Chapter 53 ] Papi IHS

9.5K 445 34
                                        

Aku sekarang jarang up karena sibuk buat persiapan tyout, mohon pengertiannya ya:)

Jangan lupa follow Wattpad aku, kalau cerita ini aku privat biar kalian bisa baca karena cuman followers aku aja yang bisa baca yang nggak follow otomatis ya nggak bisa baca.

Vote dan spam komen. Kalau komennya udah banyak baru aku update.

Happy reading❤

===========

"Masa lalu tak pernah luput dari kenangan, entah baik ataupun buruk namun patut untuk dikenang. Karena, masa lalu itu pelajaran yang dapat dijadikan patokan agar meraih masa depan yang cemerlang. "

=======

"Semua siswa diharap berkumpul di lapangan outdor sekarang juga, karena akan ada pengumuman pemenang Putra dan Putri IHS tahun ini, sekian terimakasih."

Suara salah satu guru dari speker sekolah itu membuat kelas Ips 3 hening untuk sesaat.

"Wah Dev... dikasih embel-embel ala Putri Indonesia lo habis ini," ucap Dadu sambil terkekeh. Sedangkan Devano masih memasang tampang bodo amat.

"Habis ini bukan Devano playboy tertampan, terhits, ter-segalanya lagi. Tapi jadi Devano sang putra sekolah yang berwibawa...." timpal Cakra yang semakin membuat Devano jengah.

"Bacod lo pada!" Devano langsung beranjak dari duduknya, berjalan dengan langkah santai menuju lapangan outdor karena Pak Didik petugas keamanan sekolah sudah berkeliling sambil meniup peluit. Mengisyaratkan semua warga sekolah agar segera berkumpul di lapangan.

"Devano, dipanggil Bu Wiji di dibawah pohon dekat mimbar," ujar Carissa, salah satu anggota Osis IHS yang tiba-tiba datang menghampiri Devano.

"Sekarang?" tanya Devano.

"Iya, katanya--"

"Otw," potong Devano sambil berlalu pergi meninggalkan Carissa yang tengah mematung di tempatnya.

Di sepanjang perjalanan, Devano terus menjadi pusat perhatian adik kelas, anak  satu angkatan, bahkan kakak kelas sekalipun. Bagaimana tidak jika cowok itu berjalan santai di tengah lapangan dengan penampilan yang bisa dibilang acak-acakan.

Rambut berantakan, seragam yang tidak dikancing dan keluar dari celana, belum lagi dasi yang seharusnya menggantung di leher sekarang hilang entah kemana. Ada yang menatap Devano dengan tatapan jengah, dan ada juga yang menatap dengan tatapan mendamba.

Devano tidak pernah peduli akan hal itu, baginya ketertiban sekolah tak seharusnya selalu dijalankan. Kalau menurutnya hal itu bertolak belakang dengan keinginannya, maka dia tidak akan melakukannya walau dengan paksaan sekalipun, kecuali-

"Devano! Lo gila ya!" cerca Reina saat Devano baru saja sampai di pohon dekat mimbar yang menghadap langsung kearah semua warga sekolah yang sedang berbaris di tengah lapangan.

Devano tak menghiraukan Reina, tatapannya justru mengedar mencari keberadaan Bu Wiji.

"Dev! Lo dengerin gue nggak sih?!" cicit Reina kesal, Devano langsung menoleh kearah Reina. Tatapannya fokus kearah raut wajah kesal cewek itu.

"Apasih sayang?" ucap Devano yang langsung dihadiahi tatapan tajam oleh Reina.

"Lo gila ya! Udah tau mau maju ke depan malah berantakan kayak gini. Lo itu mau dilantik jadi Putra Sekolah, bukan preman pasar sebelah!" tutur Reina sambil geleng-geleng kepala ketika mengamati Devano dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Revano [#1 SAVAGE SERIES]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang