34: Bobby and Rocky

40 4 0
                                        

Sinta memandang ponsel di tangannya. Milik Frans. Dia lupa telah memasukkan ponsel itu ke kantongnya setelah menelpon Teresa.
Dan ponsel itu mati. Tapi dia akan mengembalikannya. Hanya saja dia tidak tahu dimana Frans tinggal. Sesungguhnya gadis itu juga ingin tahu keadaannya.

"Bayu!"
Bayu menoleh dan tersenyum licik saat melihat Sinta.
"Mimpi apa aku semalam sampai si cantik ini memanggilku. Kau perlu sesuatu?"tanyanya.
" Ya. Aku butuh bantuanmu."
Senyum di wajah Bayu makin lebar.
" Katakan sayangku. Aku pasti membantumu."
"Aku ingin tahu di mana Frans Bahtiar tinggal." tukas Sinta dengan tenang. Para berandalan ini pasti punya koneksi satu sama lain.
Wajah Bayu berubah serius dan tampak kaget.
"Kenapa kau ingin tahu?"
" Bukan urusanmu. Katakan saja dimana."
"Kau tahu Bobby anak kelas 3 IPS? sebaiknya kau tanya dia saja."
"Oke. Thanks."

Cukup mudah menemukan Bobby. Dia sedang merokok di parkiran bersama gengnya. Tempat yang paling aman untuk melakukannya. Semua orang tahu itu.
" Aku mencari Bobby."ucap Sinta.
Seorang cowok berdiri.
" Apa maumu? Aku Bobby." jawabnya dengan angkuh.
" Kau tahu dimana Frans Bahtiar tinggal?" Bobby memandang Sinta dengan curiga.
" Aku tidak tahu. Pergi dari sini."
" Antar aku ke rumahnya...ponselnya ada padaku. Dua hari lalu dia tertembak...."
Bobby tampak terkejut. Darimana gadis ini tahu. Jangan jangan....

"Seorang gadis bersamanya saat Frans tertembak..."

"Aku ingin mengembalikan ponselnya."
" Oke. Sepulang sekolah aku akan mengantarmu ke sana."

Sinta membuka pintu mobil Bobby dan memandang pintu pagar tinggi di depannya.
"Kau masuk saja. Aku ada urusan. Nah....sampai jumpa."
Sinta memegang keranjang buah yang dibawanya dan berjalan mendekati interkom yang ada di pintu pagar.
"Aku ingin bertemu Frans. Namaku Sinta."
Pintu pagar itu terbuka otomatis dan seorang sekuriti berdiri di baliknya.
" Lewat sini, Nona." Sinta mengikuti nya memasuki sebuah rumah besar nan mewah. Mobil mobil mewah berderet di garasinya.
" Silahkan duduk. Aku akan memanggil Nyonya Teresa."
Sinta duduk di sofa kulit itu dengan tenang. Rumah ini sepi sekali. Tidak ada tanda tanda penghuninya.
Sinta menoleh saat seekor anjing pitbull besar menyalak dengan pandangan mengancam ke arahnya.
"Hai buddy...kemari."
Sepupunya juga punya anjing seperti itu. Mereka memang terlihat garang. Tapi sesungguhnya mereka lucu dan suka dimanja. Anjing itu bergerak pelan mendekati Sinta dan mengamatinya sejenak sebelum meletakkan kepalanya di pangkuan Sinta.
" Anak baik...siapa namamu sobat?" tanya Sinta sambil membelai kepalanya.
" Namanya Rocky..." terdengar sebuah suara.

Teresa Bahtiar berdiri di ujung tangga dan memandang gadis yang tengah duduk bersama Rocky. Dia merasa heran. Biasanya anjing itu akan menyerang orang asing yang datang berkunjung. Tapi tidak dengan gadis mungil ini. Rocky sekarang malah bergelung di dekat kaki Sinta seperti sebuah karpet bulu.

"Hallo ...kau gadis yang bersama Frans bukan?"
Sinta mengangguk, "Aku ingin tahu keadaannya dan mengembalikan ponsel Frans. Aku tak sengaja membawanya....maafkan aku."
" Oh tidak apa apa. Dan siapa namamu?"
"Sinta."
" Aku terburu buru saat itu....terimakasih sekali lagi. Kau ingin bertemu Frans bukan?"
Sinta mengangguk," Ku harap dia baik baik saja."
"Dua peluru mengenai lengannya...bukan yang pertama....kau pasti tahu reputasinya...apa yang bisa ku katakan..."
Sinta merasa salah tingkah. Ide menengok Frans tampaknya bukan ide bagus. Seharusnya dia menitipkan ponsel itu pada Bobby.
"Orang kadang mengatakan yang mereka sukai saat kenyataan tak sesuai ekspektasi mereka."
Teresa tampak tidak menduga ucapan Sinta barusan. Dia terdengar membela Frans. Terdengar agak aneh.
"Ayo...Frans ada di kamarnya. Dokter bilang dia tak boleh banyak bergerak."
Sinta bangkit dan mengikuti langkah Teresa.

"Dia memaksaku, bos. Apa yang harus kulakukan? Kecantikannya membuatku terintimidasi."
"Dan kau membawanya ke rumahku?"Frans bertanya dengan gusar. Dia dapat mendengar tarikan nafas Bobby di seberang telpon.
"Sudah ku bilang aku terpaksa. Pasti Kak Teresa sudah menemuinya. Sinta membawakanmu satu keranjang besar buah buahan."
" Infomu tidak penting." Frans mendesis pelan dan mematikan ponselnya saat Teresa muncul di depan pintu.

"Sinta datang menengokmu..." ucapnya sambil membuka pintu kamar lebih lebar.
"Hallo...bagaimana keadaanmu?"
"Aku baik seperti yang kau lihat. Never better."
"Sinta membawakan ponsel lamamu dan buah buahan ini. Kau ingin makan sesuatu?"
Frans menggeleng pelan.
" Baiklah...aku akan mengambilkan Sinta minum...kalian berbincang saja. Oke?"

" Guk!!"Rocky menyalak satu kali di depan pintu.
" Hei buddy. Kemari..."
Rocky berjalan mendekati tempat tidur Frans dan memandang Sinta yang duduk di depannya.
" Apakah dia anjingmu?Dia manis sekali...aku suka. Kemari Rocky...good boy..."
Manis tampaknya bukan kata yang tepat untuk Rocky. Dia galak dan sangar. Baru kali ini ada yang menganggapnya manis. Aneh sekali.

Kekasih Untuk RaniyaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang