi ke Caffe yang dulu merupakan tempat Favorit mereka berdua menghabiskan waktu.
Aufa tak habis pikir jika Stevi sepintar ini dalam bermain Drama, buktinya saat dia datang menemui Aufa dia mengenakan pakaian yang dulu sering dia pakai, polos dan tertutup tak lupa juga kacamata yang bertengger di hidungnya. Tidak seperti yang Aufa temui di bar waktu itu.
"Aufa kamu kemana aja kok seminggu ini HP kamu nggak aktif?" tanya Stevi saat dia sudah duduk di depan Aufa. Cowok itu tersenyum tipis kearah Stevi.
"Kayaknya kalau ada Tes Drama lo bakal masuk deh," ucap Aufa dan Stevi hanya menunjukan ekspresi bingung.
"Maksud kamu apa?" tanya Stevi dengan memasang wajah tak berdosa seakan dia memang tak pernah mempunyai kebusukan apa-apa.
"Udah deh Vi, emang lo nggak capek ngedrama mulu!Tunjukin aja kali sifat asli lo didepan gue," ujar Aufa yang membuat wajah Stevi semakin bingung.
"Gue udah tau gimana kelakuan lo dibelakang gue! Kenapa lo nggak minta putus ke gue kalau emang lo suka sama cowok lain? Kalau udah gini harga diri gue sebagai cowok merasa diinjek-injek Vi!" tegas Aufa yang membuat tubuh Stevi seketika menegang.
"A-Aufa! Kamu ngomong apa sih,ak--"
"Ck, harus gue perjelas? Gue udah tau lo pacaran sama Devano! Nggak cuman itu aja, gue juga tau kelakuan lo di Club waktu itu.Wahh...amazing banget ya cewek kayak lo bisa ngelakuin hal itu. Gue aja nggak percaya kalau gue pernah pacaran sama cewek munafik kayak lo!" cecar Aufa, kini muka Stevi semakin menegang.
"Gue bisa jelasin se---"
"Udahlah nggak usah diperjelas, gue udah tau dengan jelas kok, dan mungkin sekarang nggak perlu gue jelasin lo udah tau alasannya kenapa gue minta lo kesini! Tau lah ya, males gue ngejelasin panjang lebar sama cewek bermuka dua kayak lo!" ucap Aufa sambil bangkit dari duduknya, namun sebelum dia pergi tangannya dicekal oleh Stevi.
"Fa, dengerin gue kali ini aja, gue bisa jelasin semuannya," ujar Stevi sambil menunjukkan wajah polosnya yang kini sudah dibanjiri air mata.
"Udah lah Vi, wajah polosmu itu udah nggak pantes ditunjukin di depan gue! Dan perlu lo inget! Jangan pernah nunjukin wajah lo di depan gue! Jijik gue lihatnya," celetuk Aufa sambil menghempaskan tangan Stevi dengan kasar, Stevi hanya menganga mendengar ucapan kasar Aufa.
Ditengah perjalan pulang Aufa berkata. "Cepet kirim undangan pertandingan buat IHS,gue mau tau seberapa hebat dia Ngebasket."
Dan faktanya Aufa lah yang memenangkan pertandingan itu, walau saat baku hantam tak ada yang memenangkannya karna wajah mereka berdua sama-sama babak belur.
Flashback Off!
"Lo udah kirim undangannya ke IHS?" tanya Aufa di sela-sela kegiatannya meminum Wine.
"Udah, lusa pertandingannya. Dan lagi-lagi pertandingannya di IHS," jawab Biru sambil duduk di kursi tinggi dekat Aufa.
"Hhh, nggak takut kalah lagi dia," cibir Aufa.
"Fa sebenernya apa sih Alasan lo tetep dendam sama Devano, kalau masalahnya udah selesai ya udah Fa, jangan memperpanjang masalah," ucap Biru yang membuat Aufa menatap tajam kearahnya.
"Masalah gue sama dia belum selesai! Gue bakal buat dia ngerasain apa yang gue rasain waktu itu! Kehilangan orang yang paling dia sayang, sebentar lagi dia bakal ngerasain hal itu," ujar Aufa sambil tersenyum licik.
Tbc!
Devano sama Reinanya mana?😟
Chapter selanjutnya ya🙏Authornya ngerasa kepanjangan kalau dijadiin didalam satu Bab, jadi Authornya putusin buat ngasih part Devano sama Reina di Chapter Selanjutnya deh😂
Jangan marah........
Jangan lupa Vomment!Baca aja tapi nggak Vomment, sama halnya kamu tidak bisa menghargai orang lain.
Kalau yang nggak tau Vomment, Vomment itu Vote dan Comment, Vote gampang kok tinggal ketuk bintang di sisi kiri, kalau Comment tinggal Comment aja di kolom Komentar, gampang kan?
Salam
Sera-Seri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Revano [#1 SAVAGE SERIES]
Teen FictionSAVAGE SERIES x Devano Kafka Follow dulu sebelum membaca:") TIDAK ADA REVISI SAMA SEKALI. Highestrank #1 in Bencijadicinta (22/08/2019) #1 in Posesifboy (Awal September) #1 in Kenakalanremaja (17/09/2019) Percaya deh, ini cowok yang kalian eluh...
![Revano [#1 SAVAGE SERIES]](https://img.wattpad.com/cover/182085035-64-k278575.jpg)